mungkin memang belum hari ini, tapi mungkin waktunya adalah esok hari. mungkin memang belum saat ini, tapi mungkin momennya adalah besok, besoknya, atau besoknya lagi.
kepada diri, aku minta, jangan berhenti, ya? hari ini gagal, besok kita coba lagi. hari ini sedih, besok kita tersenyum lagi. hari ini jatuh, besok kita bangkit lagi.
selalu ada kesempatan menjadi lebih dewasa, sekali lagi.
Pernah main ular tangga? Sebuah permainan klasik dengan dadu di mana kita harus melewati berbagai rintangan untuk mencapai tujuan. Ketika bermain dan berulang kali terkena ular, apakah Anda termasuk tipe yang santai atau gampang ngambek?
Manusia biasanya senang berencana dan berangan. Sebelum umur 30, aku ingin... Sebelum umur 40, aku ingin... Kalimat-kalimat ini sangat lazim dalam sebuah rencana masa depan. Namun, realita sering menyuguhkan hal yang berbeda. Apa yang kita tata dan usahakan dengan sedemikian rupa seringkali berujung kecewa.
Saya setuju bahwa hidup itu serius, pilihan dan keputusan yang perlu diambil juga sulit. Tapi mungkin kita terlalu keras. Gagal beberapa kali, penghakiman yang kejam datang dari sekitar dan juga diri sendiri: Kamu kalah! Memalukan! Tidak pelu mencoba lagi!
Padahal, kadang-kadang merencanakan masa depan itu seperti bermain ular tangga. Ada pemain yang ingin buru-buru menang, sukses mencapai finish. Biasanya ia tipe yang mudah jengkel ketika berkali-kali terkena ular. Apalagi kalau ditertawakan dan diejek teman-temannya, pasti bete dan tidak mau main lagi. Tapi ada juga yang santai. Melorot terus, tapi tetap tersenyum sambil optimis memberi jampi-jampi pada dadu agar pas mendapatkan tangga.
Sekarang coba tengok rencana masa depan masing-masing. Ada berapa banyak hal yang belum tercapai? Lalu, apa yang terjadi?
Tidak ada.
Kita sebetulnya tidak kenapa-kenapa. Mungkin belum sukses menurut takaran kita, tapi baik-baik saja. Masih hidup, bernapas, dan bisa berjuang terus. Lalu kenapa harus sekeras itu pada diri sendiri?
Mungkin kita belum beruntung dalam melempar dadu.
Mungkin kita perlu melihat hidup dengan sedikit lebih santai dan bercanda.
Tentu bedanya dalam permainan ini nasib kita ditentukan dadu, sedangkan di kehidupan sungguhan selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari semua 'ular' yang pernah menjatuhkan.
Hidup selalu datang dengan kejutan. Mungkin bisnis kita tiba-tiba mandek, pasangan selingkuh, pekerjaan tidak sesuai harapan, orang terkasih meninggal, apapun bisa terjadi. Sudah melangkah hati-hati sekalipun, kita bisa terjatuh.
Jika saat ini Anda merasa gagal, stuck, atau tidak tahu harus melakukan apa, mungkin Anda sedang jatuh terkena ular. Ketika orang-orang di sekitar sukses dan Anda masih gitu-gitu aja, mungkin di ronde ini mereka yang sedang mendekati finish. Peran Anda sekarang adalah bertepuk tangan, ikut merayakan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Saat tiba-tiba Anda mendapatkan bantuan tak terduga, mungkin itu adalah tangga keberuntungan. Roda terus berputar, kesempatan kita akan datang pada waktunya.
Tanpa perlu membanding-bandingkan, kita nikmati saja permainan ular tangga kehidupan ini. Syukuri setiap tangga dan ambil hikmah dari setiap ular. Daripada bersungut-sungut, bukankah lebih seru bermain ular tangga sambil tertawa?
Seperti lirik lagu, hari ini aku mencoba sesuatu yang baru, menantang, dan cukup menguji nyali. Bahkan untuk melewati hari ini aku harus melakukan berbagai tirakat panjang untuk tetap dikuatkan dan dimudahkan proses nya.
