Resensi Buku: Don’t Follow Your Passion (Cal Newport, 2016)
Don’t Follow Your Passion by Cal Newport
My rating: 5 of 5 stars
Salah satu buku nonfiksi terbaik yang saya baca tahun ini.
Alasannya? Teruslah membaca.
Pada awalnya saya menemukan buku ini, saya langsung berpikir “ah jangan-jangan judulnya mengecoh nih, siapa tahu ujung-ujungnya kita disuruh mengikuti passion juga.”. Kemudian saya membaca bagian belakangnya, dan setelah penasaran dengan yang katanya “dapat mematahkan keyakinan umum dan menjungkirbalikkan teori yang ada.”, akhirnya saya tergerak untuk membeli buku ini.
Sebelumnya izinkan saya bercerita sedikit.
Akhir-akhir ini saya sering dibingungkan oleh pilihan karier dan pekerjaan. Dua kali saya memiliki pekerjaan (pertama di industri penerbitan & kedua di bidang startup TI) dan dua kali pula saya keluar dari pekerjaan tersebut. Ilusi dan pemikiran bahwa “inilah pekerjaan yang selama ini saya inginkan dan sesuai passion.” toh ternyata tidak bertahan begitu lama dan kembalilah saya kepada rutinitas dan andai-andai. Sebagai seorang lulusan ilmu sosial & politik, tepatnya di jurusan hubungan internasional (HI), saya kerapkali berpikir dan bertanya-tanya, “apakah seharusnya saya mencari pekerjaan yang memang bidangnya?” Sementara diluar sana, pekerjaan yang secara spesifik mencantumkan “membutuhkan lulusan HI” pun sangatlah jarang.
Saya menyukai buku dan sangat tertarik dengan dunia startup, karena itulah saya sempat memilih bekerja di industri penerbitan & startup. Tetapi ternyata di kedua tempat tersebut saya juga merasa tidak puas.
Bimbang adalah yang kemudian terjadi. Saya merasa tidak puas dengan tempat bekerja saya, tetapi untuk mencari yang spesifik pun, langka. Saya merasa bahwa diluar sana ada pekerjaan tepat untuk saya yang sesuai dengan passion. Saya juga sangat menyukai perbincangan politik dan dinamika internasional. Mungkin kali ini passion saya adalah kembali kepada dunia HI?
Saya masih tetap bertanya sampai saya menemukan buku ini di sebuah rak yang tidak teratur di dalam tenda penjualan buku kantor distribusi Mizan di Cinambo, Bandung.
Passion hanyalah sebuah hipotesis.
Buku ini dimulai dengan pernyataan yang mungkin cukup kontroversial:
“‘Ikutilah passion anda’ merupakan saran yang berbahaya.”. Buku ini kemudian menceritakan kisah seseorang bernama Thomas yang – seperti kita – memiliki pandangan awal tentang passion yang akan membahagiakannya.
Thomas adalah seorang sarjana filsafat & teologi. Ia memiliki keyakinan bahwa mempraktikkan ajaran Zen Buddha adalah passionnya, bahwa hidup seperti biksu adalah passion yang akan memberikan kepadanya makna hidup dan ketenangan bagi pencarian profesinya.
Selepas kuliah, ia tidak serta merta langsung menjadi biksu. Karena membutuhkan uang, ia melakoni bermacam-macam pekerjaan, dari menjadi pengajar bahasa Inggris di Korea sampai menjadi petugas entri data di London. Selama ia bekerja, ia terus memupuk keyakinan dan keinginan terpendamnya untuk menjadi biksu dan mempraktikkan passion-nya. Ia terus merasa gelisah dan khawatir dengan pekerjaan-pekerjaannya, sampai suatu ketika, ia menemukan salah satu biara yang menurutnya dapat menjadi tempat ia menyalurkan passion dan ketertarikannya akan Zen. Ia melakukan proses pendaftaran, keluar dari pekerjaannya, dan mulai menjalani hari-hari sebagai praktisi Zen, seorang biksu.
Jalan menjadi seorang biksu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang harus dihadapi sebelum ia resmi menjadi seorang biksu Zen. Singkat kata, setelah melalui tahapan demi tahapan, ia pun resmi menjadi seorang biksu, ia telah menjadi seorang sosok yang ia impikan. Ia telah menghidupi passion-nya!
Benarkah begitu?
