(Sebuah potensi kemanusiaan)
Sebagai perempuan yang di anugerahi hati yang besar, menjadikan kita sebagai makhluk yang dominan dipengaruhi perasaan. Mudah sekali berbicara dan melakukan berdasarkan perasaan dan hati. Penuh kasih sayang, sensitif. I think kata yang mudah dipahami untuk mewakili perempuan adalah baper, Always membawa perasaannya dalam kehidupan.
Berbeda dengan laki-laki yang di anugerahi berpikir logis dalam melakukan sesuatu. Laki-laki menjadi lebih mudah tidak sungkan, tidak mudah tersinggung. Kadang menjadi kurang peka. But ya laki-laki melakukan sesuatu berdasarkan pikiran dia yang logis.
Sebenarnya tentang perasaan dan berpikir logis adalah dua hal keutamaan pada manusia tanpa terkecuali. Hanya kadang kadarnya yang berbeda.
Mengenai perasaan dan pikiran logis ini termasuk proses jiwa. Bukan fisik yang dilakukan oleh organ manusia, bukan seperti mencerna nutrisi secara biologis. Ya.. perasaan dan berpikir logis adalah aspek psikologis pada manusia.
Oleh kedua hal tersebut manusia bisa hina dan tidak beruntung atau sebaliknya, akan menjadi manusia yang mulia. Lalu bagaimana hal-hal tersebut bisa terjadi pada manusia ?
Pertama tentang potensi manusia menjadi hina apabila ia dalam berperasa terlalu berlebihan. Kadang bahkan mungkin sering respon tidak senang dari oranglain terlalu diambil alih oleh perasaan, hati kita merasa tidak enak, sakit, berkecamuk. Lalu pikiran kita tidak berpikir rasional. Ia terlalu mengikuti alur perasaan. Akibatnya manusia akan berperilaku marah, insecure, dan benci.
Bukan berarti perasaan tidak bermanfaat pada manusia, perasaan juga menghadirkan respon bahagia, kasih sayang dan cinta. Tidak juga dengan ketiga hal positif tersebut menjadikan kita tidak hina. Apabila kita terlalu cinta merasakan kasmaran yang tidak rasional, mungkin bolehlah ya bisa dibilang budak cinta. Melakukan segala hal untuk objek cinta tapi entah apa dia peduli/cinta dengan dirinya sendiri ?.
Perasaan ini ibarat kuda yang ditunggangi manusia. Apa kita akan takhluk oleh kuda atau mengendalikannya. Jika kamu tahu tujuan hidupmu apa, pasti kamu akan mengendalikan kuda untuk mencapai tujuan itu. Setuju ?
Maka perasaan ini haruslah kita pahami, bahwa ia punya tempatnya sendiri, bijaksana dalam menggunakan perasaan. Kita harus tahu kapan harus meluapkan perasaan atau menekan perasaan (tidak berlebihan dalam mengikuti perasaan).
Bagaimana mengendalikan perasaan ? Dengan berpikir rasional jawabnya. Berpikir rasional ini adalah berpikir dengan kebenaran hakekat sesungguhnya. Saat seseorang memberikan coklat kepadamu lantas perasaanmu bahagia, berpikir bahwa dia menaruh perasaan spesial kepadamu. Tidak salah berpikir seperti itu, kadang itulah respon tercepat yang dipahami. Namun kita harus mengkonfirmasi dugaan perasaan itu. Apakah benar ? Kita harus berpikir keras bagaimana proses perilaku seseorang tersebut hingga memberikan coklat kepada kita. Bahkan jika hal tersebut tidak menjawab maka bertanya langsung adalah obatnya. Obat untuk mengendalikan perasaan yang belum tentu rasional. Para filosof muslim berpendapat bahwa perasaan tempatnya dihati sedangkan berpikit rasional tempatnya di otak. Jadi hati dan otak perlu bekerja sama dengan baik untuk membedakan mana yang baik/benar dan mana yang buruk/salah.
Jadi, ketika memahami segala sesuatu didunia ini perlu teamwork dari pikiran dan perasaan. Mengambil keputusan secara bijaksana karena mempertimbangkan perasaan/moral dan oleh pertimbangan pikiran yang logis/kebenaran. Hal tersebut adalah potensi kemanusiaan, sebagai ikhtiar manusia untuk dapat berperilaku bijaksana.