Aku mau dan butuh disayang-sayang.
Aku butuh tau bahwa aku diprioritaskan, bahwa di setiap kesibukan dan jalan hidup seseorang dia selalu mengusahakan untuk melibatkan aku, dan memastikan aku selalu mendapat berita terbaru akan dirinya.
Padahal, aku belum bisa juga menjanjikan masa depan untuk orang tersebut.
Padahal, ini adalah masalahku sendiri, bukan masalahnya, bukan juga tugasnya untuk menyembuhkanku, menyelesaikan dan mencarikan jalan keluar, apalagi memastikan bahwa aku utuh.
Aku terlahir dari keluarga yang utuh dan hangat. Mengapa aku merasa sekosong itu?
Kembali berbicara dan memeluk aku kecil, aku sadar aku jarang sekali diapresiasi.
Aku sadar aku jarang sekali mendapat afeksi nyata bahwa sayang or "deserve to be love" itu diucapkan atau bahkan diberikan dalam bentuk gesture pelukan.
Selama ini, orang tuaku menyampaikan bahasa cintanya dengan memastikan aku mendapatkan yang sebaik-baiknya, meski keuangan kami tidak dalam keadaan yang semestinya bisa.
Mereka memastikan aku dalam keadaan baik, mendapatkan yang terbaik, dan tumbuh dengan baik.
Tetapi, tidak sepenuhnya semua salah mereka.
Aku memiliki trauma pertemanan yang bagiku cukup hebat.
Aku sulit memiliki teman, dianggap sebagai teman, karena mungkin aku sendiri yang menyebalkan, aku sendiri yang racun.
Aku sering kali diabaikan dan ditinggalkan, ataupun terpinggirkan.
Bahkan, ada kalanya aku mendapat perlakuan iseng yang menurutku tidak lucu sama sekali.
Aku menjadi sangat membenci masa sekolah. Padahal itu adalah masa di mana prestasiku sangat bisa dibanggakan, tentu tanpa pernah ada ucapan membesar-besarkan dari orang tuaku.
Setiap kali aku mencoba berteman, aku selalu memikirkan bagaimana nanti mereka meninggalkanku, berapa lama mereka akan meninggalkanku, dan apakah mereka benar-benar ingin berteman denganku atau hanya ada maunya saja.
Hal ini memperburuk hubunganku dengan lawan jenis.
Aku seringkali mempertanyakan apakah aku penting atau tidak untuknya.
Aku seringkali meragukan apakah mereka benar-benar sayang denganku.
Dan seringkali was-was akan ditinggalkan ketika pesanku lama tak terbalas, terutama jika aku tidak tau apa yang sedang mereka lakukan.
Seringkali berpikir berlebihan, saat mereka tidak lagi menceritakan rinci kegiatan dari kehidupannya.
Padahal seharusnya aku tau, tidak semua manusia seperti aku.
Hal tersebut semakin memperburuk keadaan hidupku, saat aku merasa bahwa menemukan jodoh yang tepat untukku dan juga direstui oleh keluargaku, begitu memusingkan kepalaku.
Aku selalu menggantungkan komitmen. Juga meragukan banyaknya pengorbanan yang mereka lakukan. Padahal, cara manusia mengungkapkan cintanya bentuknya beda-beda.
Mungkin benar, sebenarnya Tuhan hanya sedang menyelamatkan mereka dari aku si pemegang bendera merah.
Tapi mungkin juga benar, bahwa aku belum seutuhnya dicintai dengan bahasa cintaku, dengan apa yang sejatinya dibutuhkan oleh jiwa kosongku.
Aku mudah sekali terikat dan terkait, dan akan mudah memaksa diri untuk melepaskan jika diabaikan terus-menerus.
Aku pikir aku sakit sangat parah karena aku menyakiti orang lain dengan sebegitu hebatnya.
Aku juga tidak mengerti, sebenar-benarnya apa yang aku butuhkan.
Aku juga tidak mengerti, apa yang seharusnya aku mau dan minta.
Mungkin aku membaik dengan hubungan lekat erat fisik 24/7? Belum tentu juga, sepertinya.
Hanya saja aku seringkali diingatkan oleh semesta, bahwa menjadi utuh bukan tugas orang lain.
Memenuhi hasrat ingin dicinta dan disayang, juga tugas diri sendiri-mandiri, bukan meminta dari orang luar meski itu adalah pasangan.
Menjadi dewasa membuatku sering sakit kepala. Terlalu banyak kosong di dalam diriku yang berusaha aku tutupi dengan penuh kepura-puraan.
Tapi sepertinya, tidak apa untuk tidak berpasangan jika akan terus menyakitiku juga orang-orang yang aku kasihi.