indofest meninggalkan renungan bahwa salah satu healing therapy saya adalah cuci mata di antara ratusan stand yang ada. versi daringnya scrolling toko oranye. versi daily-nya dari rak ke rak mini/super market.
ketika pertama menginjakkan kaki atau log in aplikasi, modenya masih on schedule, as wish list. tapi 3-5 langkah kemudian terhipnotis, wkwk. but i enjoy the vibes so much.
berhenti di titik-titik penjaja barang menarik, lirik-lirik, cek n ricek, bolak-balik. dengan segala gelut batin tentang harga, kebutuhan, keinginan, wish list yang ga kunjung kesampaian....
jangan lupakan titipan teman-teman, jangan juga lupakan, diajak keliling dikadikuy dari stand ke stand berburu stiker, nge-games, sepik-sepik nyari bonusan harga trip...
akhirnya ga pulang-pulang, wkwk. tawaf aja berkali-kali sambil diseling jajan, hapean, telponan, bandingin harga di marketplace, tang-ting-tung pake ruas jari. untuk kemudian akhirnya apa sodara-sodara? belinya item lain di rak lain di toko lain :) ahahah
tapi fun fact-nya, item ini pernah jadi wish list. bahkan masih sampai kemarin (sekarang dah jadi milik, ckck). belum kunjung terwujud karena ga mampu-mampu belinya. stoknya hampir ga pernah ready lagi. pernah coba-coba substitusi sama yang mirip dia, tapi ga pernah rela. di samping itu, diskonnya 60%. alamak, ra kuat ra tak jak bali.
oke, fine. itu memang bukan fun fact, itu justifikasi, ya yaa. taapi fun-fact benerannya adalah, saya jatuh hati pada pandangan pertama sama dia. langsung ingat kalau dulu pernah ingin memiliki. tetiba muncul di depan mata, di luar ekspektasi. di luar wish list juga tentunya. dan setelah denial, ga usah ga butuh ga sekarang as planned please, di detik-detik akhir malah dzikir mohon ampun, bismillah otw kasir.
jadi, kira-kira berikut resume pertimbangan saya membeli barang mevvah yang bukan kebutuhan harian:
1. seberapa butuh atau seberapa sering penggunaannya? you know when it worth.
2. seberapa tidak terjangkau? apakah saya bisa membelinya? apakah ada alternatif lain yang lebih murah? wkwk, kalau engga nabung dulu, tunggu event dan tanggal cantik untuk kesempatan promo.
3. cek kualitas, bahan, fitur, rating, testimoni pembeli di marketplace dan testimoni penggunaan di youtube, serta info-info lainnya (kelebihan dan kekurangannya, maybe).
4. konsul ke orang terpercaya, yang kenal kita. tapi orang ini umumnya akan bilang gass! katanya, lebih baik nyesel beli daripada nyesel ga beli, wkwk. tolong nasihat ini ga selalu bisa dijadikan penguat dalam setiap sikon, ya. bijaklah, ges.
ga banyak dan ga ribet sebetulnya, cuma karena harganya di atas rata-rata, jiwa frugal-living saya agaknya hendak meronta, wkwk. tapi, karena saya anaknya jarang jajan, saya akumulasi kesempatan2 jajan saya kepada barang-barang kategori ini.
wuhuu i'd appreciate my self 🤍
tapi sekali lagi, bijaklah, ges. kalau semua kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi ya okelah beralih jajan barang-barang hobi. justifikasi harus seimbang sama fakta lapangan, jangan cuma jadi kreatif bikin alasan penguatan tapi pondasinya nafsu tanpa pertimbangan kebermanfaatan. semoga senantiasa Allah beri jalan dan mudahkan, ygy ^^
















