Morning Beliefs : Have a Good Day (greetings)
Hujan hari ini. Menghantarkan ku pada mimpi buruk yang mengganggu. Teringat masa lalu. Saat itu, badai datang menyentak kehidupanku. Deras, begitu deras air hujan. Gemuruh, seperti ombak di lautan menerjang setiap atap rumah. Aku terbangun. Gelisah, gelisah, gelisah. Padahal cuma hujan. Dan memori yang tak pernah mau lagi ku buka, justru menghampiri malam itu. Memaksa, dengan lancang menginginkan ku kembali pada masa lalu.
Tidak cukup hanya mata terpejam. Tidak cukup hanya doa, "Tuhan aku tidak mau melihatnya di isi kepala ku!". Tidak cukup hanya kerasnya lagu Beethoven untuk sebuah ketenangan jiwa, malam ini.
Angin bertiup kencang. Terasa dekat menghempaskan air itu turun. Begitu deras begitu lebat begitu hebat. Aku hanyut dalam suara hembusannya. Aku hanyut dalam riuhnya air mata Tuhan turun. Mungkin?
Dan kali ini, (sepertinya) dengan lapang. Perlahan mengingat yang sudah terlewat. Mencoba menghampiri yang datang, memori dengan rupa yang haru. Aku harus tetap kuat. Aku harus bisa menembus desakannya. Aku harus.. rela saat ini juga -bukan keinginan mengubah yang di belakang. Aku berdoa, manusia tidak berkuasa atas keikhlasan. Aku pergi meninggalkan kekecewaan. Meninggalkan duka. Meninggalkan perasaan lara. Jauh, jauh -jauh sebelum itu akhirnya terjadi. Hingga saat ini.. yang tertuliskan hanya sebuah abstrak dari yang tak ingin ku jelaskan. Rasanya beban. Rasanya berat. Rasanya tidak benar-benar tenang. Wajahku tersungkur selimut dingin. Suhu badanku tak lagi sehat. Menggigil. Hujan hari ini sangat kejam. Membawa seluruh harta masa lalu. Yang membusuk, yang berharga. Yang direlakan, yang di (senyum) simpulkan.
on note : Januari, 30th 2020
(dawn turns to short term)