A Star In My Heart (Part II)
Tidak terasa seminggu lagi aku akan segera menaiki pelaminan bersama kekasihku.
malam itu waktu menunjukkan pukul 10 malam, rintikkan air hujan mengetuk-ngetuk jendela apartemenku. Aku beranjak ke tempat tidur, mengambil bingkai foto yang berada dekat dengan tempat tidurku. Tersenyum pada foto itu ‘ apa kau sudah tidur? Aku akan segera tidur. Ini aneh, aku benar-benar selalu merindukanmu setiap saat, bahkan saat ini aku sangat ingin bertemu denganmu. Ckckckkk. Baiklah, aku harus tidur sekarang, semoga mimpimu indah’ kataku kemudian membelai foto di balik bingkai foto itu. aku menarik selimut dan memulai perjalanan menuju mimpiku. Beberapa saat kemudian akupun terlelap.
Ting nung, ting nung, ting nung,
aku terbangun mendengar suara bel apartemenku. Aku menoleh ke arah jam dinding jam menunjukkan pukul 02.23 pagi
ahh,, siapa yang datang di jam seperti ini? Aku beranjak meninggalkan tempat tidurku munuju pintu apartemenku. Ketika aku membukanya sesosok pria berada dibalik pintu itu. Ia terlihat pucat meskipun ia tersenyum.
“ki bum-ah??” tanyaku heran “ini jam 2 pagi, ada apa kau datang sepagi ini?” lanjutku. Ku lihat ki bum tersenyum
“aku merindukanmu” katanya. Aku tertawa kecil.
“apakah kau sangat merindukanku hingga kau datang sepagi ini? Ayo masuk” aku mempersilahkan ki bum masuk. Dan membuatkan dia secangkir coklat panas. Kami kemudian duduk di sofa
“ji eun-ah,,, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya ki bum setelah meminum sedikit coklat panas itu.
“apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Tentu saja. Aku sangat mencintaimu”
“aku senang mendengarnya. Berjanjilah sampai kapanpun perasaanmu tidak akan sirna walaupun kau tidak bersamaku” perkataan ki bum membuatku bingung, aku terdiam sejenak mencoba mengerti apa yang dia maksud. Tapi aku benar-benar tidak mengerti sedikitpun mengapa ia menjadi seperti ini.
“apa maksudmu? Kita akan segera menikah, mengapa kau berkata seolah-olah kau akan pergi lagi dariku?” tanyaku penasaran juga disertai rasa takut kehilangannya lagi. Dia tersenyum dan membelai rambutku
“tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan bahwa hatimu benar-benar untukku.” Jawab ki bum dan ia mencium keningku, aku menggenggam tangan ki bum.
“tanganmu dingin. Apakah kau kedinginan ketika datang kemari?” ki bum mengangguk dan berkata “jam 2 pagi seperti ini, suasana kota seoul sangat dingin”
“ji eun-ah,,,,” ki bum memanggilku pelan “hiduplah dengan baik, kau harus menjaga pola makanmu seperti saat ini. Tersenyumlah seperti saat ini. Ketika kau tersenyum itu membuatku bahagia, tapi ketika kau sedang bersedih hatiku terasa sakit, teruslah tersenyum. arrachi?” lanjut ki bum, aku benar-benar dilanda kebingungan. Ki bum seperti orang mabuk yang tidak sadar dan berbicara secara acak tapi tidak ada bau alkohol sama sekali di dirinya.
“ki bum-ah,,, ada apa denganmu? Kau berkata hal-hal aneh yang membuatku bingung dari tadi” ki bum hanya diam sambil tersenyum dengan wajahnya yang pucat menatapku
“saranghae ji eun ah,, jeongmal saranghae” kibum memelukku. Aku pun membalas pelukan ki bum
“na ddo sarenghae ki bum-ah” jawabku. Tubuh ki bum benar-benar dingin saat ini.
beberapa saat kemudian ki bum pamit untuk pulang padaku. Aku mengantarnya hingga depan pintu lift dilantai apartemenku.
“jaga dirmu baik-baik” kata ki bum mengacak halus rambutku
ketika pintu lift terbuka, ia masuk dan melambaikan tangan padaku, akupun membalas lambaian tangannya hingga ia menghilang dibalik pintu lift yang sudah tertutup rapat.
Aku kemudian kembali keapartemenku dan menuju tempat tidur, kembali menarik selimut menutupi tubuhku dan memejamkan mataku. Tiba-tiba
ddrrrtt,,, ddrrtt,,, ddrrtt,,,,
ponselku berdering. Itu adalah ibu ki bum. Dia pasti khawatir mencari anaknya yang sedang tidak dirumah jam segini. Aku menekan tombol hijau dilayar ponsel,
“ji eun-ah” ibu ki bum menyebut namaku dengan isakan tangisnya. Raut wajahku brubah. Mengapa ibu ki bum menangis?
“ji eun-ah,,,, ki bum,, ki bum,, ki bum mengalami kecelakaan” mataku membelak, dan segera menutup mulutku dengan tanganku karena terkejut.
