#review3: Minim Digital Footprint & Filosofi “hudstuff” [Podcast: Subjective-5 Checklist Penting untuk Menutup Akhir Tahun 2018]
Terinspirasi dari podcastnya bang @iqbalhape (penulis: @academicus). Subjective-5 Checklist Penting untuk Menutup Akhir Tahun yang saya dengerin pas diperjalanan sepulang dari kampus sekitar tiga bulan yang lalu. 5-Checklist penting untuk menutup akhir tahun versi nya bang iqbal ini bagus banget dan saya juga ngerasa kalo ini penting buat dilakukan. Meskipun kalo muslim timeline nya itu adalah tahun hijriah, tapi ambil hikmahnya aja. Jadi 5 checklist ini isinya adalah:
Buat evaluasi performance maksimal dibulan ketiga sebelum akhir tahun
Cek progress resolusi tahun ini
Cek apa yang perlu di stop/start/continue
Cek kebiasaan selama setahun terakhir
Cek jaringan dan orang-orang yang sering kita habiskan waktu bersama
Loh kok ada enam? Aku juga baru nyadar, tapi dijudulnya 5-checklist kok bener, saya gak mau rubah judul podcastnya. Dari ke enam poin diatas, menurut saya core value nya ada di poin tiga, yaitu cek apa yang perlu di stop/start/continue. Menurut saya ini bisa ngecover poin sisanya.
First STOP, evaluasi apa aja kebiasaan buruk yang harus stop karena banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya. Kebiasaan itu cakupannya luas kebiasan bangun tidur, kebiasaan tidur, kebiasaan mandi, baca, bergaul, update status, cara menyampaikan sesuatu, cara jalan, dan lain sebagainya, menurut saya semua hal yang bentuknya kebiasaan harus di evaluasi. Jika itu cenderung menuju keburuk itu harus distop.
Setelah evaluasi diri sendiri coba evalusi juga lingkungan disekitar, cek network kita. Evaluasi orang-orang yang sering kita habiskan waktu dengannya. Apakah dengan orang-orang tersebut membawa dampak baik atau malah membuat kita mengarah ke buruk, kalo kita malah kebawa jadi buruk itu juga harus distop.
Itu di dunia nyata, cek juga network di social media “digital footprint”. Siapa orang-orang yang kita follow apa manfaat atau keburukan yang kita dapet dari follow akun itu. Kalo bawa hal yang buruk itu harus di unfollow. Cek juga feed & Story nya apakah kita bawa pengaruh positif atau negative buat followers kita. Followers juga amanah, mereka mengkosumsi sesuatu yang kita produksi. Apa yang kita sebarkan ke orang juga perlu di evaluasi. Karena setiap byte kuota yang habis akan dihisab. Allahu’alam ya silahkan tanya ke ustad detail terkait ini, ampuni saya ya Allah jika salah, masih kurang ilmu.
Nah saya agak kesulitan buat melakukan track digital footprint saya, karena saya sangat jarang posting di social media. Tahun 2018 saya cuma post tiga postingan di instagram & facebook. Apalagi tahun-tahun sebelumnya hanya ada satu atau dua postingan aja. Apa yang bisa di evaluasi kalo datanya kurang? Apakah harus stop posting sama sekali? Haha.
Next CONTINUE, ini step untuk ngelajutin dan ningkatin kualitas dan frekuensi semua kebiasaan-kebiasan baik yang udah dijalani. Kalo kata bukunya ustadz Felix “How to Master Your Habits”, supaya bisa konsisten dengan habits yang baik, minimal perlu 30 hari supaya bisa istiqomah.
Buku itu juga ngejelasin gimana terbentuknya “muscle memory”, dimana anggota tubuh kita punya muscle memori yang bisa dilatih melakukan sesuatu tanpa disadari. Defaultnya manusia punya otot sadar dan otot tak sadar. Sebenernya ada satu lagi yang bisa kita latih yang tadinya otot sadar jadi tak sadar yang bermanfaat.
Sederhananya gini, pernah gak kita ngerasa capek gara-gara mata kita gak berhenti berkedip? Atau karena jantung kita terus-terusan berdetak? Atau paru-paru yang menarik dan mengeluarkan udara? Saya yakin gak pernah, itu yang namanya otot tak sadar. Beda dengan misalanya dengan jalan kaki atau lari pas olahraga, normalnya kita akan ngerasa capek dan keringetan setelah olahraga, satu yang ini disebut otot sadar.
Ada satu lagi yang bisa kita latih melalui habit, misalnya seseorang yang terbiasa naik lift akan sangat kelelahan saat dia harus naik turun tangga dari lantai 5 sebuah gedung. Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa naik tangga, rasa lelahnya pasti jauh lebih sedikit karena dia sudah punya yang dinamakan “muscle memory”. Contoh realnya yang kerasa itu puasa ramadhan, saya yakin hari ke-10 puasa itu jauh lebih ringan dari pada puasa hari ke-1. Intinya kita akan lebih merasa ringan melakukan kebaikan-kebaikan kalo kebaikan itu udah jadi habits yang dilakukan oleh otot yang sadar yang sudah dilatih jadi semi tidak sadar, yang melekat di tubuh kita.
