Prolog
“Je, aku lolos summit ke Malaysia. Kamu nggak mau nyusul aku? Cari promo tiket?” Aku mengirim satu chat yang kutahu membuat Jessy gelagapan waktu itu.
Kami memang berencana untuk traveling ke luar negeri, at least di Asean lah, tapi tidak untuk bulan November. Kami merencanakannya bulan Januari atau Februari setelah semua tugas akhir kami selesai dan uang tabungan kami mencukupi. Tapi memang dasar aku tipikal orang yang terbuka pada peluang, jadi…kalau bukan sekarang kapan lagi?
Aku memborbardir Jessy dengan screencapt promo ticket salah satu maskapai yang bisa menerbangkan semua orang. Siapa tahu Jessy sepakat denganku. Dan senyum terkembang setelah responnya positif,
“Wah boleh boleh, kira-kira aku menyusulmu tanggal berapa?”
Jujur kami belum punya dana sebanyak itu setidaknya sekitar satu juta untuk booking pesawat, hotel, dan uang saku. Jadi…ini sudah bulan September dan apa yang harus kami lakukan? Kami nekat, insyaAllah ada jalan. Toh niat kami traveling baik…agar lebih bisa bersyukur. Agar lebih bisa berlapang dada. Agar lebih bisa melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang (menyikapi perasaan kami contohnya). Kami yakin traveling salah satu caranya. Cara melupakan? Entahlah, setidaknya cara mem-bijak-kan…semoga.
Untungnya, maskapai itu sedang ada promo. Jessy mendapat tiket senilai 240ribu untuk berangkat. Kami sempat menunda membelinya, sampai tabungan kami bertambah, sedikit. Ya, sedikit. Tinggal tersisa 2 seat waktu itu, dan kami hanya menyisakan 1 seat untuk yang lain (aku tidak membeli tiket berangkat karena kebetulan semua akomodasi selama Summit disana ditanggung oleh panitia).
Sesudah tiket terbeli, kami masih tidak percaya. Kami benar-benar akan traveling ke negeri orang? Serius? Ini mimpi, akhirnya nggak hanya sekedar mimpi? Kami betulan mau traveling ke Malaysia?
Allah selalu punya cara untuk mengabulkan doa hambaNya, selagi hamba tersebut berusaha. Dan setelah ini, kami akan berusaha…mencari uang saku tambahan untuk pergi ke Malaysia. Malu dong kalau minta orangtua! Malu dong mau senang-senang tapi ngerepotin! Meskipun, orangtuaku juga nggak akan tinggal diam agar anaknya tidak keleleran di negeri orang, tapi TIDAK! Aku nggak akan minta kalau nggak dikasih. Ini prinsip!
Hari itu, aku nggak bisa tidur.












