Kuchiki Byakuya seeing how many followers he has when opining his instagram account...

seen from United States
seen from China
seen from Argentina
seen from Yemen
seen from United Kingdom
seen from France
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from France

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Yemen
seen from Russia
seen from United States
seen from United Kingdom
Kuchiki Byakuya seeing how many followers he has when opining his instagram account...
The followers of Christ were discipled through Christ's human living on the earth, as the model of a God-man—living God by denying Himself in humanity (John 5:19, 30), revolutionizing their concept concerning man (Phil. 3:10; 1:21a). The concept of the disciples was revolutionized by what they saw of the Lord Jesus living God by denying Himself in His humanity. The Vital Groups, Chapter 2, by Witness Lee #followChrist #discipled #humanliving #model godman #liveChrist #disciples more at www.agodman.com https://www.instagram.com/p/CP6lqWeBsxy/?utm_medium=tumblr
Jesus lived a life in which He did everything in God, with God, and for God; God was in His living, and He was one with God; in His human living He has set His suffering life before us as a model so that we can copy it by tracing and following His steps; this does not refer to a mere imitation of Him and His life but to a reproduction of Him that comes from enjoying Him as grace in our sufferings, so that He Himself as the indwelling Spirit, with all the riches of His life, reproduces Himself in us — Eph. 4:20-21; 1 Pet. 2:21. Crystallization-study of Job, outline 7 #jesus #inGod #withGod #humanliving #suffering #model #noimitation more at www.agodman.com https://www.instagram.com/p/CNI96N7BlHx/?igshid=1qef22v3u50ed
You know your cool when you pull out the alien shirt. This guy's has it all.. genuinety and charisma. #memories #oldmemories #growingup #kids #friends #sharing #kids #life #learning #startedfromthebottom #monkeys #animals #genuine #love #sharelove #onelove #valentines #bemine #TLNIP #human #humanliving #humanlife #positivevibes #positive
The Perspective: “What You See is Not What You Get.”
Beberapa hari ini, entah mengapa tangan saya sepertinya enggan lepas dari ponsel. Dikit-dikit utak atik (apa juga yang dibuka sih...) Instagram, Path, Facebook, Twitter, dan semua media sosial yang saya punya. Setelah di buka, lalu apa? Ya jelas, double tap sana sini, love sana sini, like sana respond sini, retweet sana quote sini. Dan yang terakhir saya lakukan adalah, reblog sana dan sini. (Maafkan aku yang barusan...)
Setelah merespon postingan temen orang, rasanya nggak afdol juga kalau kita tidak post seperti mereka. Iya kan? Apa saja kan bisa di post, yang penting kita bisa menunjukkan sesuatu sama seperti mereka. *brb mulai cari lirik lagu yang bagus untuk di post*
Sebenarnya kegiatan itu tidak terlalu menguras tenaga. Ya, apa salahnya melatih jemari kita untuk scroll down, up, down lagi, mengetik kemudian merespon (lumayan olahraga, siapa tahu berat badan jadi turun setengah kilo setelahnya). Kita tidak mendapatkan apapun dari itu (ya dapat sih, balasan Like?) dan tidak mengeluarkan apapun untuk itu (ya ada sih, ngasih Love?). Jadi, apa sih untungnya bagi kita pribadi, kok meluangkan waktu untuk hal yang.... memang bagi kita tidak mendapatkan apa-apa, tapi hampir setiap saat kita pasti lirik ponsel untuk itu? (emangnya ponsel itu gebetan kamu??)
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya melakukan uji coba terhadap diri saya sendiri. Suatu ketika, ada sebuah SMS masuk yang isinya adalah kira-kira, paket internet saya sudah tinggal 200 MB. Padahal, saya beli paket di awal bulan 6GB senilai delapan puluh ribu rupiah (tebak aja ya operatornya apa), dan itu belum sampai sebulan--kira-kira 17 hari--sudah akan habis. Siapa yang tidak kalang kabut membacanya? Saya sudah mulai panik bagaimana orang-orang akan menghubungi saya via Whatsapp, LINE, BBM, dll sebagainya. Padahal sebetulnya masih ada fitur SMS dan telepon yang masih bisa saya gunakan untuk berkomunikasi (asal pulsa masih ada).