Hari ini akan ku kenang sebagai pertama kalinya aku merasa lebih deg-degan dibanding sidang skripsi, berhadapkan dengan orang lain yang bahkan aku sendiri tak mengenal nya. Ketika proses nya berakhir, aku mulai bimbang akan hasil. Entah perasaan darimana namun itu terus mengganggu pikiran karena nyata nya aku memang belum bisa maksimal hari ini.
Tapi ternyata aku salah, setelah bercerita semuanya pada Allah aku justru makin tenang, memang hanya perasaanku saja yang merendah. Aku tak seharusnya memikirkan hasilnya. Seperti kata quote do your best and let Allah do the rest. Tugas ku hanya sampai disini, wewenang ku hanya sampai pada tahap mencoba. Tidak boleh lebih dari itu karena nyata nya aku sudah memberikan yang terbaik yang aku bisa.
Biar saja Allah yang mengurusi bagaimana tentang hasilnya, jika aku ikut campur, ku pastikan aku tidak akan mampu ikut mencampuri urusan-Nya...
Bila saat ini, setiap hal yang tengah kita usahakan lagi-lagi belum juga membuahkan hasil.
Gapapa, walau sudah mencoba namun hasil yang didapat tak selalu sesuai dengan yang didapat. mungkin memang itu tandanya kita perlu belajar lagi, usaha lagi.
Meski sekarang masih kerasa capek pun gapapa, itu tandanya kita ga berdiam diri.
Semua yang kita lakukan hari ini mungkin emang nggak akan selalu kerasa dampaknya saat ini juga. Mungkin esok, lusa atau bahkan beberapa tahun yang akan datang, baru kerasa.
Nikmati setiap proses yang dilalui, jangan nyerah meski keliatannya jalan ditempat.
#Ceritaku Bagian 002: Mencoba Pergi tapi Kau Dibenci
Kawan, tolong baca ini sejenak. Renungkan jika memang kau pernah mengalaminya.
Apakah kau pernah mencoba untuk terlihat baik di mata orang lain, tapi kau lelah karena tidak dihargai?
Apakah kau pernah berusaha dengan segenap waktu dan kemampuanmu untuk menolong orang lain, tapi kau tidak pernah mendengarnya berterima kasih?
Apakah kau memiliki banyak teman, tapi tidak ada satupun yang mengerti?
Kau lelah dan mencoba untuk pergi, tapi kau malah dibenci oleh mereka. Merasa bingung dan hidup ini sia-sia. Pada akhirnya kau putus asa.
Aku hanya ingin bilang, pergilah. Tak apa. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan lain di luar sana meskipun hanya kau satu-satunya yang mengerti.
Tak apa, kawan. Orang lain bukanlah sumber atas kebahagiaanmu, melainkan kebahagiaan itu ada di dalam dirimu sendiri. Jika memang kau merasa orang lain tidak pernah mengerti dengan keadaanmu, atau mereka mereka tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, kau sudah tahu jawabannya; mereka sampah.
Kebahagiaan bukan dilihat dari seberapa banyak teman yang kau miliki, tapi seberapa berharganya waktu yang kau lewati. Jika kau punya banyak teman tapi waktumu terasa hampa dan sia-sia, kau sudah memilih jalan yang salah.
Seharusnya jika memang kau mengatakan bahwa mereka adalah teman, kau pantas mendapatkan kebahagiaan. Ya ya... aku tahu. Awalnya kalian memang terlihat sangat bahagia, bukan? Tapi tolong lihat dari sisi yang lain. Apakah ketika kau membutuhkannya, mereka ada?
Dengar. Semakin tua usiamu, semakin kau sadar jika tidak ada yang namanya teman baik. Satu per satu mereka akan pergi memilih untuk jalannya masing-masing. JIka kau terus memaksakan untuk mengikufi standar orang lain, kau bukannya akan berjalan bersama, melainkan terseok-seok mengejar hal yang berlalu.
Jangankan kalian, aku saja pernah mengalaminya. Begitu sakit rasanya ketika kau sudah begitu peduli kepada temanmu sendiri. Tapi ketika kau jatuh dan membutuhkannya, dia tak peduli. Bahkan ketika aku berada di titik terendah dalam hidupku, temanku menghilang.