Bakal seneng pisan kalo misalnya badan kita otomatis kebangun dan ambil air wudhu, lalu sholat disetiap sepertiga malam. Udah gak kerasa laper lagi setiap siang hari senin dan kamis. Mata udah gak ngantuk lagi buat menghabiskan waktu baca berlembar-lembar mushaf Al-Qur’an. Intinya yuk lanjutin usaha-usaha kita berbuat baik sampai menjadi habits.
Terakhir START, mulai kegiatan yang sebelumnya belum dilakukan dan perlu dilakukan. Setelah kita evaluasi sesuatu yang harus distop, perlu kita merancang kegiatan yang harus kita mulai. Misalnya saya tahun lalu gak pernah nulis apa yang saya dengar, baca, dan rasa akibatnya saya lupa dan susah kalo mau dievaluasi. Meskipun saya yakin kalo saya banyak berubah dari tahun ke tahun. Tapi lebih enak kalo ada bukti konkretnya. Coba cek di postingan #review1 tentang problem solving skill, biar kegambar gimana caranya membuat kegiatan baru sebagai solusi yang akan kita mulai berdasarkan akar masalahnya.
InsyaAllah tahun ini saya akan mulai kebiasaan baru menulis, supaya gak cepet lupa, menajamkan akal, dan mempermudah muhasabah. Ya Allah bantu hamba untuk istiqomah.
Aksi nyatanya, saya udah tulis tiga (sama ini) postingan di tumblr baru ini “hudstuff” semoga ada manfaat yang bisa saya dan pembaca yang bisa ambil dari saya yang mencoba belajar menulis, tolong bimbing hamba ya Allah. Seperti deskripsinya read, listen, feel + review, oke saya akan coba lakukan itu dulu.
Oh ya nama “hudstuff” juga perlu filosofi, biar ada track yang jelas karena saya juga gak mau kalo saya nulis cuma buat curhat doang. Jadi terinspirasi dari kisah burung hud di lecture nya ustadz Nouman, yang judulnya Belajar Rendah Hati.
“Dan dia memeriksa burung-burung itu lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud apakah ia termasuk orang yang tidak hadir?” (QS.27:20)
Jadi kisahnya suatu saat Nabi Sulaiman mengumpulkan semua pasukannya dan beliau gak melihat hud-hud. Masyaallah keren ya, padahal cuma satu burung doang yang gak hadir diantara sebegitu banyak pasukannya Nabi Sulaiman dari golongan manusia, jin, dan binatang. Tapi karena beliau pemimpin, beliau tetap bertanggung jawab atas segala sesuatu yang beliau pimpin. Padahal kalo kuliah yang mahasiswanya kurang dari seratus orang, masih aja bisa titip absen tanpa dosennya tau. Hikmah lainnya adalah tentang kedisiplinan, kalo kita perhatikan sepintas kemana ya hud-hud kok bisa sampai telat kumpul.
“Tidak ada organisasi yang lebih kuat dari militer, maka kita perlu memiliki cara mendisiplinkan pegawai seperti dalam militer.” –Nouman Ali Khan
Kedisiplinan militer harus sangat kuat, karena kalo sudah sampai di medan perang terus satu prajurit telat dua detik aja nyawa bisa melayang dan itu bisa menyebabkan kekalahan dalam perang. That’s why Nabi Sulaiman marah.
“Pasti akan kuhukum ia hukuman yang berat atau kusembelih ia, atau dia datang padaku dengan alasan yang jelas.” (QS.27:21)
Dan tiba-tiba hud hud pun datang.
“Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.” (QS. 27:22)
Jadi hud hud itu telat karena dia membawa suatu informasi penting yang bermanfaat untuk Nabi Sulaiman (read:Islam). Setelah hud hud datang, hud hud menjelaskan alasan dia bisa sampai terlambat, yaitu karena mencari informasi. Karena itu hud hud tidak jadi mendapatkan hukuman dari Nabi Sulaiman. Karena keterlambatannya memiliki alasan yang penting.
Dari cerita itu saya sadar jika saya masih termasuk orang-orang yang terlambat dan pantas dihukum. Banyak perintahNya yang belum saya kerjakan atau ada perintahNya yang saya kerjakan namun masih penuh dengan kecacatan. Tapi semoga dengan keterlambatan itu saya bisa membawa sesuatu untuk kemajuan Islam. Jika hud hud seekor burung aja bisa berkontribusi memberikan informasi yang penting dan bermanfaat, kenapa saya tidak bisa plok,plok,plok. Semoga dengan blog ini saya bisa menjadi hud hud untuk kemajuan Islam. Aamiin.
Sumber gambar: canva (bukan gambar burung hudhud)