Aku tahu aku sudah bilang ini ke diriku sendiri entah untuk keberapa kalinya. Tapi setelah mengingat-ingatmu lagi… kali ini aku benar-benar yakin: ini adalah tulisan terakhirku tentang kamu.
Kita nggak pernah benar-benar ngobrol lagi sejak awal tahun, sejak semuanya berubah jadi asing. Tapi anehnya, sampai sekarang masih ada sudut kecil di pikiranku—dan kadang di tindakanku—yang masih nyangkut. Di kamu.
Sudah lima bulan tanpa kontak berarti. Bahkan nonton story-mu pun nggak, oh iya lupa kan kamu yang remove follower dariku. Tapi tetap saja, setiap kali aku lihat nama yang sama denganmu muncul, aku refleks terlempar ke masa lalu—ke hari itu, saat kamu pakai kemeja putih di pertemuan pertama kita, ke janjimu yang bilang akan ngajarin aku nyetir kalau weekend-mu kosong, ke senyummu yang malu-malu tapi hangatnya nyata.
Aku masih saja suka ngebatalin rencana sendiri, seolah-olah kamu bakal muncul lagi tiba-tiba, ngajak ngopi santai dan update kehidupan seolah nggak ada yang berubah.
Awalnya aku marah waktu kamu pergi gitu aja, tanpa kata pamit, tanpa penjelasan. Rasanya kayak ditinggal pas lagi berbunga-bunganya. Tapi semakin lama kupikir, semakin aku sadar: mungkin itu caramu menyelamatkanku. Karena kamu tahu, aku nggak akan pernah punya cukup keberanian buat bilang “cukup” duluan.
Melepaskan sepenuhnya itu memang sakit, tapi ternyata perlu. Apalagi setelah kita berkali-kali pura-pura sepakat jadi “teman aja”, padahal kita sendiri nggak ngerti apa yang sebenarnya kita rasakan. Tatapan jadi dingin, punggung saling menjauh, dan chat yang dulunya pakai stiker hati sekarang pelan-pelan menghilang. Kamu yang dulu selalu ada di notifikasi teratas, sekarang tenggelam jauh ke bawah.
Titik baliknya datang kemarin.
Aku buka WhatsApp lamaku. Masuk ke grup yang dulu kamu ajak aku masuk. Dan kulihat notifikasi: kamu ganti nomor. Kalau dulu, aku pasti langsung cari alasan buat nge-chat. Iseng, basa-basi, apa pun. Sekadar nanya kabar, atau berharap kamu masih mau buatku tertawa.
Tapi kemarin, aku tutup saja halaman chat itu. Dan buatku, itu bukan hal kecil.
Kamu dulu yang selalu cari aku duluan. Yang selalu dukung rencana-rencanaku. Yang selalu tahu harus bilang apa saat aku nyaris menyerah. Tapi sekarang… kamu bukan lagi orang itu. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa menarik napas panjang tanpa sesak. Aku memilih untuk nggak menyapa. Nggak menanyakan kabar. Dan ternyata, aku baik-baik saja.
Tapi tetap saja, kenangan tentangmu berputar lagi saat aku pelan-pelan menutup WhatsApp. Entah kenapa, aku merasa... ini benar-benar akhir dari kisah kita. Dan kalau memang iya, aku sudah siap.
Karena kemarin, akhirnya aku lulus dari ujian yang selalu gagal kulalui. Untuk pertama kalinya, aku tidak memilihmu. Aku memilih diriku sendiri.
Kalau saja hari itu adalah interaksi terakhir kita, jujur… ada sedikit kecewa arena kamu meninggalkan semuanya tanpa closure. Tapi kalau senyum terakhirmu waktu kita ketemu itu memang tulus, aku bersyukur. Dan semoga senyumku juga cukup jadi penanda: aku sudah tidak menyimpan apa-apa, selain doa yang baik.
Mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, saat luka-luka ini sudah sembuh dan hati sudah selesai tumbuh. Tapi kalaupun tidak… nggak apa-apa.
Yang penting aku ingin bilang: terima kasih sudah pernah hadir—meski sebentar. Dan maaf, karena dulu aku sempat membencimu. Sempat menjadikanmu tokoh antagonis dalam cerita yang kutulis sendiri.
Dulu aku kira kisah kita bikin kamu jadi orang jahat. Tapi sekarang aku tahu, aku cuma sedang bingung mencari akhir dari sesuatu yang mungkin, sejak awal, memang tidak dimaksudkan untuk bersama.
Kamu tidak salah. Kita hanya... nggak cocok. Itu saja :)
Ini akan jadi tulisan terakhirku tentang kamu. Dan terakhir kalinya kamu mendengar tentang aku. Dengan cara terbaik, aku harap kita tidak bertemu dulu… sampai kita memang siap bertemu lagi.