Ternyata tidak. Suatu hari, ia sadar bahwa dengan menjadi seorang biksu, ia tetap tidak dapat mencapai kepuasan, kedamaian dan kebahagiaan seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ia tetap menjadi orang yang khawatir dan gelisah. Sampai kepada suatu sore di hari minggu, di antara hutan-hutan ek yang mengelilingi biara, ia menangis. Ia tetap orang yang sama.
“Seperti kebanyakan orang, dia yakin bahwa kunci kebahagiaan kita adalah mengenali panggilan hidup dan mengejarnya dengan segenap keberanian yang kita miliki. Namun, keyakinan ini sangat naif. Terpenuhinya mimpi menjadi praktisi tetap Zen tidak serta merta membuat hidup Thomas indah.”
Inilah apa yang dinamakan dengan jebakan pola pikir passion. Passion adalah sebuah hipotesis yang dengannya, orang menganggap bahwa ia pasti akan mencapai kebahagiaan dan kepuasan. Kenyataannya tidak senaif itu.
Ada tiga kesimpulan mengenai passion.
Kesimpulan pertama, passion dalam berkarier adalah hal yang langka.
Tahun 2002, seorang psikolog Kanada bernama Robert J. Vallerand melakukan penelitian dengan memberikan kuesioner kepada 539 mahasiswa di Kanada. Kuesioner tersebut menanyakan apakah mereka memiliki passion dan jika iya, apa sajakah itu? Hasil yang didapat cukup besar. 84% dari mereka menyatakan mereka memiliki passion. Tetapi ketika menjawab pertanyaan apa saja passion mereka, kebanyakan menjawab hal-hal yang agak sulit untuk dijadikan pekerjaan. Hal-hal seperti menari, bermain hoki, bermain ski, membaca dan berenang menempati posisi teratas dari penelitian tersebut. Kurang dari 4% passion yang teridentifikasi tersebut memiliki kaitan dengan pekerjaan atau pendidikan. 96% sisanya menggambarkan passion-nya sebagai minat, hobi, olahraga dan seni.
Kesimpulan kedua, passion membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Kesimpulan ini juga didukung oleh penelitian. Adalah Amy Wrzesniewski, seorang profesor perilaku organisasi di Universitas Yale. Ia melakukan penelitian tentang perbedaan pekerjaan, karier dan panggilan hidup.
“Dalam rumusan Wrzesniewski, pekerjaan adalah jalan untuk membayar tagihan; karier merupakan jalan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik; dan panggilan hidup merupakan pekerjaan yang berperan penting dalam hidup kita sekaligus bagian vital bagi identitas diri kita.”
Ia menyurvei para pekerja dari berbagai bidang pekerjaan, dari mulai dokter, pemrogram komputer, hingga pegawai administrasi, dengan menganalisis mereka yang memiliki jabatan dan tanggung jawab yang sama. Hasilnya cukup mengejutkan. Ketika ia menyurvei para asisten administrasi kampus, mereka membedakannya sebagai pekerjaan, karier, atau panggilan hidup.
“Dengan kata lain, sepertinya tipe pekerjaan itu sendiri tidak terlalu menentukan seberapa besar orang menyukainya.”
Wrzesniewski tidak berhenti sampai di situ. Ia juga menyurvei para asisten itu untuk mengetahui perbedaan dibalik pandangan mereka terkait dengan profesi yang mereka miliki. Hasilnya, faktor penentu terkuat dari mereka yang memandang pekerjaannya sebagai asisten administrasi kampus sebagai panggilan hidup adalah dari masa kerja yang sudah mereka jalani dalam bidang tersebut. Mereka yang sudah menjalani masa kerja yang cukup lama akan merasa diri mereka berpengalaman dan menguasai bidang tersebut. Akhirnya, ia merasa bahagia, bersemangat, dan mencintai pekerjaannya. Ini juga merupakan hasil dari penelitian Wrzesniewski.
Kesimpulan ketiga, passion merupakan efek samping dari penguasaan keahlian.
Ada lagi penelitian dan topik yang mengkonfirmasi hasil penelitian Wezesniewski. Daniel H. Pink, penulis buku berjudul Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us, pernah menjadi pembicara dalam sesi acara TED Talk dengan topik On the Surprising Science of Motivation. Daniel yang telah bertahun-tahun mempelajari ilmu motivasi manusia ini menjelaskan bahwa menurut Teori Penentuan Nasib Sendiri atau Self Determination Theory (SDT), terdapat tiga hal dasar yang menentukan motivasi kita:
1. Otonomi: Perasaan bahwa kita memegang kendali atas keseharian kita, dan bahwa tindakan-tindakan kita bernilai penting.
