Menjadi Ibu
Kemarin, setelah sekian lama hanya bisa bertatap muka dengan si kecil lewat video call, akhirnya Allah beri kesempatan untuk pulang kampung lalu berkumpul dan bertemu dengan big brother and family. Ya, bisa bertemu dengan Yumna! :')
Sebagaimana foto-foto yang sering dikirimkan oleh den bagus, alias kakak saya, Yumna sangat gemar tersenyum. Bahkan, aku yang baru dua kali bertemu pun kemarin berhasil membuatnya tertawa cukup lama, membuat mas bertanya, apa yang aku lakukan hingga dapat membuat si mungil tertawa, :')
Ya, bagi anak terakhir macam aku, melihat bagaimana mas dan istrinya mengurus si kecil adalah kumpulan informasi yang baru aku terima. Tentang bagaimana si kecil yang sedang menjalani masa latihan makan, tentang bagaimana si kecil dimandikan, tentang kebutuhan popoknya, tentang bagaimana membuat bubur tim yang ternyata lebih diterima si Yumna dibanding makanan-makanan buatan pabrik, ya, aku belajar banyak hal baru!
Dan tentu saja, satu hal lain yang tidak ketinggalan adalah, tentang bagaimana menjadi seorang ibu. :)
Aku, terbiasa melihat sosok ibu lewat ibuk, sehingga tentu aku tidak tahu bagaimanakah dahulu ibuk mengurusi aku dan kakak-kakak sewaktu kami kecil. Meski sudah mengerti bahwa perjuangan ibu tidaklah pernah sederhana, tapi dengan melihat bagaimana kakak ipar mengurus si kecil aku semakin sadar, bahwa menjadi ibu sungguh-sungguh tidaklah mudah.
Butuh kesabaran, juga ketulusan yang senantiasa diasah, sebab mengurus si mungil jelas tak bisa macam bicara dengan pasukan tentara elit yang langsung mengerjakan apapun perintah atasan. Satu, sebab ucapan dan perintah pada si kecil belum bisa ia pahami, apalagi ditaati. Dua, mereka punya bahasa yang berbeda dengan kita-para manusia dewasa-, mereka berbicara dengan gerakan tubuh, dan tangisan serta teriakan -yang seringnya punya banyak makna-. Tiga, butuh kesabaran dan perjuangan ekstra yang tentu levelnya harus ditingkatkan hari demi hari. Empat, tiap tindak-tanduk kita bisa dicontoh oleh si kecil, apapun itu, jadi tentu perlu kehati-hatian yang sangat tinggi dalam mengasuhnya.
See, banyak hal yang perlu dibekali untuk menjadi ibu, belum lagi seputar masalah-masalah fiqhiyah yang berkaitan dengan anak. Yep, banyak buku yang pada akhirnya perlu dibaca, meski jelas tidak bisa menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang dalam menjadi ibu. Setelah belajar teori, perlu belajar praktik, bukan?
Ya, sekali lagi, menjadi ibu bukanlah hal yang sederhana, apalagi main coba-coba. Urusannya bukan hanya satu dua tahun, tapi bisa hingga berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai akhirat. Kalau seorang ibu tidak mendidik anaknya dengan baik, lalu anaknya jadi tidak baik, lalu anaknya anak ibu tadi ga baik pula, dan begitu seterusnya; bukankah si ibu tadi ikutan menyumbang kesalahan? Kesalahan mendidik yang diwarisi.
Lagi-lagi kan ya, butuh belajar lebih banyak! Belajar jadi pribadi yang baik luar dan dalam, hingga bisa 'membaikkan' orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk generasi penerusnya. Selamat belajar, dan semoga bisa menjadi sosok ibu yang baik macam ibunda Nabi Musa dan Isa, dua sosok ibunda yang kisahnya termaktub dalam Al-Qur'an. Wallahu a'lam.
(19/04/19)

















