Memang kehidupan sebagai istri kedua bagi saya banyak yang pahit dari manisnya.
Tapi banyak orang berkata yang penting ikhlas maka kamu akan mendapatkan bahagia.
Tapi saya akui tahun pertama rumahtangga, susah sekali bagi saya untuk belajar ikhlas. Bagaimana mau ikhlas orang hati kecil saya masih sulit menerima perlakuan-perlakuan yang tidak adil dari suami. Ego dan rasa marah yang memuncak selalu menjadi bisikan setan untuk saya selalu menolak apa yang saya alami dalam kehidupan berumahtangga.
Dan akhirnya saya pulang ke kota D, tidak banyak yang bisa saya ceritakan kehidupan saya bersama keluarga saya.
Hanya menunggu kelahiran bayi dengan semua keterbatasan yang ada, saya berusaha bertahan. Hingga saat yang saya nantikan tiba, saya melahirkan anak pertama dengan menggunakan fasilitas papa saya. Alhamdulillah saya melahirkan dengan selamat setelah berjuang 12 jam menahan rasa sakit dengan persalinan normal. Lahirlah putra pertama kami dengan berat 3,8kg panjang 50cm. Suami tidak ada pada saat saya melahirkan.
Karena masih di luar kota dan baru bisa sampai keesokan harinya. Saya senang sekali rasa haru,sedih,gembira,khawatir,dengan apa yang akan kami alami berdua bercampur jadi satu bila saya melihat bayi saya. Dengan susah payah saya belajar menyusui bayi, agak sulit bagi bayi saya menyusui pada saat itu. Air susu saya terlalu banyak alhamdulillah. Walaupun anak saya suka gelagapan pada saat menyusu. Akhir nya sering saya harus membuang dulu air susu tsb separuh , baru saya menyusui anak saya sehingga si anak tidak gelagapan.
Suami cuma bisa stay 1 minggu karena harus berangkat bekerja segera. 2 bulan kemudian baru suami saya datang lagi untuk melihat anaknya. Tapi bagi saya tidak masalah. Karena saya tau suami saya harus bekerja. Tidak terasa sudah 8 bulan umur anak kami, saya tidak tau kalau saya sudah hamil lagi anak kedua, dan saya baru merasakan ada yang bergerak2 di dalam perut saya. Saya periksa ke rumahsakit, dokter berkata bahwa saya sudah hamil jalan 6 bulan umur kehamilan.
Saya bersyukur sekali masih di anugerahi seorang anak lagi, tapi sekaligus saya sedih sekali. Kalau mengingat kehidupan saya, bagaimana nantinya nasib anak2 saya.
Singkat cerita umur anak saya pertama 10 bulan,saya diboyong suami pindah ke kota tempat dia bekerja di kota J.
Kami menyewa rumah disana dg 3 kamar, dg barang2 seadanya yg masih ada waktu saya tinggalkan dulu. Tapi karena saya sudah punya seorang anak saya rasa kami butuh kulkas. Saya bersyukur sekali saya ada bawa uang simpanan saya selama saya tinggal di rumah orangtua. Jadi saya bisa beli kulkas pertama tetap dengan uang simpanan saya. Karena suami selalu bilang tidak punya uang.
Disinilah neraka kecil kedua yg saya rasakan.
Saya baru tau type suami saya adalah orang pemalas. Setiap hari kerjanya pagi sampai sore hanya tidur di depan tv. Malam begadang nonton film atau main game di depan komputer.
Sama sekali tidak ada perhatian sedikitpun ke anak saya. Temperamental sekali. Dan juga tidak pernah membantu saya dalam pekerjaan rumah tangga.
Karena pada saat itu saya sedang hamil tua dan masih punya bayi.
Semua saya kerjakan sendiri, tanpa bantuan suami. Sedangkan suami hanya tidur dan marah2. Kadang saya bertanya apakah dia tidak bekerja? Atau proyek apa yang sekarang sedang dijalani kenapa tidak diawasi? Itulah suami saya, semua dipercayakan ke orang lain. Mau terima beres duduk ongkang2 kaki belaga jadi bos. Alasannya,“ sudahlah saya gak usah ikut campur urusan cari duit, itu urusan dia”.
Kadang suami main golf dengan teman2nya, saya jadi gak habis pikir gaya hidup seperti apa ini? Suami hidup enak dan bergaya diluar , tapi saya dan anak saya dirumah hidup benar-benar seperti orang miskin.