2. Kompetensi: Perasaan bahwa kita mahir dalam bekerja.
3. Keterkaitan: Perasaan adanya keterikatan dengan orang lain.
Semakin lama seseorang menekuni suatu bidang, semakin ia dapat membangun kompetensi dan otonomi. Ini mengkonfirmasi temuan dari Wrzesniewski.
Ketika pola pikir passion berpotensi membuat kita bimbang dan salah arah, apa yang sebaiknya kita cari? Pola pikir perajin jawabannya. Apa itu pola pikir perajin? Pola pikir perajin adalah pola pikir yang mengutamakan nilai-nilai yang dapat kita berikan kepada dunia. Kepada sesuatu di luar diri kita. Ini berbanding terbalik dengan pola pikir passion yang memfokuskan kepada apa yang dapat dunia ini berikan untuk kita. Pola pikir passion ini lah yang dapat membuat kita merasa cepat tidak puas. Karena kita akan dibuat untuk selalu merasa bahwa diluar sana, ada pekerjaan impian yang pasti cocok untuk kita.
Buku ini mengumpulkan pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah orang-orang yang mengutamakan pola pikir perajin. Mereka yang hidup bukan dengan mengikuti passion, tetapi kisah orang-orang yang mementingkan kemampuan, menguasai bidang yang ia geluti, dan biarkan apa yang dinamakan dengan passion untuk mengikuti kita seiring dengan kemampuan kita yang semakin meningkat. Ini dinamakan dengan modal karier. Modal karier ini bisa kita dapatkan dimana saja. Bisa dari pendidikan yang kita tekuni, atau juga keahlian yang kita bisa.
Jangan anggap remeh modal karier kita, karena ini dapat menjadi jalan menuju pekerjaan yang hebat, yang dapat memberikan kepada kita kreativitas, dampak, dan juga kontrol lebih atas pekerjaan kita. Buku ini menceritakan kisah-kisah nyata dari orang-orang yang membangun karier dan panggilan hidupnya dengan baik dan cermat, tidak hanya sekedar mengutamakan panggilan passion semata.
Masih banyak yang dibahas oleh Cal Newport dalam buku ini. Kisah-kisah mereka yang sukses mengasah kemampuan, hingga mereka yang akhirnya menemukan misi dari profesi dan bidang yang mereka geluti. Misi ini bukan passion yang sifatnya naif. Tetapi lebih dari itu, misi ini adalah sesuatu yang ditemukan setelah kita berhasil menggeluti suatu bidang dan kemampuan dalam jangka waktu yang cukup lama. Misi inilah yang kemudian meningkatkan modal karier kita dan memberikan kepada kita karier yang unik. Dalam kata lain, misi tidaklah instan. Mereka yang dikisahkan dalam buku ini juga manusia biasa yang pernah mengambil langkah yang salah, berpindah-pindah pekerjaan, tidak tahu arah tujuan, sampai akhirnya mereka menemukan titik utama dari kemampuan mereka, berfokus pada mengembangkan itu, sampai akhirnya menemukan misi dari karier mereka.
Kembali ke refleksi diri pribadi, kini saya merasa lebih tenang dan lebih yakin dalam memilih jalur karier. Pertama, saya dapat menentukan modal karier yang saya miliki. Saya mempelajari ilmu sospol, itu modal karier yang saya miliki. Saya menggeluti bidang sosial media & marketing selama satu tahun lebih di dalam dunia penerbitan & startup, itu juga modal karier. Yang perlu saya lakukan adalah mengasah kemampuan saya dimanapun nanti saya memilih untuk berkarier, yang tentunya sesuai dengan tunjangan modal karier yang sudah saya punya.
Kalau saya boleh merekomendasikan satu buku motivasi dan pegangan karier yang komplit dan dapat dipraktekkan secara langsung, maka tanpa ragu, buku inilah yang akan saya rekomendasikan.
Sedikit penutup dari buku ini,
“Bekerja dengan tepat lebih baik daripada menemukan pekerjaan yang tepat.”
Bagi yang sudah bekerja, selamat dan semangat mengasah kemampuan! Bagi yang belum, selamat mencari karier dan profesi yang baik!
View all my reviews