Berdasarkan asas penasaran, akhirnya saya cari tahu apa yang membuat paket data saya bisa jebol sedemikian rupa. Dalam satu bulan saya bisa membeli paket data sebanyak 2 kali, which is, in my opinion, such a waste for money. Karena dengan uang Rp 160.000,- saya bisa membeli seporsi wagyu steak di salah satu restoran ternama. #abaikan
Bisa dilihat sendiri dari statistik penggunaan data--yang saya beli cukup banyak itu--dalam rentang satu bulan terakhir. Jangan lupa bahwa saya sudah membeli paket internet sebanyak dua kali, dengan paket yang sama. Jika saya tidak salah hitung, berarti alokasi data untuk 21 hari kedepan tinggal 3.36GB lagi. *masih banyak Alhamdulillaah*
Dan.......... ternyata saya menghabiskan paket data saya untuk yang pertama adalah...... Instagram! Selamat ya Instagram, bagaimana perasaan anda menjadi yang paling sering saya kunjungi sebulanan ini? *cry*
Jujur saja saya tidak menyangka ternyata kegiatan yang hanya lihat-lihat foto orang (ngepost juga sih, tapi tidak sesering browsingnya) dan men-double tap nya, itu bisa membuang sebanyak 4GB lebih dari kuota yang saya beli... berarti dua pertiga nya. Mindblowing.
Di urutan kedua ada Removed apps and users, ini kurang tahu pasti sih untuk apa, mungkin saya sering uninstall yang tidak penting kemudian diinstall lagi (ya terus?) atau juga mungkin saya sering pakai untuk membuang recent apps karena salah satu kelemahan ponsel saya adalah dia tidak akan keluar secara sempurna jika tidak di remove. (I’m sorry Sony...)
Peringkat ketiga ada si Path! Yang ini sungguh tidak terduga karena saya pikir bakal ada di urutan pertama (secara sering dibuka demi lihat si dia seen moments atau nggak #pentingbanget), dan saya suka Path karena bisa posting lagu kesukaan.
Urutan keempat ada SoundCloud, memang sedang suka streaming audio dari sini, banyak coveran lagu bagus (walaupun sendirinya belum pernah upload cover lagu kesana), dan banyak teaser lagu Korea yang baru rilis. Mungkin selanjutnya akan mencoba Joox atau MelOn.
Selanjutnya ada Chrome, which is... normal, I think. Karena kerjaan saya suka Googling yang nggak jelas--even more, randomly--tentang sesuatu yang ingin kita ketahui saja (baca: kepo).
Di posisi akhir ada Facebook (sebenarnya masih banyak sih, ini hanya peringkat 6 teratas), sering dibuka juga karena Messenger-an sama teman saya, Ika (padahal abis itu kita chat juga melalui WhatsApp or Skype), dan suka share something cute, funny at the same time. Artikel yang di share di Facebook kadang menarik lho, coba deh kalian baca!
Sungguh fakta yang mengejutkan terjadi di depan mata, bahkan terhadap diri saya sendiri. Membuang hampir sekitar 8 GB lebih akan kuota internet demi sesuatu yang bahkan... tidak berbuah menjadi uang, ataupun hal lain yang setidaknya bermanfaat (misalnya: makanan, kan bikin kenyang, gitu). Malah, akan ada hal lain yang bertambah: the desire.
Usually I stalk Instagram for one purpose: seeing something cute then buy it. Dan itu memang terjadi, saya sempat stalking akun Instagram toko baju and ended up buying one of them. Belum lagi saya baru saja membeli lipstik dengan harga yang cukup lumayan dari akun Instagram toko milik teman saya (but I LOVE it and I don’t regret buying it. Mungkin akan saya review lain kali.) dan saya tergoda karena tekstur dan pigmentasinya berbeda dari lipstik lainnya (untung terbukti...). Dan banyak kejebolan shopping lainnya akibat dari kebablasan lihat media sosial yang satu itu.
As for Path.... I must say... banyak yang terjerumus. Dalam arti, hanya ingin menunjukkan pride dan apa yang mereka punya saja (termasuk saya sih...) dan terkadang apa yang kita post bisa mengakibatkan galau bagi seseorang. Ini terjadi lho, beberapa teman ada yang tiba-tiba chat ke saya karena dirasa status saya ngena di mereka (mohon maaf lahir dan batin ini mah ya...).
Terkadang, kita melihat hidup orang lain yang di unggah ke media sosial begitu indah. Tapi sadar nggak sih, bagaimana perjuangannya hingga bisa dia upload foto seperti itu? Atau, untuk user yang selalu update status galau (like me), pernahkah kita berpikir ternyata kesedihannya sudah usai dan ia hanya ingin post karena kisah itu sama seperti dia dulu?