Pernah suami saya ada pekerjaan lain di kota L, itu dikota istri pertama. Suami tidak pulang selama 2 minggu, dan meninggal kan uang cm sekitar 50 ribu, dengan persediaan makanan pas2an. Saya berusaha sehemat2 nya pada saat itu. Di perumahan tempat saya tinggal warung sayuran jauh sekali,sedangkan saya tidak ada kendaraan. Terpaksa saya harus jalan kaki sekitar 20 menit dengan terburu2.
Karena saya harus tinggalkan anak saya yg umur 10 bulan sendiri dirumah, setiba dirumah abis dr warung saya lihat anak saya menangis mencari saya. Sedih benar rasanya, saya peluk anak saya sambil menangis. Karena saya tidak sanggup menggendong anak saya pada saat itu untuk jalan kaki ke warung, anak saya gemuk dan saya hamil tua. Kejadian ini selalu berulang setiap hari. Sampai akhirnya uang saya habis, sedangkan saya harus makan, kulkas saya kosong ,hanya ada beras. Syukurlah saya ada tanam sayuran untuk lalap yang daunnya seperti daun bunga taik ayam kalo di daerah saya namanya. Tapi saya lupa nama daun itu apa. Alhamdulillah saya masih bisa makan selama 3 hari dengan nasi,garam, dan daun itu dilalap mentah. Setiap suap rasanya airmata ini mengalir panas, tapi saat itu hanya itu yang bisa saya makan. Suami saya sms belum bisa pulang jadi dia suruh saya pandai2 saja. Ini adalah kata2 ampuh suami supaya saya berfikir sendiri bagaimana caranya bertahan.
Setelah 3 hari suami saya pulang kerumah. Kembali dengan kebiasaan suami dirumah hanya tidur dan tidur. Waktu itu saya sedang masak di dapur, anak saya di depan main sendiri di depan tv tempat suami saya suka tidur kalo siang. Tidak sengaja anak saya memukul badan abahnya dengan gulungan koran, karena anak saya suka sekali main gulungan koran atau selebaran2 iklan yg di kirim ke rumah. Tiba2 saya mendengar suami saya menghardik saya, sambil berkata,“ tolong urus ni anak!!!! Saya mau tidur!!! Jangan pernah berani mengganggu saya tidur!!!”.
Saya melihat anak saya yg pertama ke dapur sambil menangis dan pipinya bengkak membiru di pelipis. Sakiiitttttttt sekali rasanya hati saya melihat anak saya saat itu. Sambil menangis saya peluk anak saya sambil minta maaf,“maafin umi ya nak….. Umi juga takut sama abah”…..
Dengan hati2 sekali saya tanya ke suami,“ anak abg tampar ya?” Suami,“ Iya Kenapa? Tak suka? Kalau tak suka pergi!Kerja tu yang becus, jaga anak saja tak pandai!!!”.
Saya cm bisa berkata anak ini masih terlalu kecil,dia tidak mengerti. Kemudian saya ke dapur, saya larang anak saya main ke depan,saya gak mau anak saya juga jadi bulan2an suami saya.
Setiap saya lihat memar bengkak kebiruan dipipi anak saya, rasanya seperti hati saya disayat. Sakit sekali, saya yang melahirkan, saya yang tau sakitnya.
Tapi saya tidak berani melawan suami, karena saya tidak tau mau kemana, mengadu ke siapa.
Setelah hari itu mulai kelihatan suami saya memang selalu kasar dengan anak, terlalu mudah memukul, sedikit saja anak saya bersalah dipukul.
Begitu juga ke saya, sedikit saja saya salah, caci maki, dan main tangan itu gampang sekali.
