Anak Perempuan Pertama: Perempuan Independen
Pernah nahan nangis karena kalimat, “Jangan-jangan kamu kayak gitu, ya, yang konten-konten independent women itu. Jangan kayak gitu. Apa itu independent women?!”
Sebelum nahan nangis kita nahan kesel dulu, wkwk, karena waktu trend itu naik di Instagram, aku sempat kepikiran recreate karena somehow konten orang-orang relate. Tapi waktu temanku lanjutin ‘marah-marah’-nya, aku meleleh, wkwk. Dia ceramah tentang kodrat dan fitrah perempuan in a very interesting ways. Tentu maksudku bukan yang pakai manis-manis, justru yang pedes-pedes. Tapi anehnya, rasanya kayak dipuk-puk, “Kamu nggak harus selalu kuat.. kamu jangan kayak gitu, ya..”
Walaupun ujungnya tetap ber-topping ledekan khas pertemanan 🙂
Back to the topic, back to the main topic: independent women. From the deepest of our heart, as wedhok sulung, just wanna say; siapa juga yang mau, haloow? Yakita juga pengen kalih menja-manja, pengen bilang gak bisa dan gak ngerti tanpa ngerasa bersalah, dibantuin, diwaro kalo muka udah ber-subtitle, diingetin service & ganti oli, tiba-tiba diisiin bensin, nerima pujian tanpa defensif, ditanyain udah sampe ruma?
Well, ada beban nggak kasat mata untuk selalu kelihatan kuat dan mandiri yang dirasa anak (perempuan) pertama, sampai akhirnya kita lupa caranya minta bantuan atau sekadar terbuka sama apa yang dirasa. Pokoknya mantranya, “aman.”
Dalam psikologi, fenomena ini sering disebut First Born Daughter Syndrome, di mana kita cenderung meletakkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri sebagai bentuk tanggung jawab.
Penelitian Dr. Jeffrey Kluger (Psikolog) dalam bukunya The Sibling Effect menunjukkan bahwa anak pertama sering memikul ekspektasi orang tua yang lebih tinggi sehingga secara nggak sadar membentuk karakter perfeksionis dan tertutup. Karena itulah, ketika ada orang yang bisa ‘membaca’ kita, bisa terjemahin isi kepala yang bahkan kita sendiri nggak ngerti atau bingung definisiin dan jelasinnya, luangin waktu untuk memahami kita: rasanya terlampau mengharukan! 💥
Rasanya, kek disayaaang sekali.. Sekaligus sebagai pengingat kalau di balik ‘personal-branding’ perempuan mandiri yang nggak sengaja kita bangun, kita juga manusia yang sangat layak untuk dipahami dan dicintai..
At least, jadi mandiri memang pilihan, tapi bukan berarti kita harus mikul dunia sendirian.. Sometimes, the greatest strength is being vulnerable enough to let others in. Suddenly remembered you today, hope you're good.