Anak Perempuan Pertama: Angan-Angan Alpha
Catatan ini dimulai dari entah apa yang diterima dan dipahami lawan bicaraku saat aku jawab (asbun, actually) alpha male sebagai salah satu kriteria pasangan. Aku kurang suka dengan responnya yang tertawa. Entah apa maknanya.
Kubilang asbun karena pada saat itu yang kupahami tentang manusia jenis ini adalah sosok dominan. Ada alpha male, ada juga alpha girl. Dalam kamusku, Alpha means dominant.
Meskipun asbun, jawabanku serius, dan respon itu bikin aku ngerasa konyol sekaligus gak dimengerti. Mungkin yang bersangkutan memang gak ngerti, tapi aku jadi malas menjelaskan, rasanya bukan seperti diskusi. Gak penting menurutku untuk menjelaskan sesuatu yang penting menurutku ke pihak yang cuma penasaran aja.
Kembali ke kriteria, kalau ditanya kenapa, maka jawabannya gak lain gak bukan karena peran & pengalamanku sebagai anak pertama yang membiasakan aku memikul tanggung jawab sejak dini, harapan menjadi teladan, tumbuh dalam pola pengasuhan VOC yang cenderung disiplin dan keras, kerap diminta mengalah karena dianggap lebih dewasa.. Seringkali rasanya seperti gak ada tempat bertanya. Baik anak maupun orangtua, ini sama-sama pengalaman pertama kami.
Mungkin asbunku tentang penggunaan istilah ini kurang tepat, tapi maksudku: bukan dominasi dalam arti mengatur atau menguasai, melainkan sosok yang matang. Sosok yang berambisi & berkharisma (punya visi, tidak klemar-klemer), berkemampuan memimpin, mengarahkan, melindungi.. Sebab anak perempuan pertama yang satu ini mengangankan rasa aman..
Anak perempuan pertama ini udah terlalu lelah menjadi "Alpha" dalam hidupnya sendiri (di keluarga/pekerjaan). Aku mendambakan pasangan "Alpha" yang bisa mengimbangi, supaya gak perlu lagi terus-menerus memikul beban sebagai pengambil keputusan utama, mengerem kecenderunganku mengatur, meredam kontrol yang berlebihan. Mana tertarik aku sama sosok yang gak punya arah hidup yang jelas. Diandalkan agaknya melelahkan..
Anak perempuan pertama yang perfeksionis satu ini cenderung susah percaya orang lain, aku teh kayaknya butuh stimulasi intelektual dan emosional yang setara. Banyak orang yang memuji kehebatan, kemandirian, keberanian. Tapi yang gak mau banget aku kasih lihat ke dunia, aku jarang ketemu orang yang bisa natap balik tanpa merasa terintimidasi, jarang ketemu orang yang gak tumbang saat aku yapping ide-ide gilaku, orang yang bisa beradu argumen tanpa perlu merasa egonya terluka. Anak perempuan pertama yang satu ini butuh cermin, bukan bayangan.
Anak perempuan satu ini jenuh jadi mandiri, kan mau juga bermanja-manja tanpa merasa geli. Pengen juga punya ruang untuk jadi lemah.. Pengen juga minta tolong dan dibantu tanpa merasa bersalah..
Well, bukan cuma anak perempuan pertama, sih. Siapa pun yang terlalu lama menjadi sandaran orang lain pada akhirnya, yaa, butuh tempat bersandar juga.












