Menyuarakan suara yang seharusnya disuarakan. #selamatkanslamet #slametkuduslamet #inyongslamet #inyongrikaslamet #lovepurwokerto #instapurwokerto #inipurwokerto #sudutpurwokerto #banyumas

seen from Algeria

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Moldova

seen from France
seen from Hong Kong SAR China

seen from Germany
seen from United States

seen from Brazil

seen from Algeria
seen from Russia

seen from Algeria

seen from Australia
seen from China

seen from Israel

seen from Türkiye
seen from Algeria

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
Menyuarakan suara yang seharusnya disuarakan. #selamatkanslamet #slametkuduslamet #inyongslamet #inyongrikaslamet #lovepurwokerto #instapurwokerto #inipurwokerto #sudutpurwokerto #banyumas
Menyuarakan suara yang seharusnya disuarakan. #selamatkanslamet #slametkuduslamet #inyongslamet #inyongrikaslamet #lovepurwokerto #instapurwokerto #inipurwokerto #sudutpurwokerto #banyumas
Menyuarakan suara yang seharusnya disuarakan. #selamatkanslamet #slametkuduslamet #inyongslamet #inyongrikaslamet #lovepurwokerto #instapurwokerto #inipurwokerto #sudutpurwokerto #banyumas
Menyuarakan suara yang seharusnya disuarakan. #selamatkanslamet #slametkuduslamet #inyongslamet #inyongrikaslamet #lovepurwokerto #instapurwokerto #inipurwokerto #sudutpurwokerto #banyumas
#Repost from @ygaihpunk with @regram.app ... #selamatkanslamet #inyongslamet ----------------------------------- Gunung Slamet pada mulanya dianggap benteng biodiversitas terakhir yang ada di ujung barat Jawa Tengah oleh kalangan akademisi maupun kalangan pecinta alam. Gunung Slamet seolah-olah menjadi laboratorium alam dengan hutan hujan tropisnya serta pemandangan alamnya yang masih perawan. Namun, siapa sangka akhir-akhir ini Slamet makin tidak baik-baik saja. Diawali dengan keresahan warga di sekitaran curug Cipendok beserta DAS kali Prukut dan sekitarnya serta 13 desa di tiga kecamatan lain tulisan ini akhirnya lahir. Keresahan ini muncul karena pencemaran air yang massif di kecamatan Cilongok, Banyumas. Terutama di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan dan mengandalkan suplai air dari sungai dan mata air yang berhulu di lereng selatan gunung Slamet. Lalu, siapakah sebenarnya yang ada dibalik pencemaran air yang menimbulkan keresahan ini? Usut punya usut ternyata ada korporasi besar yang menggarap megaproyek senilai Rp 7T ini. Adalah PT Sejahtera Alam Energy (SAE) yang secara de facto bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan ini. Tak hanya itu, “kabar gembiranya” PT SAE ini bekerja sama dengan korporasi elite luar negeri yang bergerak di industri energi yaitu STEAG Energy dari Jerman. Lalu seperti apakah keresahan yang ada di masyarakat? . Keresahan ini bukan tanpa alasan logis. Air yang tercemar oleh material dari pembukaan 45 ha (dan akan terus bertambah) lahan hutan lindung secara massif dalam rangka pembuatan infrastruktur PLTP membuat warga merana. Air bagi sebagian warga yang tinggal di desa desa terdampak oleh proyek ini merupakan sarana produksi dasar bagi kehidupan ekonomi bagi masyarakat. Banyak peternak ayam, pembudidaya ikan, petani dan pekebun yang sangat terdampak dengan tercemarnya air dari sungai dan mata air yang ada (coba tonton film Banyu Buthek produksi AJI Purwokerto). Kalau kita cermati lagi, air bagi mereka ini adalah modal dasar tetap untuk berproduksi secara ekonomi dan social (fixed capital kalau kata Marx). Dengan tercemarnya air otomatis para produsen ini (Peternak, pekebun, petani) mengalami kesulitan produksi
Selamatkan Gunung Slamet (Jawa Tengah)
Perusakan Alam Smakin merajalela PT. SAE adalah pemegang saham sebesar 25% bersama satu perusahaan raksasa asal jerman yang memegang 75% saham untuk membabat habis hutan di lereng selatan Gunung Slamet dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). Proyek ini akan membabat 24.660 hektar hutan yang terbentang dari Kec.Kaligua Kab.Brebes sampai Kec. Baturraden Kab.Banyumas. dan dari total tersebut 675 hektarnya adalah merupakan hutan lindung yang terbentuk secara alami selama jutaan tahun dan merupakan rumah bagi flora dan fauna endemik slamet. Celakanya proyek sebesar 7T ini cacat secara kelengkapan dokumen yang hanya berlandaskan UKL-UPL, tanpa AMDAL! dan tidak mempertimbangkan skala kerusakan dalam jangka panjang. Resiko dan bahaya yang besar akan segera dirasakan masyarakat ketika proyek ini diteruskan, melihat ini apakah kita akan diam saja ? Jika anda peduli mari