Mungkin pernah didengar, tapi akan ku ulang..
Dan jadikan sudut pandangmu wanita ini.
Seorang wanita datang mengadu pada gurunya..
Dia katakan pada suatu tempat, hijrah seorang lk bersama istrinya mengemban amanah dakwah disana... Tempat dimana begitu awam dan nol agama.. Mereka berdua saling membahu padu mensyiarkan agama islam..
Sampai datang seorang perempuan bersimpuh penuh lesu ia katakan pada si istri, dan berkata
"Aku ingin masuk islam"
"Baik alhamdulillah.. "
"Tapi aku tak bisa dijalan ini kecuali ada seorang penuntun"
"InshaAllah.. Kamu tidak sendiri.. Aku dan muslimah lainnya siap menemani.. "
Sampai sini mungkin akan riuh pikiran kita.. Bagaimana wanita yg awam itu menimpali..
"Tidak, bukan itu maksudku.. "
"Aku menginginkan seorang imam.. Dan itu, Suamimu.. "
Sampai sini apakah kita faham
Terdengar menyayatkan bukan.
Tapi jika yg meraba rasa adalah keimanan.. Apa jawaban dia
Lantas wanita yg menceritakan kisah ini ditanya oleh sang guru
"Apakah istri tersebut adalah dirimu.. Dan laki² itu suamimu ! "
Naasnya bagi kita, kini wanita itu hanya terdiam, terisyarat kata "ya yg kelu di lidahnya
"Engkau menikahinya karna cinta atau karna syariat ALLAH"
Pandang dirimu sebagai wanita itu dan pikirkan apa yg menjadi jawabanmu
"Aku bukan Ummahatul Mu'minin"
Isaknya..
"Dan memang suamimu bukan Khulafaur Rosyidin"
Sampai sini jangan berkelit sudah dengan peran wanita itu, sebab mungkin kita akan cepat berkata "Aku tidak bisa ! " Di detik pertemuanmu dengan wanita lemah itu.. Tanpa lagi kita ingin tau jawaban iman..
Sulit rasanya jika dipertemukan dengan kisah semisal ini.. Namun jika kita kembalikan kepada iman.. Pada siapa kita dipertemukan.. InshaAllah disana ada pertolongan ALLAH atas segala keresahan dan kesulitan
Sebab kufu' pasti memiliki titik temu dan tumpu yang sama
fatimaputeri || 10.00 WIB / 121022 #kisah





















