Setelah Menikah, Haruskah Saya Tetap Jadi Dosen atau Jadi Ibu Rumah Tangga Saja?
Sebelum menikah, hidup saya cukup jelas arahnya. Saya jadi dosen. Saya suka ngajar, suka diskusi dengan mahasiswa, suka nulis jurnal, ikut seminar, dan semua dunia akademik itu bikin saya merasa "hidup".
Tapi jujur... setelah menikah, semuanya jadi nggak sesimpel itu.
Bukan karena saya kehilangan semangat. Tapi karena hidup sudah berubah. Ada rumah tangga yang harus diurus, ada pasangan dan anak yang harus disayangi dan disiapkan makanannya, ada tanggung jawab baru yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan.
Lalu datang satu pertanyaan besar yang bikin saya mikir berhari-hari:
> Haruskah saya tetap jadi dosen, atau berhenti dan fokus sebagai ibu rumah tangga saja?
Dilema yang Nggak Saya Duga Sebelumnya
Sebelum menikah, saya pikir saya akan tetap bisa "mengatur semuanya". Saya kira menjadi istri dan dosen bisa seimbang dengan mudah. Tapi kenyataannya? Saya mulai merasa lelah. Waktu rasanya kurang terus. Kadang kerjaan kampus menumpuk, sementara rumah juga menanti untuk dibereskan.
Dan saya mulai merasa bersalah...
Saat harus mengajar dan harus LDR dengan suami
Saat jadwal seminar bentrok dengan acara keluarga
Anak harus saya titipkan dengan orangtua
Saya mulai bertanya-tanya: apakah saya sedang memaksakan diri?
Tapi, Haruskah Saya Pilih Salah Satu?
Setelah banyak merenung, ngobrol sama suami, bahkan curhat ke teman-teman sesama dosen, saya sadar satu hal penting: perempuan nggak harus memilih salah satu, tapi boleh kok menjalani keduanya dengan cara yang sesuai dengan kondisinya masing-masing.
Saya belajar untuk menyesuaikan ritme. Kalau dulu bisa ambisius nulis 3 jurnal setahun, sekarang cukup 1 asal tetap berkualitas. saat ini juga saya minta ke pimpinan untuk mengajar secara online agar tetap bisa menemani suami dalam melaksanakan tugasnya, . Kalau dulu ikut semua seminar, sekarang saya pilih yang benar-benar penting dan seminar online. Saya juga mulai belajar bilang "nggak", dan itu nggak apa-apa.
Saya juga belajar bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan berarti “mundur” atau “berhenti”. Justru di rumah pun ada ladang pahala, tempat belajar sabar, ikhlas, dan manajemen waktu yang luar biasa.
Apa Akhirnya Saya Pilih?
Saya tetap jadi dosen. Tapi saya juga tetap jadi istri dan ibu rumah tangga. Bedanya, sekarang saya lebih realistis dan adaptif. Saya nggak kejar kesempurnaan, tapi kejar kebermaknaan
Kalau Kamu Sedang Galau...
Tulisan ini untuk kamu yang mungkin sedang di posisi yang sama. Galau harus pilih mana. Dan saya mau bilang:
“Kamu boleh pilih keduanya. Boleh juga fokus di salah satunya. Yang penting, kamu tahu kenapa kamu memilih, dan kamu bahagia menjalaninya.”
Hidup perempuan itu luas, bukan hitam putih. Kamu bisa tetap berkontribusi, bisa tetap berkarya—di kampus, di rumah, atau di mana pun kamu berada.
Kalau kamu sedang dalam fase bingung, percayalah kamu nggak sendiri. Dan apa pun keputusanmu nanti, itu bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda bahwa kamu peduli, kamu bertanggung jawab, dan kamu ingin menjalani hidup dengan niat yang baik.
#AMZ