Sedih? Kecewa? Terluka?
Tentu saja.
Bagaimana bisa temanku yang selalu menumpahkan air matanya dipundakku, memohon padak ketika dia membutuhkan pertolongan, menumpahkan keluh kesahnya di hadapanku, kini acuh.
Apakah dia tahu jika aku sedang jatuh dan terluka? Tentu saja dia tahu. Tapi dia tidak peduli.
Apa yang aku lakukan setelahnya?
Meskipun membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dan meraih kembali kepercayaan diriku, kini aku jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Aku sudah tidak peduli dengannya ataupun orang lain yang hanya menjadi benalu dalam hidupku.
Lucunya, ketika aku sudah melupakannya, orang-orang itu datang dan membenciku. Benci karena aku menganggap mereka kini hanya seperti sampah. Lho, bukannya memang seperti itu?
Mau seberapa kerasnya mereka mencoba menjatuhkanku, aku tak peduli.
Sudahlah, intinya, kau pantas bahagia apapun jalanmu kedepan. Kau hanya cukup tersenyum, lupakan, dan hadapi.
Rasa takut itu tidak akan membawamu ke mana-mana. Bahkan melangkahkan kaki saja belum tentu. Ketakutan itu membuatmu tetap diam di tempat dan tidak akan sampai ke tujuan.
Beranilah untuk mencoba meskipun itu salah, itu jauh lebih baik. Setidaknya kamu tidak hanya diam di tempat. Sudah berusaha untuk melangkahkan kaki menuju tujuanmu.
“Kenapa sih nilai saya segini-gini aja padahal udah belajar mati-matian sampai sakit?”
“Kok dia belajarnya selow kek siput tapi nilainya A mulu?”
“Udah apply kerja kemana-mana tapi belum dipanggil wawancara. Ada orang sekali apply langsung keterima kerja”
“Udah kerja capek-capek tapi ga dihargain...”
Have you ever heard this before? or maybe mengalami secara langsung? Pasti ada beberapa dari kita yang pernah mikir or at least denger dari orang lain. Gak papa. Di dunia yang ngelihatnya hasil (result), emang kayanya kalau belum menghasilkan atau punya pencapaian apa-apa tuh bisa bikin down banget. Tingkat kepercayaan diri bisa turun, meragukan diri sendiri dan meragukan Tuhan (eh jangan deng ya).
Kira-kira dua hari lalu, dengerin ceramahnya Ust Nouman Ali Khan yang mana ini menampar saya berkali-kali dan sengaja dituliskan supaya jadi reminder (terutama buat diri sendiri). Soal effort (usaha) dan hasil (result).
Kalau boleh jujur, saya juga beberapa kali sempat ngerasa minder, sama orang-orang dengan usia way younger than me yang pencapaiannya udah luar biasa. Udah conference di luar negeri, jadi dosen PNS, punya usaha sendiri, dan pencapaian-pencapaian lain. Pas diingat-ingat, waktu kuliah juga ada beberapa mata kuliah yang belajarnya udah mati-matian tapi nilainya ga sesuai harapan.
Waktu itu sih mikir, “Oh ya mungkin ada orang lain yang usahanya lebih lebih di atas saya. Yang doanya lebih kenceng dia atas saya.” Atau “Mungkin ada alasan kenapa saya udah belajar maksimal (di standar saya) tapi nilainya belum maksimal”
Ketika ragu-ragu dan mikir begini, sepertinya kita lupa kalau yang punya hak untuk memberikan hasil itu cuma Allah. Yang punya rencana dibalik hasil itu (apapun) ya cuma Allah. Mungkin kalau kita belajarnya setengah-setengah kemudian dapat nilai A, Allah bisa lihat kita nya bakalan jadi malas belajar di masa depan. Padahal esensi belajar/kuliah itu bukan cuma soal nilai. Tapi lebih dalam dan lebih luas dari itu.
Sempet mikir ga sih, ngapain waktu sekolah atau kuliah, belajar matematika seperti linear, kurva, aljabar, bahkan matriks, turunan dan diferensial padahal mungkin jurusan utama kita itu kedokteran, gizi, kesehatan masyarakat atau social science? Kan ga kepake tuh. Sehari-hari juga orang jarang menggunakan ilmu-ilmu dasar untuk menyelesaikan masalahnya.
