Berbicara Field Disaster Management (FDM) mungkin akan kurang lebih sama dengan Disaster Preparedness and Prevention (DPP). Kali ini mungkin tidak akan berbicara secara teoretis, karena akan ada yang lebih paham mengenai teori-teori tersebut. Sebagai seorang pejabat di KM ITB yang memiliki salahsatu bidang kerja di mitigasi dan tanggap kebencanaan, akan lebih pantas berbicara secara teknis di lapangan. Field Disaster Management di ITB, setidaknya di tingkat mahasiswa, belum mencapai tahap mapan. Dua tahun terakhir terus coba dirintis sebuah alur ataupun sistem yang memungkinkan ITB untuk menjalankan FDM, yang menyangkut mitigasi, tanggap bencana, dan pasca-bencana. Mungkin secara sederhana yang dilakukan oleh mahasiswa ITB dengan difasilitasi Ganesha Rescue KM ITB adalah seperti pada gambar berikut (silahkan klik untuk gambar pada ukuran yang lebih jelas terlihat) :
Gambar ini tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, karena pasti semua orang sudah paham bahwa itu adalah semacam diagram alir untuk kegiatan ketanggapbencanaan. Beberapa hal yang perlu dicatat dari diagram alir tersebut adalah (1) bahwa diagram tersebut belum bisa dilaksanakan secara tegas dan beres mulai dari ‘start’ sampai ‘finish’ dan (2) ada bagian yang terlupakan dari diagram alir tersebut, yaitu mitigasi bencana. Kasus yang pertama terjadi karena kendala manajemen di Ganesha Rescue yang masih belum sanggup melakukan koordinasi secara rapi dan terkendali kepada seluruh elemen mahasiswa ITB. Sedangkan kasus kedua terjadi karena memang bagian itu hampir sama sekali tidak pernah digarap, kecuali hanya dalam tataran ide dan obrolan. Perihal mitigasi bencana inilah yang akan banyak diulas pada pembahasan singkat kali ini.
Field Disaster Management dalam hemat saya tidak hanya tentang teknis mitigasi bencana di lapangan, namun juga berbicara tentang tata kelola di tingkat kantor dan lapangan. Di tingkat kantor, akan lebih banyak bersentuhan dengan pengelolaan sumber daya manusia, logistik, transportasi, administrasi, akomodasi, dan sebagainya yang mendukung kerja petugas di lapangan. Sedangkan tata kelola di tingkat lapangan adalah tata kelola teknis dan teknologi yang akan diterapkan selama di lapangan. Kedua pengelolaan ini tentu saling mendukung satu sama lain. Inilah yang hendak dibangun secara lengkap lewat Ganesha Rescue.
Di ITB pasti banyak sekali elemen keilmuan dan keprofesian yang bisa bergerak di tataran FDM ini. Misalnya kita membayangkan Jawa Barat, maka topografi Jawa Barat ini tentu memiliki potensi-potensi geologis tersendiri. Jika belum semua potensi dan risiko bencana diukur oleh lembaga-lembaga yang memiliki tugas ke sana, elemen universitas semacam ITB bisa turut membantu memetakan potensi dan risiko bencana yang ada di Jawa Barat. Setelah selesai dipetakan potensi dan risiko bencana, tentu sudah harus mulai dirancang Ruang-Ruang Tanggap Bencana. Dalam pengertian sederhana, bisa dikatakan Ruang Tanggap Bencana (RTB) merupakan wilayah yang dapat dijadikan titik pengungsian yang memiliki karakteristik potensi dan risiko bencana yang dapat terjadi di lokasi tersebut paling minimal. Selesai dua desain ini, tentu tidak serta merta berhenti pula kegiatan mitigasi bencana. Dua hal tadi harus dibagikan juga kepada masyarakat di wilayah terkait agar masyarakat paham betul cara bereaksi ketika bencana yang diperkirakan dapat terjadi benar-benar terjadi. Ini yang disebut dengan Pendidikan Kebencanaan atau, dalam bahasa lain, Pre-Disaster Education. Sasaran Pendidikan Kebencanaan ini adalah semua usia, dengan porsi materi masing-masing sesuai dengan kapasitas fisik dan potensi reaksi terhadap bencana.
Selesai? Tentu belum. Semua yang dibahas di atas adalah tataran yang bersifat teknis dan teknologis. Tataran pengelolaan di tingkat kantor pun perlu sekali dipikirkan dan diperbaiki terus menerus. Seringkali ketika sudah mulai masuk ke tataran pengelolaan inilah semua kegiatan di atas menjadi hilang suara sama sekali. Pengelolaan yang lemah akan menyebabkan setiap rancangan yang sudah diajukan tidak dapat dilaksanakan dengan baik, atau malah tidak dapat dilaksanakan sama sekali. Pengelolaan memegang peran yang sama penting dengan perencanaan teknis dan teknologis. Melalui pengelolaan yang baik, sumber daya manusia dan non-manusia akan dapat diatur sedemikian sehingga setiap sumber daya yang ada dapat digunakan secara optimal pada setiap tahap yang sudah direncanakan secara teknis dan teknologis. Paling penting adalah bahwa pengelolaan yang baik akan dapat menjaga siklus Planning-Organizing-Actuating-Control terus terkendali.
Inilah sedikit ide yang bisa dituliskan ketika mendengar kalimat Field Disaster Management.
.ian achmad januar.
.menteri pengabdian kepada masyarakat kabinet keluarga mahasiswa (km) itb.
[email protected]