“dimana? Dimana ki bum sekarang? Kenapa? Kenapa bisa terjadi?” pekikku yang tidak peraya akan hal itu
“tadi malam sekitar jam 11 dia pergi untuk membeli sesuatu, dan dia mengalami kecelakaan” mulutku tidak dapat berkata mendengar apa yang dibicarakan ibu ki bum. Jam 11 malam? Dia bahkan baru saja bersamaku. Bagaimana mungkin ini terjadi?
aku melepaskan ponselku dan berlari menuju ruang tamu, melihat cangkir yang berisi coklat hangat yang kini sisa setengah cangkir karena ki bum tadi meminumnya. Aku semakin bingung tidak percaya, aku segera mengambil mantel dan pergi kerumah sakit memastikan apa yang dikatakan ibu ki bum. Aku melangkahkan kakiku di lorong rumah sakit itu, melihat beberapa keluarga ki bum mengelilingi tempat tidur yang mungkin itu benar-benar ki bum. Aku melangkah pelan dan ketika aku semakin dekat melihat siapa yang berada di tempat tidur itu. Aku langsung menutup mulutku erat-erat dengan kedua tanganku karena terkejut melihat itu, akupun langsung memeluk kibum yang saat ini sudah tidak bernafas lagi.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,!!!” aku berteriak dengan kencang. Aku menggoyangkan tubuh kibum dengan cepat
“ki bum-ah,, bangun, ki bum-ah!!!! Jebal !! jangan seperti ini.!” Kataku histeris smbil menangis, tangisannku sangat menjadi-jadi.
“ki bum-ah,, kita akan menikah, kumohon bangunlah!”
“ki bum-ah,, jangan tinggalkan aku lagi!!!!” aku terus menggoyang-goyangkan tubuh ki bum, berharap ia akan bangun. Tapi itu sangat tidak mungkin. Aku histeris. Sangat histeris. Aku bahkan merasa depresi dengan kenyataan itu. Keluarga ki bum menarik tubuhku menjauh dari ki bum, tapi aku memberontak. Hingga akhirnya aku lelah menangis dan memberontak menuruti mereka.
jonghyun, salah satu kakak sepupuh ki bum menenangkanku ketika aku berada di luar ruangan.
“tenanglah,, aku tahu ini berat untukmu, tapi kau harus menerima kenyataan bahwa ki bum sudah pergi. Ku mohon tenanglah.” Ucap jonghyun menenangkanku. Aku terdiam dalam pikiranku sendiri
bagaimana mungkin? Ki bum datang ke apartemenku jam 2 pagi, tapi ia mengalami kecelakaan jam 11 malam. Kini aku mengerti apa maksud perkataan ki bum tadi yang mebuatku bingung, aku kembali teringat tentang wajah pucat ki bum, tubuh dingin ki bum bukan karena dinginnya cuaca di kota seoul, tapi karena tubuh dan jiwanya kini sudah berpisah. Airmataku tidak bisa berhenti meleleh. Ki bum-ah,, aku sudah kehilanganmu sekali, dan kali ini aku benar-benar kehilanganmu. Bagaimana aku hidup? Tidak ada suaramu lagi, tidak ada senyummu lagi, aku tidak dapat menyentuh tubuhmu lagi, tidak dapat merasakan hangatnya berada di pelukanmu lagi. semua memory kembali terekam dalam pikiranku, ketika kau melamarku di pantai malam itu, ketika beberapa tahun kita berpisah namun kita kembali bersatu, ketika kau tertawa karena melihatku yang berusaha melepaskan gelitikanmu di pinggangku. Aku merasa sangat tersiksa karena merindukanmu beberapa tahun lalu, tapi ini? ini benar-benar sangat menyakitkan. Ini 1000 kali lebih menyakitkan daripada aku merindukanmu dulu. Aku sangat bahagia karena kita akhirnya akan menikah, tapi kini? Semua berubah, semua perasaanku yang menyenagkan berubah, pikiranku gelap, hatiku gelap, aku mencoba menerawang melihat ke masa depan. Tapi tidak bisa. Apa yang dapat kulakukan tanpamu? Tidak ada.
********
Suara ombak terdengar sangat menenangkan hatiku. Aku menutup mataku merasakan suara ombak yang berlarian menuju tepi pantai dan suasana sunyi di pantai itu. Sudah beberapa bulan sejak kepergianmu. Aku harus melakukan semuanya sendirian.
sampai saat ini, aku bahkan tidak bisa berhenti menangis. Tidak perduli sudah beberapa kali air mata ini habis, tapi hanya itu yang dapat kulakukan untuk menenangkan pikiranku.
setiap malam, aku selalu melakukan ini dimanapun, mencari bintang paling terang di langit agar aku dapat melihatmu. Yang aku sesalkan adalah mengapa bintang hanya berada dimalam hari? Aku ingin melihat di siang hari, pagi hari, juga sore hari.
aku menatap ke arah langit dan menemukan bintang paling terang diantara bintang-bintang di langit,
itu adalah kau ki bum-ah, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau kesepian? Atau kau sudah menemukan seorang teman disana? Kelihatannya kau memiliki banyak teman di sana, bintang sangat banyak di langit.
ki bum-ah,,, aku kesepian, aku ingin bertemu denganmu, ingin memelukku, tapi kau sangat jauh, aku tidak dapat meraihmu, aku hanya dapat melihatmu dari kejauhan. Gwaechana. Setidaknya aku dapat melihatmu. Apa kau juga melihatku? Aku yakin kau pasti sedang melihatku. Ki bum-ah,,, perasaanku padamu, ini tidak akan pernah berubah, kau sudah benar-benar tertempel secara permanen dihatiku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
ki bum-ah,, aku merindukanmu. Sesaat angin berhembus padaku, angin itu seakan berkata “aku juga merindukanmu”
~END~
Author Credit @ikha_taemints
Published by @minhoshineeina
The winner of #minhoffcontest at @minhoshineeina