kita sebarluaskan! Lereng bagian selatan Gn. Slamet termasuk dalam kawasan hutan lindung yang didalamnya terdapat macam-macan spesies satwa langka dan endemik Jawa. Lebih dari 30 spesies satwa yang sudah terdata berhabitat di kawasan ini seperti Owa Jawa, Elang Jawa, dll. Keberadaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi akan menjadi sumber tekanan yang sangat mengancam kelestarian flora dan fauna di kawasan Gn. Slamet. Pembukaan lahan, penebangan pohon, dan eksploitasi hutan nantinya akan menjadi sumber dari rusaknya bentang alam yang ada di kawasan lereng bagian selatan dari Gn. Slamet. Proyek Geothermal adalah bencana baru yang dibuat oleh pemerintah yang mengatasnamakan proyek nasional untuk kesejahteraan rakyat, sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian ekosistem. Gunung Slamet harus selamat dari keserakahan korporasi. Apa kita akan diam saja melihat kerusakan ini ? Mari bersatu, berjuang dan berlawan Panjang umur perlawanan! Gunung Slamet Yang Tak Lagi Selamat Gunung Slamet pada mulanya dianggap benteng biodiversitas terakhir yang ada di ujung barat Jawa Tengah oleh kalangan akademisi maupun kalangan pecinta alam. Gunung Slamet seolah-olah menjadi laboratorium alam dengan hutan hujan tropisnya serta pemandangan alamnya yang masih perawan. Namun, siapa sangka akhir-akhir ini Slamet makin tidak baik-baik saja. Diawali dengan keresahan warga di sekitaran curug Cipendok beserta DAS kali Prukut dan sekitarnya serta 13 desa di tiga kecamatan lain tulisan ini akhirnya lahir. Keresahan ini muncul karena pencemaran air yang massif di kecamatan Cilongok, Banyumas. Terutama di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan dan mengandalkan suplai air dari sungai dan mata air yang berhulu di lereng selatan gunung Slamet. Lalu, siapakah sebenarnya yang ada dibalik pencemaran air yang menimbulkan keresahan ini? Usut punya usut ternyata ada korporasi besar yang menggarap megaproyek senilai Rp 7T ini. Adalah PT Sejahtera Alam Energy (SAE) yang secara de facto bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan ini. Tak hanya itu, “kabar gembiranya” PT SAE ini bekerja sama dengan korporasi elite luar negeri yang bergerak di industri energi yaitu STEAG Energy dari Jerman. Lalu seperti apakah keresahan yang ada di masyarakat? Keresahan ini bukan tanpa alasan logis. Air yang tercemar oleh material dari pembukaan 45 ha (dan akan terus bertambah) lahan hutan lindung secara massif dalam rangka pembuatan infrastruktur PLTP membuat warga merana. Air bagi sebagian warga yang tinggal di desa desa terdampak oleh proyek ini merupakan sarana produksi dasar bagi kehidupan ekonomi bagi masyarakat. Banyak peternak ayam, pembudidaya ikan, petani dan pekebun yang sangat terdampak dengan tercemarnya air dari sungai dan mata air yang ada (coba tonton film Banyu Buthek produksi AJI Purwokerto). Kalau kita cermati lagi, air bagi mereka ini adalah modal dasar tetap untuk berproduksi secara ekonomi dan social (fixed capital kalau kata Marx). Dengan tercemarnya air otomatis para produsen ini (Peternak, pekebun, petani) mengalami kesulitan produksi yang signifikan. Contoh nyatanya adalah kenaikan jumlah kematian ayam yang dialami peternak, kesulitan pemijahan Ikan dewa, dan kesulitan warga pada umunya untuk air bersih. Untuk mengatasi hal ini sebagian dari mereka mengganti air yang biasanya didapat secara cuma-cuma dari aliran sungai dan mata air dengan air dari sumur. Artinya bagi masyarakat pada umumnya ini sebuah kerugian nyata yang harus segera diatasi secara simultan. Sedangkan bagi yang berperan sebagai produsen produk riil ini adalah pencerabutan secara tidak langsung (indirect enclosure) dari mata pencahariannya. Memang saat ini setelah “seolah-olah” ditinjau oleh bupati Banyumas ada tindakan-tindakan yang bersifat penanggulangan sementara akan hal ini. Pembuatan dam-dam dan embung dengan filter material di daerah yang sedang di buka hutannya diklaim efektif oleh PT SAE untuk mengatasi keruhnya air. Namun hal ini secara ekologis menjadi bom waktu yang sangat berbahaya. Dam- dam yang di bangun sebagai kolam sedimen material ini di bangun secara remanen. Artinya bangunan ini akan melapuk seiring berjalannya waktu, apalagi bangunan ini akan tersentuh oleh air yang melarutkan material sepanjang waktu. Tentu pelapukan akan jauh lebih cepat terjadi. Jika bangunan ini lapuk lalu hancur, apa yang terjadi dengan desa desa dibawahnya? Jawabannya adalah banjir bandang. Uniknya metode- metode