Kadang saya kasian sama orang; kasian yah orang-orang itu, yang mungkin hidupnya susah, masalahnya pelik, ngga dapet kesempatan menuntut ilmu, ngga dapet kesempatan punya kerjaan enak, ngga punya banyak pilihan dalam hidupnya...
eh tapi kemudian saya mikir, mungkin orang ngeliat saya juga kasian, ngeliat kamu juga kasian...
Maaf lahir batin yaa... Berikut cerita rada sampah saya, kalau bisa sih nggak usah dibaca, bikin capek mata doang soalnya.
Libur lebaran kemarin saya lewati dengan sukacita, berkumpul bersama keluarga, dan berbagi kebahagiaan. FYI aja sih, siapa tau ada yang ngga libur (kasian deh kamu)
Oke, baiklah, kembali pada topik mengenai perjalanan saya dalam mencari Mr. P (jangan mikir jorok), beberapa hari yang lalu ada kejadian menarik. Seorang teman dekat keluarga berkunjung ke rumah untuk bersilaturahim. Long story short, anak pertama keluarga tersebut sekarang menginjak kelas 3 SMA, yang mana sebentar lagi ia akan lulus dan kuliah, nah masalahnya ia galau, gundah, gelisah, mengenai jurusan apa yang akan ia ambil.
Jadilah ia berkonsultasi dengan saya.
Sebuah langkah yang saya rasa cukup salah.
Soalnya bukannya tercerahkan, sepertinya saya malah makin masygul hatinya.
Saya tanya apa keinginannya, ia jawab ia ingin masuk jurusan psikologi, ia tertarik dengan psikologi, dengan ilmunya, dan ia ingin jadi psikolog. Waow, luar biasa bukan? Anak semuda itu sudah menemukan Mr. P-nya. Sayangnya, orangtuanya ingin ia masuk FK (tuh kan, FK lagi, FK lagi, ada apa sih dengan FK? Sebegitu menariknya kah punya anak dokter?).
Saya bilang, “Yaa walaupun orangtua kamu yang membiayai, tapi kamu punya hak untuk mengejar mimpi kamu. Jangan nyoba FK kalau kamu nggak mau, jangan pernah mengambil keputusan yang membuat kamu menyesal.”
(Begitu bijaknya saya menasehati anak orang tapi ngurus hidup saya sendiri aja saya nggak becus).
Saya ngaku padanya bahwa sampai sekarang saya belum menemukan passion saya, bahwa sampai sekarang saya belum menemukan apa hal yang ingin saya lakukan di sisa umur saya. Anak itu terdiam, entah bingung entah bimbang.
Saya jadi merasa bersalah. Sedikit.
Endingnya, tante saya ikut nimbrung, dia ngaku dia baru nemuin passionnya setelah anak keempatnya lahir.
What the...
Ah, saya jadi merasa bahwa hidup saya nggak parah-parah amat.
Demikian cerita cukup sampah trash talk bukan dirty talk saya, tidak berharap ini bisa berguna sih bagi kalian yang baca, tapi semoga sedikit berguna untuk menghabiskan waktu luang.
Pasti kalian anak-anak era 90an familiar dengan lagu ini. Siapa sih yang nggak tau lagu Chibi Maruko-chan? Norak ih kalau enggak tau.
Tapi di sini saya nggak ingin membahas tentang Maruko, tentang ibunya yang salah potong poni Maruko, atau tentang kakeknya Maruko yang sudah uzur. Entah kenapa akhir-akhir ini lagu ini terngiang-ngiang di kepala saya.
Bagi saya, lirik lagu ini punya arti yang nggak dangkal (walau ada yang bilang saya rada dangkal dan dengkul, tapi ya sudahlah). Coba, “seorang anak yang menemukan harta karun di dalam sana… alangkah senang dan hati gembira.”
Siapa juga yang nggak seneng nemu harta karun? Waktu kecil salah satu impian saya adalah menjadi pelaut (tentu saja karena efek samping kebanyakan nyanyi lagu nenek moyangku seorang pelaut), atau setidaknya menjadi penjelajah. Rasanya pasti mendebarkan bisa bertualang ke berbagai tempat, mendapatkan harta karun, dan bisa membeli es krim sebanyak-banyaknya. Harta karun, kala itu, menjadi hal sakral yang sangat ingin saya temukan dan saya manfaatkan (kalau ketemu).
Menginjak usia sekolah, bagi saya harta karun tidak menarik lagi, menjadi penjelajah yang bertualang ke berbagai belahan dunia tak membangkitkan minat lagi. Mengapa? Karena orang-orang di sekitar saya mulai memengaruhi iman dan pikiran saya dengan cita-cita “menjadi dokter”. Tentu saja, hidup sebagai orang kampung membuat saya silau akan manusia berjas putih ini (begitu juga dengan keluarga saya). Jadilah sejak saat itu saya didoktrin untuk “kalau besar jadi dokter”.
