Nouman Ali Khan: Al-Kautsar - A Deeper Look
Rangkuman singkat dari ceramah Nouman Ali Khan tentang QS: Al-Kautsar. (https://bayyinahtv.com/topics/1/categories/9/series/164/videos/1687)
Dari surat Al-Kautsar, kita dapat mempelajari tiga hal:
1. Gratitude (rasa syukur)
Struktur rumah di Mekkah pada jaman Nabi berbeda dari masa sekarang. Rumah-rumahnya saling berdempetan satu sama lain (hanya dibatasi tembok) dan memiliki dua bagian: ruangan besar untuk hampir semua kegiatan seperti kumpul keluarga, memasak, dsb., serta kamar untuk tidur. Ruangan besar di luarnya tidak tertutupi atap, sehingga apa-apa yang dibicarakan akan terdengar ke rumah sebelah.
Suatu ketika, Rasulullah saw. baru saja kehilangan bayi laki-lakinya, yaitu Ibrahim r.a. Kita amat mengerti bahwa karena saking menyakitkannya, musuh bebuyutan pun tidak mungkin merayakan wafatnya seorang anak. Intinya, manusia yang masih punya hati nurani tidak mungkin melakukan hal sebejat itu. Namun keadaan ini berbeda bagi Rasulullah saw. Abu Lahab, tetangga sekaligus pamannya sendiri, tak sengaja mendengar kesedihan yang dialami keluarga Rasul. Anda tahu apa yang dilakukan orang gila itu? Abu Laknat--sori, maksudnya Lahab melompat-lompat kegirangan sambil berteriak sekencang mungkin, “Horeee! Muhammad tidak punya keturunan!!”
Sinting. Saya sempat ngumpat-ngumpat dalam hati pas dengar bagian sini.
Pada masa itu, garis keturunan merupakan sesuatu yang sangat didamba-dambakan oleh setiap orang besar. Orang ingin cucu-cicitnya memamerkan marga mereka, semisal saya keturunan Fulan bin Fulan, dan sebagainya. Dan yang dapat menurunkan marga hanyalah anak laki-laki. Pantas saja Abu Lahab begitu lega ketika mendengar isak tangis Rasulullah saw. tanda kehilangan seorang anak. Musuh-musuh Rasul tentu tidak ingin ada yang mewariskan kemuliaan dari orang yang paling mereka benci, apalagi turut menyebarkan pesan Islam.
Coba bayangkan oleh Anda kesedihan sekaligus kemarahan bertumpuk-tumpuk yang dialami Rasulullah saw. saat itu. Bayinya baru saja meninggal, namun tetangganya malah selebrasi. Saya ketika sedang asyik-asyiknya nonton lalu laptopnya tiba-tiba habis baterai saja bisa marah-marah sendiri. Huft. Kita sebagai umat beliau kadang bisa sangat tidak bersyukur, ya. Shalat malas, baca Quran enggan, sedekah apalagi. Padahal tantangan demi tantangan yang dilewati Rasulullah saw. dalam menyebarkan pesan ilahi amat tidak terbayangkan.
Setelah kejadian yang traumatis tersebut, Allah Swt. menurunkan ayat Al-Quran demi menenangkan hati Rasulullah saw. Al-Kautsar, ayat pertama (saya tidak tahu ayat apa saja yang diturunkan saat itu), yang berbunyi: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”
Ketika ditimpa musibah, biasanya orang-orang di sekitar kita menyarankan untuk bersabar. Namun banyak orang sekarang yang bilang nasihat itu tidak membantu, menyebalkan, dan minim empati. Lalu bagaimana dengan “bersyukur”?
“Bro, anak gue baru aja meninggal.”
“Bersyukur!”
(DISCLAIMER: Saya tidak menyarankan Anda benar-benar mengatakan hal semacam ini pada orang yang anaknya baru saja meninggal--atau musibah apapun itu.)
Dari sini kita dapat belajar bahwa obat yang “sebenarnya” dari kesulitan adalah besyukur, bukan bersabar. Mungkin pesan semacam itu terdengar keras dan kasar bagi manusia yang baru saja tertimpa musibah, namun Allah Swt. kan selalu lebih tahu. NAK menjelaskan bahwa akan selalu ada lebih banyak alasan untuk bersyukur daripada mengeluh. Semisal, Anda tidak keterima di PTN, mungkin memang menyakitkan pada awalnya. Namun Allah lebih tahu. Ternyata Anda mempelajari banyak keahlian yang akan sangat berguna di dunia perkulihahan dalam satu tahun ketinggalan dari teman-teman Anda. Bisa saja jika Anda keterima di PTN, karena ketidaksiapan yang hanya Allah ketahui, Anda akan kewalahan dan mungkin berakhir depresi kala menghadapi berbagai tantangannya. Contoh yang lebih gamblang, coba baca kisah Nabi Yusuf a.s. Beliau dibuang saudara-saudaranya ke sumur, dijual sebagai budak, dijebloskan ke penjara tanpa salah apapun, sampai dilupakan teman sepenjara yang telah ia bantu. Jika mendengar dari sisi ini semata, kita akan berpikir “Anak ini salah apa ya sampai tertimpa begitu banyak kemalangan. Sial banget kayaknya.” Padahal, setelah melewati segala musibah tersebut, Nabi Yusuf a.s. pada akhirnya dapat mencegah ratusan ribu rakyat Mesir (atau ribuan deng saya gak tahu detailnya) dari bencana kekeringan bertahun-tahun. Allah Swt. memang perencana yang paling baik dari segala perencana.
Rasulullah saw. mungkin kehilangan Ibrahim r.a., keturunan beliau mungkin terputus, namun pada akhirnya Allah memberikannya gelar mulia daripada segala manusia dan namanya tak pernah absen disebut sampai sekarang. Sedangkan Abu Lahab malah dipandang sebagai orang paling keji dan namanya diumpat-umpat sampai sekarang.
Islam is the religion of optimism. Jadi, bersyukurlah terhadap segala realita hidup yang Anda hadapi. Saya pernah baca trik dalam suatu buku tentang bersyukur, yaitu coba pikirkan sepuluh hal positif dari situasi yang menyulitkan. Mau sampai ngarang juga gak apa-apa. Trik ini telah membantu saya untuk menemukan nikmat pada sudut-sudut yang tidak kelihatan.
2. Pray (shalat)
Salah satu cara terbaik dalam memperlihatkan rasa syukur adalah shalat. Shalat karena berterimakasih kepada Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepada Anda (Islam), yang telah mencegah Anda dari rasa lapar, memberi atap di atas rumah Anda, dan masiiihhhh banyak lagi. Nikmat dari-Nya tidak akan terhitung. Maka dari itu, shalat yang bener! Setidaknya penuhi shalat lima waktu yang wajib. Itulah yang paling dasar dari segalanya.
3. Sacrifice (berkorban)
Ketika baru saja diberi anak, kita disuruh untuk melakukan aqiqah. Menyembelih binatang yang lalu dibagikan pada sesama untuk merayakan peristiwa membahagiakan tersebut. Dari sini kita belajar bahwa kita harus sering-sering berkorban dan bersedekah terutama setelah dianugerahi nikmat yang besar. Lagi-lagi, ini merupakan bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah Swt.
Maaf jika poin kedua dan ketiga kurang detail, karena peristiwa turunnya Al-Kautsar setelah wafatnya anak Nabi begitu berkesan bagi saya pribadi. Semoga kita semua dapat dipertemukan dengan beliau di surga-Nya nanti. Aamiin ya rabbal alamin.