Kemudian kita berkaca pada diri kita sendiri, yang mungkin selalu menuliskannya dalam satu bait yang penuh kejujuran dan ke-real time-an (maaf belum menemukan kata yang tepat untuk satu ini), apakah semua orang sama seperti itu? Apakah kita pernah berpikir bagaimana perasaan mereka yang selalu posting every-single-life-they-have? Apakah benar-benar bahagia? Sedih? Riang? Atau, benar-benar galau?
Apakah kalian terbayang kalau seorang wanita berhijab, penuh sopan santun, baik kepada siapa saja kemudian tertangkap karena melakukan hal tercela? Itu bisa saja terjadi dan sangat mungkin terjadi. Dan seperti itulah analoginya: rambut sama hitam, hati siapa yang tahu? Kita bisa saja menganggap orang itu pamer, sedang berlibur, menikmati apa yang dia punya, sedih, galau. Namun, dibalik semua itu, kita tidak pernah benar-benar memahami, pengorbanan, petualangan, kesedihan, perjuangan yang mereka telah lewati demi itu.
Rumput tetangga lebih hijau. Kita sering berpikir seperti ini ketika lihat posting mereka yang sedang berbahagia, sedang dandan cantik, sedang pakai gaun bagus. Tapi, apakah kita benar-benar berpikir, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk dandan agar bisa terlihat seperti tuan putri di film-film? Berapa uang yang dia tabung untuk membeli sehelai gaun demi pesta? Berapa banyak waktu yang berhasil dia sisihkan demi berkumpul bersama keluarga supaya terlihat bahagia? Kita hanya bisa berpikir, “Enak ya jadi mereka, tidak merasakan sedih seperti aku, yang tidak bisa menunjukkan apa-apa.”
Tentu, sebagai manusia yang sehat, saya juga tidak ingin mental ini terpuruk, tersimpan dan berdebu bagai barang usang tidak terpakai. Akhirnya, minggu kemarin, saya memutuskan untuk berbenah. Hah? Apa saya tidak salah sebut? Ya, berbenah. Karena beberapa minggu ini kamar saya terlihat tidak beraturan dan berdebu, mungkin ini juga yang menyebabkan saya flu, alergi sekaligus jerawatan (nggak nyambung). Maka mulailah saya membereskan lemari saya, mulai dari kosmetik, baju, hingga buku-buku. Dan tahukah kalian apa yang saya temukan?
Selama ini saya masih menyimpan buku dan aksesoris yang saya incar di toko online sejak dulu. Saya ingat pernah membelinya, namun saya lupa simpan dimana (kebiasaan). Beberapa lipstik yang saya kira hilang, saya temukan lagi, bersamaan parfum kesukaan saya (ternyata nyelip mohon maaf...). Tiket nonton Indonesia Open dengan teman sekelas saya jaman kuliah masih saya simpan. Bahkan, bros pin yang saya dapat saat orientasi mahasiswa jurusan Akuntansi pun masih dalam kondisi bagus (masih bisa dipakai!). Saya juga memiliki boneka pemberian partner saya, boneka anak macan dari Taman Safari, yang jarang saya sentuh, karena saya ingin binatang peliharaan hidup (kalau dipikir lagi, saya mungkin tidak akan ada waktu lebih untuknya). Namun, untuk sekarang, boneka pun sudah lebih dari cukup untuk saya berbagi cerita sendiri. Terima kasih, ya.
Sungguh, ketika kita merasa kekurangan terhadap apapun yang orang lain dapatkan, justru disaat itulah kita lupa menyadari, bahwa sesungguhnya kita juga memilikinya. Bahkan mungkin lebih dari apa yang orang lain punya. Tidak akan pernah ada habisnya jika memikirkan apa yang kita tidak punya. Kali ini, saya akan belajar merawat dan bersyukur atas apa telah ada dan sudah ada sekarang.
Berubah memang tidaklah mudah, namun perlahan tetapi pasti. Biarlah itu menjadi sebuah kebiasaan, bukan paksaan.
Apa yang menjadi kepunyaan orang lain mungkin bisa saja jatuh ke tangan kita, seperti halnya rezeki. Tapi mungkin tidak saat ini. Bisa saja esok, nanti, atau lusa.
Learn from the past, live for the present, and save it for the future.
(thank you Tito for your considerate gift, I’ll use it more than before! xo)
See you on my next post! (hope you’re not get bored)
Greetings,
diralyza