Hari Keduapuluhdua: Independensi
Saya sudah bergelut cukup lama di media kampus. Sejak awal masuk, saya sudah menjadi kru sebuah media kampus televisi. Dua tahun perjalanan, saya sudah mengalami jatuh bangun dan akhirnya memilih untuk berhenti serta tidak melanjutkan kepengurusan di generasi selanjutnya. Di luar itu, saya melihat banyak isu yang menjadi perbincangan dalam internal media kampus: independensi.
Sudah sejak lama, saya merasa ada yang tidak beres dari kepengurusan media kampus. Ternyata, sudah lama dana tidak pernah turun kepada beberapa media kampus yang sebenarnya berada di bawah naungan kampus. Namun, karena tidak mau bergabung dalam satu kesatuan payung yang dibentuk kampus, media-media ini tidak dapat memiliki jatah dana dari kampus. Ujung-ujungnya media ini pun harus berjalan dengan modal pas-pasan yang berasal dari pendanaan mandiri. Miris? Ya. Tapi itulah kenyataan pers mahasiswa.
Ada yang bilang, ini merupakan bentuk pengekangan kebebasan berekspresi yang dilakukan kampus kepada media. Selama ini pun saya memiliki pendapat yang sama. Namun, saya juga berusaha berpikir jernih. Saat kampus diberitakan secara buruk, yang berarti juga mengeksposnya kepada publik luas, berita ini akan dibaca oleh para calon mahasiswa beserta keluarganya. Jika saja berita ini sangat buruk, tentu para calon mahasiswa ini akan menjadi goyah untuk masuk ke dalam lingkungan ini. Alhasil, jumlah mahasiswa baru akan turun, dan kampus pun mengalami pertumbuhan yang stagnan atau bahkan minus. Bahaya untuk menjadi mahasiswa yang masih bertahan di kampusnya sendiri jika melihat kampus mengalami demikian. Namun, di satu sisi, apa yang dikritik ini sebenarnya menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungannya dan sebagai bentuk kontrol sosial terhadap lembaga petinggi.
Hari ini saya membaca unggahan seseorang di media sosial yang menyebutkan soal cinta almamater. Cinta almamater menurutnya, juga dapat menahan diri untuk tidak mengekspos hal-hal yang dapat merusak nama kampus kepada publik. Beberapa petinggi kampus juga selalu mengatakan, “Jika ada masalah, jangan ragu sampaikan secara langsung, bukan melalui media sosial.” Apa yang saya baca itu menjadi suatu perspektif baru bagi saya. Saya memang tidak sepenuhnya mencintai almamater, dan barangkali membutuhkan proses. Tapi saya menjadi setuju akan perkataan itu. Di samping cara kerja media publik dan media kampus berbeda, saya melihat ada perpektif soal kebaikan yang ingin coba dibagi. Apa yang saya ekspos ke luar tanpa memperhitungkan dampaknya, tentu akan menjadi suatu gambling bagi diri sendiri, termasuk soal kritik terhadap kampus sendiri. Penyampaian opini dan kritik ini memang harus secara objektif dan bijak, dan kampus perlu benar-benar merespons dengan baik. Barangkali munculnya kritik melalui media sosial ini direfleksikan dari ketidakkondusifan respons pihak kampus terhadap isu-isu yang dibahas. Intinya -- semua pihak perlu merefleksikan dan mendiskusikan bersama-sama duduk perkara masalah ini -- yang tak pernah kunjung usai.