Rasanya puas sekali tiap ditanya guru di sekolah, “apa cita-citamu?”, jawab saya dengan lantang nan bangga, “jadi dokter, pak guruuuu!”
Saya lupa akan harta karun.
Saat saya di bangku SMP, cita-cita menjadi dokter sedikit terlupakan. Saat itu saya kepingin jadi wartawan.
Keren aja gitu bawa-bawa notes kemana-mana, mewawancarai orang, menulis berita, bisa masuk tv atau nama saya tercantum di koran. Tapi ada orang yang bilang, kalau mau jadi wartawan, nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Jahat betul orang itu, dalam sekejap menghancurkan impian saya yang saat itu ingin sekolah tinggi dan jadi wartawan. (Padahal banyak wartawan handal yang punya pendidikan tinggi, sayang sekali saya telat menyadari hal ini).
Cita-cita saya bergeser… ingin jadi artis.
Oke lah, jadi artis terlalu berlebihan, apalagi dengan badan kerempeng dan muka pas-pasan kayak saya, paling paling saya jadi pengisi acara Lenong Bocah (jadi tokoh yang disia-sia dan duduk di pojokan). Walau kalaupun saya jadi artis nggak akan bisa setenar dan secantik Desi Ratnasari, tetep saja saya ingin jadi artis. Saya sesungguhnya ingin jadi seniman, seniman teater kalau bisa, soalnya di SMP itu pertama kalinya saya menemukan bakat saya di dunia panggung. Saya menikmatinya. Sangat.
Saya menyimpan cita-cita ini sampai saya SMA, saat saya rajin-rajinnya ikut kegiatan teater.
Naik ke kelas tiga SMA, cita-cita untuk jadi seniman rasanya tak lagi menarik. Ya gimana mau menarik, saya dikelilingi orang-orang yang punya mimpi setinggi langit—sementara bagi kebanyakan orang mimpi saya cuma setinggi langit-langit kamar. Maka jiwa saya yang labil dan mudah goyah ini pun terbawa arus… ikut-ikutan mencoba peruntungan untuk masuk FK.
Alhamdulillah, saya nggak keterima FK.
Ini anugerah yang saya syukuri sampai sekarang—bahwa saya tidak menjadi dokter. Bagi saya dokter itu profesi yang luar biasa, yang menuntut ketekunan, kerja keras, dan keikhlasan (maksudnya keikhlasan begadang buat belajar), dan tentu saja dokter itu profesi yang mulia. Sayangnya, saya menilai diri saya ini tidak cocok jadi dokter—bukannya nyembuhin pasien bisa-bisa saya becandain mereka.
Saya pun masuk di jurusan biologi di sebuah institut di kota Bandung. Masuk dan kuliah di SITH, walaupun bukan cita-cita saya yang utama, menurut saya adalah hal terbaik yang bisa saya dapatkan (melihat kemampuan saya yang rata-rata dan cuman so so ini). Di sini saya mendapatkan banyak pelajaran dan sahabat—orang-orang yang saya yakini sangat berpengaruh dalam kehidupan saya.
Empat tahun di itb rasanya saya belajar tentang kehidupan lebih banyak daripada selama delapan belas tahun sebelumnya.
Lulus kuliah, nganggur setengah tahun—goler-goler di kasur, tiap hari nonton koreaan, kemudian dapet kerja.
Yang biasanya setengah hari saya habiskan untuk tidur (seperempatnya untuk goler-goler sambil baca fanfics dan streaming korea, dan seperempatnya untuk makan, urusan kamar mandi, serta ngupil) kini harus berubah. Setengah hari untuk bekerja (sumpah jam kerja saya dari jam 8 pagi, kadang bisa sampai jam 8 malem), seperempatnya untuk tidur, dan seperempatnya untuk ngerjain report atau kalau beruntung, streaming koreaan.
Saya yang biasanya nggak peduli urusan dandan, kalau kuliah pake sandal dan kaosan, sekarang harus dandan cantik, pake baju cantik, pake sepatu cantik berhak minimal 5 cm (untuk menunjang tubuh saya yang pendek ini), dan memakai contact-lens. Iyah, pake contact lens, soalnya penglihatan saya burem kalau enggak pakai kacamata, sementara kalau pake kacamata, rasanya kok saya makin jelek ya. Maka saya relakan setiap pagi dan sore saya nyolok-nyolok mata buat masang dan ngelepas contact lens.
Suatu hari saya bertanya pada diri sendiri, “jadi saya ini lagi ngapain sih?”
Saya nggak paham saya ini lagi ngapain.
Apa pekerjaan ini adalah impian saya?
Kenapa saya malah jadi juragan nenen (istilahnya Hani, seorang teman saya yang luar biasa kreatif, terima kasih Han!), padahal dulu saya ingin jadi petualang?
Sejak kapan harta karun yang ingin saya temukan berubah menjadi pundi-pundi rupiah?
