Yuna bisa melihat tatapan Minseok yang tidak setuju, mengenali ekspresi seperti mau protes yang terpatri di wajahnya. Dengan dagu diangkat, Yuna mengarahkan telunjuknya ke wajah Minseok. “Aku tahu kau nggak setuju,” katanya tegas. “Tapi dari awal aku masuk, aku nggak pernah diberikan pilihan. Aku nggak diberikan pilihan menolak Miss Seikan, atau menolak sesi belajar pulang sekolah, atau mengisi Jumat dan Sabtuku bersamamu. Jadi jangan harap aku akan memberikan pilihan padamu untuk menolak cara-caraku.
Yuna lihat Minseok mengatupkan mulutnya, tampak tidak senang. Dia tidak terlihat seperti akan membantah, jadi Yuna melemparkannya senyuman manis. Minseok membalasnya dengan cibiran.













