Tolong wahai diriku, jangan biarkan mereka dibuat tanpa digunakan okay?

seen from United States
seen from China
seen from Philippines
seen from United States
seen from Argentina
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Argentina
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
Tolong wahai diriku, jangan biarkan mereka dibuat tanpa digunakan okay?
Rumah berasap
Biar kebayang, rumah kontrakan yang saya tempati (selanjutnya disebut rumah aja) itu terletak di perumahan yang penduduknya berkulit putih, bermata sipit (kayaknya saya paling bolotot dah disitu wkwkkw).
Rumah ini terdiri dari dua lantai, 7 kamar tidur dan 5 kamar mandi (kamar saya letaknya di lantai dua pojokan paling belakang BTW). Bisa dibayangkan lah ya rumahnya segede apa.
Tepat kemarin, ketika saya sedang tahiyyat di sholat ashar, tiba-tiba lampu mati (nggak mikir horror sih, soalnya saya selama ini tinggal sendiri dirumah segede ini belum ketemu sama poci, dkk gitu ya haha).
Abis itu saya denger suara pintu digedor dengan kerasnya (kaget kaya yang marah2 gitu ning heuheu). Selesai sholat, kerudungan, saya langsung ke bawah dan kaget lihat di tangga gelap banget dan penuh sama asep. Saya langsung lari ke arah pintu yang dikunci dari dalem.
Ada beberapa hal yang pengen saya share dari kejadian kemarin. Maapin kalau panjang hehe
Jangan meremehkan penderitaan orang
Selama ini saya mikir adegan kebakaran yang ada difilm-film tuh lebay, "apaan sih tinggal lari keluar juga, malah nangis diem" kira-kira gitu. Ternyata kalau lagi kaget emang gitu ya, gak bisa berpikir dengan jernih. Next, kalau ada orang mengadukan masalahnya, seremeh apa pun masalahnya menurut kita, jangan diremehkan yaw.
Hati-hati menilai orang
Siapa hayo yang mikir kalo orang2 di perumahan yang pagernya tinggi-tinggi, pakai baby sitter, jarang keliatan mukanya, adalah orang-orang yang individualis (apa saya aja yang mikir gitu ya? Hiks suudzan pisun). Ternyata apa yang saya pikirkan selama ini salah.
Pas saya buka pintu, banyak warga yang selama ini saya belum liat mukanya ngumpul didepan rumah dan care gitu ya nanyain keadaan saya (yang gemeter karena kaget, mata berair dan sesek karena asep). Belakangan saya tau pak satpam gedor pintu karena laporan salahsatu warga situ yang liat asep keluar dari rumah.
Gimana orang mau bantu, kamu aja gapernah minta tolong
Yang saya inget pas kaget itu pertama adalah Allah (istighfar, masih takut mati ternyata saya hiks), orangtua (mau ngasih tau tapi takut khawatir Hhe jadinya gak ngasih tau), orang2 satu kontrakan (biar mereka tau juga).
Beberapa menit kemudian setelah pak satpam masuk kedalem rumah buat ngecek sambungan listrik, dia bilang kalo listriknya harus dimatiin dulu buat malem ini. Langsunglah saya bingung masa mau gelap-gelapan sendiri gitu ya. Akhirnya saya cerita ke grup teeettt (biar ramai haha).
Tbtb datenglah dua orang, kemudian bertambah 4 orang, dan bertambah lagi sampe kakak tingkat yang lagi skripsian pun dateng (hehe semangat bang!).
Gimana mereka bisa tau kesulitan saya kalau saya gak ngomong? Gimana mereka bisa paham kalau kamu diem aja? Ini buat siapapun kamu yang ngerasa sendiri, mungkin itu karena kamu gapernah kasih ruang buat orang lain biar bisa nemenin kamu.
Mau bilang makasih
Kepada orang-orang yang care, apalagi yang dateng ke rumah bawa makanan wkwkkw Dipikir2 mah yang bawa makanan teh yang satu divisi, nyesel bilangnya ke grup yang banyakan haha (gak deng canda).
Terimakasih sudah meredakan kekagetan dan kecemasanku. Dengan rewog nya kalian, nyanyi-nyanyi (saya nyanyi galau bukan berarti lagi galau beneran dah), dengan ngomongin matkul sampai berujung ghibahin dosen (astaghfirullah hey ulah kitu). Makasih thank you syukran merci arigatou hatur nuhun.