biofilter menggunakan banyak spesies tumbuhan yang berjenjang untuk mereduksi kandungan material dalam air malah tidak dipilih sebagai metode penanggulangan yang lebih efektif dan aman bagi masalah ini. Mengapa? Jawabannya adalah metode ini dianggap “mahal” oleh pengembang. Berkaitan dengan indirect enclosure, ada baiknya kita berkaca pada Lean Alejandro. Menurut Lean, indirect enclosure adalah proses pencerabutan secara perlahan dan berjenjang terhadap produsen dari seluruh factor-factor produksi mulai dari factor sekunder sampai factor produksi primer oleh kapital yang paling besar. Pencerabutan ini bermaksud untuk melemahkan produsen produsen produk riil dengan berbagai cara agar para produsen ini takhluk kepada capital sehingga tidak ada persaingan dalam menggunakan sumber daya yang ada sebagai modal dasar tetap bagi pemilik modal yang berkuasa. Berkaca dari hal ini, artinya PT SAE dan kroni luar negrinya setidaknya terindikasi untuk menguasai sumberdaya alam dan manusia yang ada disekitaran daerah eksplorasinya. Betapa tidak, dengan menguasai sumber daya alam, terutama air dan hutan/tanah (akumulasi primitive) korporasi akan dimudahkan untuk akses bahan baku produksi. Tak lupa, dengan tercerabutnya factor-faktor produksi dari para produsen otomatis membuat produsen yang tadinya berdikari akan kehilangan factor produksi tersebut (Terutama air dan tanah), otomatis mereka akan menjadi pasar tenaga kerja yang melimpah dan murah. Sebuah keuntungan lagi bagi korporasi. Jangan berhenti sampai disitu pembahasan kita. Masih ada aspek lain yang tak kalah penting. Aspek ekologis juga merupakan salah satu aspek dasar yang terciderai paling parah dengan adanya proyek ini. Tahukah masyarakat luas bahwa hutan di gunung Slamet (baik Hutan lindung, hutan produksi terbatas, maupun hutan produksi) adalah rumah alami bagi 91 spesies tumbuhan, 33 spesies mamalia kecil (khususnya rodentia, chiroptera), 12 mamalia besar (termasuk Panthera pardus melas) 24 spesies reptilian, 6 spesies serangga langka, 85 spesies gastropoda, dan 11 amfibia (termasuk Megophrys montana). Data ini adalah data tahun 2009, artinya masih banyak spesies lain yang belum teridentifikasi. Sebagai laboratorium alam yang belum selesai dibukukan dalam bentuk data base terperinci, sebuah kerugian besar kiranya jika ekosistem ini rusak sebelum terdokumentasikan dengan baik dan benar. Selain itu, kita juga belum tahu potensi dari ekologis dan ekonomis dari spesies yang sudah serta belum teridentifikasi. Ajaibnya, Hutan Slamet juga menyimpan satu spesies indigeneous yaitu Bulbophyllum truncatum. Anggrek epifit ini adalah tumbuhan khas dari hutan Slamet. Jadi bagaimana keberadaan spesies ini jika lereng selatan gunung Slamet saja sudah di buka seluas 45 ha? Dengan demikian Slamet menyimpan biodiversitas yang begitu tinggi dan layak dilindungi. Biodiversitas ini juga meliputi kerumitan interaksi relung-relung ekologis yang ada didalamnya. Kerumitan interaksi ekologis tersebut merupakan komponen utama ketahanan ekosistem terhadap kerusakan yang disebut “daya lenting” ekosistem. Daya lenting ini diidentifikasikan oleh para ekolog sebagai kemampuan ekosistem untuk memulihkan diri dari gangguan ekologis yang ada selama eksistensi ekosistem itu. Pertanyannya bagaimana kondisi ekosistem gunung Slamet saat ini jika komponen inti “daya lenting” ini sudah rusak parah? Lucunya PT SAE denga kroninya mengkalim bahwa proyek ini hanya mengganggu ekosistem hutan Slamet dalam batas minimal padahal sampai saat ini belum ada ekolog-ekolog yang mampu menghitung secara kuantitaif dengan perhitungan matematis rigid seberapa besar “daya lenting” lingkungan. Yang menyedihkan juga adalah masih minimnya biolog-biolog Indonesia (terutama ekolog) yang memetakan dan mengidentifikasi biodiversitas hutan gunung Slamet dan menyimpannya sebagai data base ilmiah yang komperehensif. Sebuah ketelenjangan borok intelektual di Republik ini. Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk gunung Slamet dan warga yang terdampak hari ini? Jawabannya ada dibenak masing masing yang membaca tulisan ini. Namun ada banyak hal yang bisa dilakukan saat ini. Segeralah berjejaring, mengumpulkan data dan membuat analisis komperehensif dan holistic tentang geothermal. Lalu segera turun ke basis, organisirlah seluruh elemen masyarakat dan mulailah perlawanan terhadap rezim dan korporasi untuk Slamet yang sedang tidak baik-baik saja. ~~Slamet yang tak lg slamet -Izin share Minggu, 04.06.2017 ~ 9.31