Perempuan dan Mimpi
Saat mempersiapkan pendaftaran beasiswa dulu, aku dibantu oleh beberapa orang yang bahkan tak mengenalku secara pribadi. Mereka meluangkan waktu untuk membaca dan mengulas esai-esaiku, memberi masukan, dan yang paling berarti, percaya bahwa aku mampu, bahkan ketika aku sendiri belum sepenuhnya yakin.
Pengalaman itu membekas, dan mungkin karena itulah aku kini bergabung sebagai relawan dalam sebuah komunitas, membantu calon penerima beasiswa lain menyiapkan esai mereka. Beberapa di antara mereka adalah perempuan, seorang ibu, yang tetap berjuang melanjutkan pendidikan. MasyaAllah, mereka telah menjalani peran besar di rumah tangga, namun masih menyimpan semangat untuk bertumbuh, untuk belajar, untuk mengejar mimpi.
Setiap kali membaca cerita mereka, aku sering kali terdiam. Ada rasa haru, kagum, dan hormat yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Mereka mengingatkanku bahwa menjadi perempuan, menjadi seorang ibu, dan tetap bermimpi bukanlah hal yang saling meniadakan.
Lalu aku teringat pada satu bagian dari masa lalu, sebuah kegagalan yang waktu itu begitu menyakitkan. Aku pernah berada di ambang sebuah hubungan yang sejak awal mengisyaratkan bahwa aku tidak diizinkan bekerja setelah menikah. Saat itu aku merasa kecewa dan kalah. Namun kini, aku mulai memahami, mungkin memang aku harus gagal, agar aku tak kehilangan kesempatan untuk melihat hal-hal seperti ini. Agar aku tidak luput dari perjumpaan dengan perempuan-perempuan hebat yang diam-diam menguatkanku.
Mungkin aku harus gagal, agar aku tetap bisa menjadi bagian dari dunia yang terus memperjuangkan ruang bagi perempuan untuk tumbuh. Dan mungkin, dari kegagalan itulah aku dipertemukan kembali dengan diriku sendiri, dengan versi diriku yang tidak lagi takut bermimpi, tidak takut pada nilai-nilai yang aku pegang selama ini.















