Effort
“Kenapa sih nilai saya segini-gini aja padahal udah belajar mati-matian sampai sakit?”
“Kok dia belajarnya selow kek siput tapi nilainya A mulu?”
“Udah apply kerja kemana-mana tapi belum dipanggil wawancara. Ada orang sekali apply langsung keterima kerja”
“Udah kerja capek-capek tapi ga dihargain...”
Have you ever heard this before? or maybe mengalami secara langsung? Pasti ada beberapa dari kita yang pernah mikir or at least denger dari orang lain. Gak papa. Di dunia yang ngelihatnya hasil (result), emang kayanya kalau belum menghasilkan atau punya pencapaian apa-apa tuh bisa bikin down banget. Tingkat kepercayaan diri bisa turun, meragukan diri sendiri dan meragukan Tuhan (eh jangan deng ya).
Kira-kira dua hari lalu, dengerin ceramahnya Ust Nouman Ali Khan yang mana ini menampar saya berkali-kali dan sengaja dituliskan supaya jadi reminder (terutama buat diri sendiri). Soal effort (usaha) dan hasil (result).
Kalau boleh jujur, saya juga beberapa kali sempat ngerasa minder, sama orang-orang dengan usia way younger than me yang pencapaiannya udah luar biasa. Udah conference di luar negeri, jadi dosen PNS, punya usaha sendiri, dan pencapaian-pencapaian lain. Pas diingat-ingat, waktu kuliah juga ada beberapa mata kuliah yang belajarnya udah mati-matian tapi nilainya ga sesuai harapan.
Waktu itu sih mikir, “Oh ya mungkin ada orang lain yang usahanya lebih lebih di atas saya. Yang doanya lebih kenceng dia atas saya.” Atau “Mungkin ada alasan kenapa saya udah belajar maksimal (di standar saya) tapi nilainya belum maksimal”
Ketika ragu-ragu dan mikir begini, sepertinya kita lupa kalau yang punya hak untuk memberikan hasil itu cuma Allah. Yang punya rencana dibalik hasil itu (apapun) ya cuma Allah. Mungkin kalau kita belajarnya setengah-setengah kemudian dapat nilai A, Allah bisa lihat kita nya bakalan jadi malas belajar di masa depan. Padahal esensi belajar/kuliah itu bukan cuma soal nilai. Tapi lebih dalam dan lebih luas dari itu.
Sempet mikir ga sih, ngapain waktu sekolah atau kuliah, belajar matematika seperti linear, kurva, aljabar, bahkan matriks, turunan dan diferensial padahal mungkin jurusan utama kita itu kedokteran, gizi, kesehatan masyarakat atau social science? Kan ga kepake tuh. Sehari-hari juga orang jarang menggunakan ilmu-ilmu dasar untuk menyelesaikan masalahnya.
Kalau menurut pandangan saya pribadi, esensi belajar itu selain memperdalam wawasan dan pengetahuan sama perspektif, juga untuk melatih diri melawan semua ketakutan yang muncul dari keraguan karena tidak paham. Contoh, pernah gak mau mengerjakan sesuatu tapi udah khawatir atau takut duluan kalau nanti gak bisa? Saya pernah. Belajar crochet (recent event haha). Pertama kali lihat temen dengan lihat crochetting itu kaya takjub, kok bisa? Ribet banget kelihatannya karena benangnya disangkut-sangkutin gitu ke hakpen. Ternyata pas udah diniatin mau belajar dan nekad aja nyoba terus, alhamdulillah bisa. Meski belum bagus, at least bisa bikin wadah kartu (tapi dipakenya buat simpen obat karena terlalu longgar hahaha).
Orang selalu bilang, kita harus menghargai prosesnya. Meanwhile untuk ukuran manusia, proses atau usaha itu sulit diukur. Standarnya apa? Karena effort ini mirip data kategorik tapi ga bisa dikategorikan haha (naon). Yang jelas bukan data numerik yang bisa diukur pakai angka. Kalau hasilnya mungkin bisa diukur pakai angka. Makanya kata Ust Nouman Ali Khan yang bisa mengukur atau menilai effort seseorang itu hanya Allah. Manusia itu bisanya ngukur result atau hasil.
Ya kan kita ga tahu kalau ternyata teman kita yang nilai matkulnya dapat B ternyata belajarnya 3 kali lipat dari kita. Meanwhile kita belajar kebut semalam tapi Alhamdulillah dapat A. Tapi hal ini bukannya menjadi sumber kesombongan ya, karena kita genius atau pintar, melainkan harus disyukuri karena Allah segitu baiknya ngasih kita hasil terbaik dengan usaha yang mungkin hanya setengah dari teman kita. Temen kita yang usahanya berkali lipat tapi resultnya gak sesuai mungkin Allah sudah siapkan rencana sendiri.
Nouman juga menyampaikan kalau sebenarnya yang Allah ukur itu bukan berapa besar gaji kita, berapa banyak aset kita, atau pangkat kita, tapi effort kita. Misal, kegiatan non-profit yang gak keliatan sama orang banyak.
Kalau buat diri sendiri, ketika udah bekerja mati-matian tapi apresiasinya rendah, kalimat ini semoga bisa menjadi pengingat : “Cuma Allah yang bisa lihat usaha kamu. Seberapa mati-matiannya kamu bekerja untuk menjadi bermanfaat. Kalau penghargaan dari manusianya rendah, ya gak papa. Karena mereka ga bisa lihat. Sementara Allah bisa”.