Sejak kapan impian tidur nyenyak-makan enak-hidup senang, bergeser jadi kerja pagi-pulang malam-dikejar deadline-dandan cantik?
Kehidupan saya berjalan tak selambat yang saya bayangkan.
Saya bukannya tidak bersyukur, bukan, saya bersyukur sekali malah, banyak orang seusia saya yang tidak seberuntung saya (walau banyak juga yang lebih beruntung dari saya sih), tapi kadang saya mempertanyakan hal ini:
Apakah hal yang saya lakukan adalah hal yang benar-benar ingin saya lakukan?
Friska Navisa Ratri. Enam bulan lagi berusia 24 tahun. Hilang arah.
Rasanya kayak ngapung di lautan luas yang nggak kelihatan daratan, kayak sedang naik perahu tapi nggak tau harus mendayung ke arah mana.
Kalau ditanya apa hal yang paling saya inginkan, saya belum bisa menjawabnya. Sumpah, saya sendiri nggak tahu lagi apa hal utama yang ingin saya lakukan—terkait karir. Saya bingung, pada fase ini, ketika ditanya apa pekerjaan yang ingin saya lakukan di kehidupan ini.
Jujur saya merasa sangat iri pada teman-teman saya yang mulai menemukan apa keinginan mereka. Ada yang mau S2, ada yang start up bisnis, ada yang berusaha masuk perusahaan idaman mereka, setidaknya mereka punya tujuan yang jelas. Mereka punya passion, mereka menyadari apa passion mereka dan berusaha memperjuangkannya.
Lah saya, karena belum nemu apa passion saya, sementara ini kayaknya tujuan semu saya adalah menumpuk harta.
Iya, tujuan yang lumayan absurd.
Tapi mau bagaimana lagi, di saat saya nggak tau apa hal pasti yang ingin saya lakukan, jawaban ‘menumpuk harta dan menggunakannya untuk kebahagiaan semu’ adalah jawaban terpintar yang bisa saya pikirkan.
Sayangnya, hidup ini terlalu berharga untuk hanya sekadar diisi tujuan semu semata. Apaan coba, menumpuk harta? Apakah dengan menumpuk harta saya bisa membeli kebahagiaan saya yang sesungguhnya? Apakah dengan menumpuk harta saya bisa membuat diri saya bergairah, hidup dengan energi meluap-luap, dan selalu penuh semangat menyongsong hari esok?
Saya belum tahu jawabannya.
Saya belum tahu karena saya belum menemukan passion saya. Kalau sudah saya temukan, mungkin saya bisa mencoba untuk hidup berdampingan dengan passion saya, berusaha menjalaninya, dan merasa benar-benar ‘hidup’.
Live my life to the fullest. (bener gak ya? err…)
Mungkin saat ini saya adalah seorang penjelajah (ecieee), yang berusaha mencari kotak harta karun berinisial Mr. P (bukan Mr. Pen—yah, pokoknya bukan itu, tapi Mr. Passion). Semoga saya diberi umur untuk berhasil menemukannya dan menjadikannya jangkar kehidupan saya (halah).
Iya, biar nggak hilang arah.
Sekian.
Jangan nantikan kisah petualangan saya, karena ini cukup membosankan.
In the rain forests of Indonesia’s Sulawesi Island, University of California, Berkeley, herpetologist Jim McGuire found what he was looking for: direct proof that the female of a new species of frog does what no other frog does. It gives birth to live tadpoles instead of laying eggs.
A member of the Asian group of fanged frogs, the new species was discovered a few decades ago by Indonesian researcher Djoko Iskandar, McGuire’s colleague, and was thought to give direct birth to tadpoles, though the frog’s mating and an actual birth had never been observed before.
"Almost all frogs in the world - more than 6,000 species - have external fertilization, where the male grips the female in amplexus and releases sperm as the eggs are released by the female," McGuire said. "But there are lots of weird modifications to this standard mode of mating. This new frog is one of only 10 or 12 species that has evolved internal fertilization, and of those, it is the only one that gives birth to tadpoles as opposed to froglets or laying fertilized eggs."
Iskander, McGuire and Ben Evans of McMaster University in Ontario, Canada, named the species Limnonectes larvaepartus and fully describe it in this week’s issue of the journal PLOS ONE.
Caption:The newly described frog L. larvaepartus (male, left, and female) from the island of Sulawesi in Indonesia. It is the only frog known that gives direct birth to tadpoles. Credit:Jim McGuire photos.
Wah, Pak Djoko, saya sangat bangga pada Bapak, walau di tiap kuliah Bapak saya selalu ketiduran, tapi tetap saja, saya bangga pernah diajar panjenengan.
Yay! Open PO november 1!
Selamat soree .. Masih pada bingung yang mau nyari kado buat temen nikahan atau wisuda ?? Order kesinii aja yuuk .. Dijamin kece Dan ga Bakal nyesel deh!
Grab it fast!!