“Aku selalu heran dengan kalian, apa, sih, yang kalian perebutkan?”—Seorang guru tata tertib sekolah yang menyebalkan.
Mereka bertemu ketika masih sama-sama berumur enam belas tahun, di tahun pertama sekolah menengah. Mereka bertemu bukan secara kebetulan, berkenalan tanpa bersalaman, dan tak bertukar kata permulaan.
Mereka dua kutub yang berlainan sekaligus terhubung melalui segala keruwetan. Kesamaan mereka terbatas pada kebencian: mereka membenci sekolah, mereka membenci anak-anak perempuan yang suka mengikik dan menggosip, dan mereka membenci siapapun yang menghalangi jalan mereka.
Toh mereka sering bertukar pendapat bukan dengan kata. Kata dan suara hanya sejumput media untuk berkomunikasi di antara mereka. Media paling aman dan paling damai.
Daria bukan dan tak akan pernah menjadi perempuan yang banyak bicara. Ia bicara sekadarnya, ia mengingatkan seperlunya—itu pun tak ke semua orang. Hanya Inary yang menurutnya pantas mendapatkan peringatan darinya berupa kata, bukan berupa pukulan atau tendangan. Sering keluar masuk ruang konseling hanya gara-gara memukul teman sekelas atau membanting bangku, mereka dianugerahi sebuah label tak menyenangkan. Kurasa mereka tak pernah takut berkelahi dengan lelaki sekalipun, tapi tentu saja geng yang lebih sering mencari masalah dengan mereka berdua adalah geng cengeng kumpulan cewek-cewek kesepian yang haus akan pengakuan.
Dunia terkadang aneh. Kadang ia hadir dalam sebentuk kedamaian dan tempat berpijak, tapi di pihak lain ia hadir dalam bentuk sebuah tantangan, di pihak ketiga ia bisa hadir dalam bentuk gang gelap nan sempit yang untuk kau berjalan saja kau perlu meraba-raba dinding kotornya. Tahap remaja akan selamanya menjadi fase penuh pertanyaan yang tak terjawab, setidaknya bagi mereka yang sedang mengalaminya. Daria tak pernah mempertanyakan mengapa mereka harus berkelahi untuk sebuah urusan sepele seperti saling ejek, ia tak pernah mempertanyakan mengapa hanya Inary yang selalu ada di sisinya. Ia mempertanyakan mengapa mereka harus tunduk pada peraturan. Peraturan apapun, peraturan yang dibuat oleh sekolah, peraturan yang dibuat oleh guru-guru mereka, peraturan yang dibuat oleh manusia-manusia di sekitarnya. Toh ayahnya tak pernah membuat peraturan.
Inary, sebaliknya, akan mempertanyakan segala hal. Yang dimaksud segala hal adalah se-ga-la-nya. Semua yang ia dengar, ia lihat, atau hanya ia pikirkan sebentar, ia akan mengutarakannya dalam bentuk pertanyaan. Kadang Daria kesal sendiri. Inary kadang tak tahu tempat. Ia bertanya “mengapa orang tak merokok dengan daun pisang saja alih-alih dengan tembakau? Daun pisang ada di manapun”, dan Daria menjawabnya asal, “kau coba saja merokok dengan daun teh, mungkin setelah kau menyeduhnya kau bisa mengeringkannya lalu mengisapnya.”
Sekali pernah Inary bertanya bagaimana rasanya menjadi semut—ia ingin menjadi semut, sepertinya begitu, dan Daria menolak berbicara dengannya selama dua hari. Ini menghentikan kebiasaan Inary mempertanyakan segala hal, setidaknya dia akan tutup mulut dan menyimpan 98% pertanyaannya di kepalanya sendiri. Dua persen sisanya ia utarakan dalam bentuk pernyataan yang bagi Daria sama saja dengan pertanyaan.
“Tabi itu tampan. Tabi juga baik dan dia macho sekali. Dia tak begitu pintar, sayangnya. Ia juga tak bisa berkelahi, ah, aku sedih sekali ketika dia dihajar gerombolan si Kerbau itu dan membuat alisnya berkurang sebelah. Kukira si Kerbau dan antek-anteknya mencukur setengah alis kirinya, atau membakarnya? Hmm, mana yang benar menurutmu?”
Daria menoleh menghadap sahabatnya, tangannya memainkan sebuah pemantik api kesayangannya. “Alis Tabi tak hilang setengah, Tolol, ia kalah bertaruh dengan Dion dan Dion mengecat setengah alis Tabi berwarna pirang, hampir mirip warna kulitnya.”
Inary tak menjawab. Daria selalu menyuruhnya untuk membeli kacamata. Mata rabunnya itu kadang begitu merepotkan—terutama bagi Daria, karena Inary seenaknya mengklaim Daria sebagai mata elang-nya dan bertanya apa yang Daria lihat tapi tak bisa secara jelas dilihat Inary.
Sebuah beban hangat menggelayuti lengan kanan Daria. Ia tak perlu menoleh untuk melihat Inary merangkul lengannya dan menempelkan kepalanya ke bahu Daria. Ia tak pernah menyingkirkan Inary, tak pernah menolak Inary ketika bocah telat puber itu mulai bergelayut manja padanya.
“Di sini begitu tenang. Lihat, kita seperti malaikat, bukan?”
Pandangan Daria turun ke bawah, sebuah refleks yang akan ia lakukan kapanpun Inary memintanya tanpa suara. Mereka seperti memiliki ikatan aneh yang menghubungkan kepala mereka satu sama lain, yang membuat mereka bisa tahu apa yang diinginkan satu sama lainnya juga. Daria menuruti kata-kata Inary dalam kepalanya yang menyuruhnya untuk memandang ke bawah.
Anak-anak itu memakai baju yang sama, seragam yang sama, dengan kepala-kepala berwarna sama—sekolah melarang mereka mengecat rambut, tentu saja, mereka berjalan seperti rombongan semut yang kehilangan feromonnya untuk menemukan kelompoknya. Kocar-kacir. Dengan teratur.
Bagaimana mereka bisa hidup seperti itu? Daria merenung sejenak. Ia dan Inary pun tak beda jauh. Hanya karena saat jam-jam tertentu mereka kabur ke tempat pesinggahan mereka ini—atap salah satu bangunan di sekolah mereka—tak lantas membuat mereka jauh berbeda dari anak-anak yang lain. Mereka harus tetap pergi ke tempat menjemukan ini, ke tempat yang disarankan—bahkan diwajibkan—oleh semua orang. Kau tak tahu apa yang akan kau dapatkan seandainya kau mematuhi semua peraturan dan tidak ribut berebut pengakuan. Setiap individu di sini, bagi Daria, adalah makhluk-makhluk aneh dengan ambisi aneh yang tak jelas pula. Termasuk dirinya dan Inary.
Baginya tempat ini tak menunjukkan bagaimana cara menjadi orang baik atau orang bermoral. Tempat ini hanya menunjukkan bagaimana cara menjadi orang terbaik di antara orang-orang yang mengusahakan hal yang sama. Menjadi ‘orang baik’ dan ‘orang terbaik’ itu sangat berbeda artinya. Kau tak perlu bersaing untuk menjadi ‘orang baik’, sebaliknya kau harus menginjak orang lain untuk menjadi ‘orang terbaik’.
Daria tak pernah menyuarakannya. Inary tak perlu tahu. Ia tak perlu tambahan bahan untuk ditanyakan.