26 April, 2017
Sudah dua jam lebih aku disini. Duduk didepan layar 21inc dengan jemari yang menari-nari. membuat huruf-huruf berkumpul pada kalimatnya sendiri. kalimat perkalimat yang terbentuk jadi paragraf. tanpa lelah jemari ini terus menusuri tiap hurufnya. tiap huruf yang dijadikan kalimatnya.
Semua rampung. Semua selesai. Ku bacakan semua dari awal. Rupanya jemari sedang menceritakan seseorang. Seseorang yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Seseorang yang membuat harinya enggan berlalu. Seseorang yang membuat dirinya melayang terbang jauh. Seseorang yang mencoba menutup cerita kelamku dan buat cerita baru.
Berawal dari dua tahun lalu. Saat itu, kepingan hati retak dan pilu amat dalam. Saat itu, kepingan hati retak dan sulit untuk dibuat ulang. Saat itu, kepingan hati retak dan sulit tuk disatukan (lagi). Saat itu musim hujan menemani hati yang padam. Saat itu, air mata tak ada hentinya mengalir bagai anak air sungai. Saat itu, hati rusak dan tak ingin lagi waktu terus berjalan.
Namun seseorang datang tanpa diundang. Datang dengan selembar kertas putih untuk memulai cerita. Datang untuk merubah semua. Dia hadir dengan telapak tangan terbuka. Dia bagai dokter yang mengobati hati terluka. Dia bagai kaka yang terus saja buatku tersenyum bahagia. Dia bagai guru yang tak pernah lupa mengingatkanku pada-NYA. Dia bagai teman yang selalu mau mendengar kabar entah duka atau suka. Dia bagai musuh yang selalu saja berlomba-lomba mengejar pahala-NYA. Dia. Dia. Dia. Masih banyak tentang nya yang sangat sulit ku bercerita.
Namun sejauh ini, Hatiku belum terbuka untuknya. Bukan karena masalalu yang buat diri ini enggan menerimanya. Namun karena saat itu, aku jadi faham – bagaimana seharusnya aku menerima lelaki pada hati yang tak ingin diretakkannya lagi. Hati ini terlalu lemah, sehingga dengan mudahnya ia menerima kenyataan pahit lelaki.
Sssttttttt... ! Biarlah semua sudah berlalu dan jadi pelajaran tuk masa depan.
Dan saat ini. Aku menjauh dari perasaan. Menjauh dari segala yang membahayakan hati. Menjauh agar tak lagi dapat pergi. Menjauh dari sesuatu yang merusak hati. Menghindar !
Aku bersyukur dengan situasi keadaan saat ini. Saat dimana semestinya memang harus terjadi sejak dulu. Sendiri tanpa seorang dalam hati. Meski berawal sakit. Namun percayalah, Rasa sakit itu terbalaskan dengan kesendirian yang bahagia. Amat sangat bahagia, Mengapa? Karena hati ini mengerti. Tanpa ada yang harus dikhawatirkan, atau mengkhawatirkan. Tanpa ada yang menyakiti atau disakiti. Tanpa ada dosa meski itu hanya zina hati yang merindu pada seorang yang tak semestinya dirindu.
22 Mei, 2017
22:42














