Huis Bezoek
“Aku tak ingin menjadi sempurna, sebab itu membuatku lupa. Kesalahan yang membuatku selalu belajar,” sebuah pemikiran baru yang terbesit usai berkunjung ke rumah Prof. Sri Hartini KS Kariadi, anggota Corpus Studiosorum Bandungense (CSB) angkatan 1959. Beliau merupakan salah seorang seniorku di organisasi mahasiswa tertua di Asia Tenggara tersebut.
Kamis siang (21/4/2016), pukul 11.00 GMT+7. Aku menyambangi kediaman beliau di bilangan Diponegoro, Bandung. Pertemuan yang aku kira hanya berlangsung sekitar tiga puluh menit, ternyata tanpa disadari bertambah hingga tiga kali lipat.
Siang itu, beliau membuka percakapan pertama tentang hari Kartini. “Apa kamu tahu hari ini hari apa?” katanya.
“Kamis, Prof,”
“Iya betul, tapi maksudnya ada peristiwa apa?”
“Peringatan hari Kartini,” pungkasku.
Sejurus kemudian, beliau lantas bercerita tentang Kartini dan alasan kenapa Indonesia menjadikannya pahlawan nasional perempuan—di samping sederetan nama pahlawan perempuan lainnya yang juga tak kalah berjasa di Nusantara.
Dari Kartini, obrolan itu pun melebar ke ilustrasi etika dan moralitas generasi muda yang menurutnya kian bobrok dan mengesampingkan norma serta aturan dalam bermasyarakat, lalu setelah itu baru bergeser ke topik inti mengenai buku yang beliau tulis untuk dipercantik.
“Aha! ini hari baik bagiku. Senang bisa bertemu dan berbicang lagi dengan Anda, prof. Ternyata 1,5 jam itu waktu yang sebentar,” tutupku sebelum meninggalkan kediaman beliau, lalu kembali mengendara di tengah jalanan Bandung yang padat.
THE END