Kalau menurut pandangan saya pribadi, esensi belajar itu selain memperdalam wawasan dan pengetahuan sama perspektif, juga untuk melatih diri melawan semua ketakutan yang muncul dari keraguan karena tidak paham. Contoh, pernah gak mau mengerjakan sesuatu tapi udah khawatir atau takut duluan kalau nanti gak bisa? Saya pernah. Belajar crochet (recent event haha). Pertama kali lihat temen dengan lihat crochetting itu kaya takjub, kok bisa? Ribet banget kelihatannya karena benangnya disangkut-sangkutin gitu ke hakpen. Ternyata pas udah diniatin mau belajar dan nekad aja nyoba terus, alhamdulillah bisa. Meski belum bagus, at least bisa bikin wadah kartu (tapi dipakenya buat simpen obat karena terlalu longgar hahaha).
Orang selalu bilang, kita harus menghargai prosesnya. Meanwhile untuk ukuran manusia, proses atau usaha itu sulit diukur. Standarnya apa? Karena effort ini mirip data kategorik tapi ga bisa dikategorikan haha (naon). Yang jelas bukan data numerik yang bisa diukur pakai angka. Kalau hasilnya mungkin bisa diukur pakai angka. Makanya kata Ust Nouman Ali Khan yang bisa mengukur atau menilai effort seseorang itu hanya Allah. Manusia itu bisanya ngukur result atau hasil.
Ya kan kita ga tahu kalau ternyata teman kita yang nilai matkulnya dapat B ternyata belajarnya 3 kali lipat dari kita. Meanwhile kita belajar kebut semalam tapi Alhamdulillah dapat A. Tapi hal ini bukannya menjadi sumber kesombongan ya, karena kita genius atau pintar, melainkan harus disyukuri karena Allah segitu baiknya ngasih kita hasil terbaik dengan usaha yang mungkin hanya setengah dari teman kita. Temen kita yang usahanya berkali lipat tapi resultnya gak sesuai mungkin Allah sudah siapkan rencana sendiri.
Nouman juga menyampaikan kalau sebenarnya yang Allah ukur itu bukan berapa besar gaji kita, berapa banyak aset kita, atau pangkat kita, tapi effort kita. Misal, kegiatan non-profit yang gak keliatan sama orang banyak.
Kalau buat diri sendiri, ketika udah bekerja mati-matian tapi apresiasinya rendah, kalimat ini semoga bisa menjadi pengingat : “Cuma Allah yang bisa lihat usaha kamu. Seberapa mati-matiannya kamu bekerja untuk menjadi bermanfaat. Kalau penghargaan dari manusianya rendah, ya gak papa. Karena mereka ga bisa lihat. Sementara Allah bisa”.
Mengerti belum tentu memahami, kadang kita terlalu mengerti bagaimana perilaku kita terhadap orang lain dan bagaimana pula respon orang lain kepada kita
Tapi nyatanya, selain mengerti kita juga harus memahami bagaimana sikap kita kepada orang lain, pun sebaliknya. Terlalu memakai perasaan tidak baik, begitu juga hanya mengandalkan logika. Semua harus seimbang, tidak berat sebelah sehingga adanya perasaan yang membuat tak nyaman yang muncul
Mungkin kita pernah atau bahkan sering memikirkan bagaimana sikap yang harus kita tunjukkan kepada orang lain, tapi, akhirnya kita juga harus merasakan bagaimana sikap-- hingga respon yang muncul sehingga kita tau apakah keberadaan sudah cukup membuat orang sekitar nyaman
Bahkan dalam keheningan, kita bisa menciptakan kedamaian dan kesenangan hingga kesesuaian karena itu mungkin yang dibutuhkan. Bukan hanya tawa dan keluhan atau celotehan yang mungkin bisa saja mengubah susana yang seharusnya lebih tenang
Namun, kita memang tidak bisa menentukan apakah tindakan kita 100 persen benar dan membuat orang sekitar nyaman. Tapi cukup tidak memberikan tekanan energi yang berlebih mungkin akan sedikit membantu