when you’re with me, what do you feel? (curiosity doesn’t kill a cat, you know)
Ikeuchi Sae dan Emiya Sorei adalah kombinasi yang aneh, jika dipikir-pikir.
Sorei bukanlah tipikal pemuda yang bisa kamu temukan dekat dengan orang asing, yang selalu memasang raut muka tak bersahabat dan punya kata-kata tajam untuk diucapkan. Sementara Sae sendiri adalah gadis yang pemalu dan pendiam, lebih sering bersembunyi di balik bayang-bayang sementara orang lain bersinar dengan terangnya. Sae mengerti bahwa dasarnya dia dan Emiya-kun akan sulit untuk bercengkrama, lebih-lebih menjadi akrab, namun takdir selalu punya cara lucu untuk mewujudkan suatu skenario agar berjalan sesuai kehendaknya.
Sesi tutoring-lah yang pada akhirnya menjembatani kesenjangan antara dua teman sekelas yang nyaris tak pernah saling bicara sebelumnya itu. Sebuah kejadian ketika karya wisata-lah yang menjadi katalis hingga orang-orang tahu bahwa Emiya Sorei dan Ikeuchi Sae bisa dikatakan dekat.
Gadis Ikeuchi itu seringkali kepikiran… mengapa Sorei mau dekat dengannya? Reputasi sang dara sebagai korban penindasan sudah diketahui khalayak umum. Si pemuda pernah melihat dia disiram gula ketika pulang dari Shibata. Orang-orang pun sudah sering berkata nyinyir mengenai kedekatan mereka, Sae dengar, mempertanyakan apa yang Emiya Sorei lihat dari sosok Ikeuchi Sae sehingga mau dekat-dekat dengan si gadis aneh? (Meski demikian, rumor tak enak tentang Sorei pun sampai ke telinga Sae—tentang bagaimana pemuda itu aslinya berandalan, anak pemilik bar yang mengakomodasi prostitusi, dan lain sebagainya. Mempertanyakan mengapa Ikeuchi Sae tidak takut pada sosok Emiya Sorei yang mengerikan lagi misterius?)
Ia tahu reputasi Emiya Sorei di sekolah.
Tak sedikit orang yang menatapnya aneh, seolah bertanya lewat binar mata dan sorot menghakimi: dari semua orang, kenapa Emiya Sorei? Setelah berpikir, gadis Ikeuchi bisa mengatakan kalau dia melihat Sorei dari bagaimana pemuda itu memperlakukannya. Dan Sorei… selalu baik pada Sae. Tidak pernah memaksa. Selalu perhatian, lewat caranya sendiri yang perlahan bisa Sae pahami dan terima, juga selalu punya kata-kata baik untuknya. (Jangan bilang siapa-siapa… namun, tak hanya sekali dua kali perlakuan maupun ucapan Sorei padanya membuat jantung Sae melewatkan satu degupan. Memerahkan rona pipi, membuat senyumnya tertarik lebih lebar.)
“Emiya-kun.”
Masa ujian sebentar lagi. Sorei meminta Sae untuk menemaninya belajar di perpustakaan kota. Karena memang sedang senggang, sang dara menerima ajakan itu dengan mudah. Tak menyangka bahwa si pemuda akan menunggu di depan gedung dan menggandengnya serta ke dalam. Ketika mereka pada akhirnya menemukan meja kosong dan sudah mendudukkan diri dengan manis, Sae memutuskan untuk memanggil pemuda teman sekelasnya itu untuk menanyakan sesuatu.
Sorei menanggapi pertanyaan itu dengan kepala yang tertengadah, menatap tepat ke mata Sae—dan gadis berambut panjang itu harus menahan rinding dengan susah payah. Berusaha menemukan kembali keberanian yang mendorong dara untuk menyebut nama si pemuda, berusaha mengenyahkan kaku pada lidah ketika pada akhirnya bertanya juga.
“Emiya-kun… benar tidak apa-apa? Belajar bersamaku?”
Menggandeng tanganku? Berlaku baik padaku? Membiarkan aku tahu seberapa hangat genggaman tanganmu, seberapa cerah senyummu yang langka itu? Sae tidak bodoh. Ia tahu Sorei dekat dengan pemuda aneh dari kelas yang sama dengan mereka, yang terobsesi dengan puzzle dan tebakan, juga sang queen bee yang tak pernah ragu untuk melingkarkan lengannya pada bahu Sorei.
Tapi, tetap saja Sae ingin tahu… dari semua orang, kenapa dia?
Pemuda Emiya yang kini cat rambutnya perlahan luntur itu menelengkan kepala dan membiarkan kelopak matanya terkerjap. Satu, dua kali kerjapan. Bahu kurus Emiya belia kemudian terangkat dengan acuh tak acuh sementara tangan-tangannya sibuk mengeluarkan catatan dari dalam tas. Sae masih menunggu jawaban, semata karena ia ingin tahu apa yang membuat Sorei mau bercengkrama dengannya selama ini. Alasan dibalik mengapa pemuda Emiya itu selalu mengulurkan tangan padanya, apa yang dilihat oleh mata tajam Emiya Sorei atas sosok Ikeuchi Sae.
(Biar begitu, Sae tak akan mengingkari kalau sebesar apapun rasa penasarannya, ia juga takut untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan itu. Karena ia… tak berani, tak berani berharap.)
“Daijoubu.” Pada akhirnya, Sorei bersuara. Masih, masih menatap Sae dengan mata sipitnya yang tajam. “Nggak apa-apa, Ikeuchi. Aku senang kok, bersamamu.”
Ikeuchi Sae kemudian hanya menganggukkan kepala dan membiarkannya tertunduk. Bibir terbelah untuk membiarkan sebuah, “Oke…” lolos dari celah bibir. Merasakan detak jantung yang bertalu-talu. Perasaan kelewat campur aduk dalam hati, dalam pikiran, tanpa bisa difilter. Kalimat yang diucapkan Sorei bergaung dalam kepala, membuat Sae menyembunyikan senyum.
Senang bersamamu… ya, Emiya-kun?