Inilah kenyataan kehidupan yang memang harus saya terima dan saya jalani. Hati saya mulai berdamai, saya selalu berdoa meminta ke Allah SWT semoga suami saya berubah, insaf dan menjadi orang yang beryanggungjawab dan penyayang seeta baik hati. Perhatian ke anak2…. Di setiap sholat dan doa saya selalu saya memohon pada yang Kuasa semoga suami saya menjadi sosok suami dan ayah yang penyayang dan baik hati. Sampai saya mendengar ceramah agama oleh salah satu ustazah favorit saya di tv, untuk membiasakan membaca shalawat di tiap minuman dan masakan yang kita masak untuk suami. Serta niatkan supaya suami di bukakan pintu hati menjadi orang yang penyayang, lembut hati dan menjadi sosok seorang imam yang baik di dalam keluarga. Saya selalu mengamalkan hal itu di setiap kopi yg saya seduh penuh dengan shalawat, makanan yang saya masak, air putih yang saya tuangkan….. selalu dipenuhi dengan shalawat….. Begitu juga buat makanan dan minuman untuk anak saya selalu saya penuhi dengan zikir dan shalawat. Saya yakin kan diri saya suatu saat nanti suami saya akan berobah. Dan anak2 saya menjadi anak yang soleh dan sukses dunia akhirat aamiin. Tapi saya tetap manusia biasa ….. Stress dan keadaan saya yang sangat tertekan saat itu membuat saya kadang seperti orang setengah gila. Pikiran saya menerawang entah kemana. Disaat suami saya tidak ada dirumah karena ada kerja luar kota, kadang saya menangis melihat anak saya menangis…… Badan saya letih sekali saya harus naik turun tangga, menggendong anak pertama saya sendiri karena saya takut anak saya terjatuh dari tangga. Kadang emosi yang sudah meluap di batin saya, pada saat anak saya rewel, badan saya benar2 letih membuat saya histeris. Saya menangis meraung, berlomba dengan suara tangisan anak saya. Sampai saya capek sendiri menangis, saya tidak menghiraukan anak saya. Setelah puas menangis saya berwudhu saya sholat dan berdoa kepada yang kuasa. Hati saya mulai agak tenang, saya peluk anak saya sambil minta maaf…. Saya susui, saya cium anak saya, saya peluk anak saya. Airmata tidak berhenti mengalir pada saat itu. Sampai saya tertidur karena terlalu letih. Letih fisik,fikiran dan mental saya terganggu. Saya tetap harus bertahan karena saya yakin Allah pasti akan melindungi saya dan anak saya. Tetap keyakinan itu yang saya pelihara dalam hati dan pikiran saya. Karena saya akui kehamilan pertama dan kedua kehidupan saya sangat tersiksa sekali. Masalah gizi yang apa adanya bagi saya sudah biasa, karena pada kehamilan pertama, saya sempat tinggal di kota M. Disana dalam hitungan bulan suami saya baru pulang. Dengan tidak meninggalkan apapun, duit seadanya. Saya makan nasi pakai garam dalam hitungan minggu, atau hanya roti sobek, bagi saya itu biasa. Pernah saya ingin sekali makan kentang goreng, saat itu saya tidak ada uang. Jadi terpaksa saya harus beli kentang dan bikin sendiri kentang goreng. Saya tidak tau kentang yang saya beli sudah berwarna kehijauan itu sudah tidak baik dikonsumsi. Walhasil setelah makan kentang goreng made in sendiri tsb kepala saya pusing dan muntah. Saya keracunan. Cepat2 saya minun air putih dan susu. Saya muntahkan semua isi perut saya pada waktu itu. Saya berusaha melawan efek keracunan tersebut semampu saya. Jelas sekali saya tidak mau sampai jatuh pingsan. Karena tidak akan ada orang yang menolong saya saat itu. Dirumah sebesar itu saya hanya sendiri, dan saya tidak kenal satu orangpun disana. Karena saya tidak pernah keluar rumah pada waktu itu. Dan kenyataan nya saya tetap bertahan dan menjalani semuanya dalam kehidupan sebagai istri kedua walaupun serba kekurangan. Dimana tidak adanya kepercayaan dari suami ke saya dalam mengurus rumah tangga baik itu dari financial atau manajemennya. Semua saya tidak boleh ikut campur tentang keluarga besar suami, pekerjaan suami, keuangan suami, pergaulan suami diluar saya tidak boleh tau sama sekali. Jadi kasarnya, tugas saya sebagai istri hanya, patuh apapun perintah suami, tidak boleh mengeluh ke suami, tidak boleh letih, tidak boleh manja, mengurus anak, masak, bebenah, dan utama sekali adalah urusan tempat tidur. Wajib hukumnya bagi saya melayani nafsu suami kapan saja dia inginkan dan berbagai gaya tentunya layaknya seorang pelacur profesional. Saya wajib tau tentang semua hal dalam sex. Karena suami saya menomor satukan sex dalam rumahtangga kami. Sex selalu menjadi hal nomer 1 bagi suami saya, pernah dia berkata kalau saya tidak mahir ditempat tidur itu masalah gampang, tinggal kawin satu lagi. Saya harus selalu memberi perhatian full ke suami apabila dia sedang dirumah. Ibarat angka 100, perhatian saya ke suami 85 dan 15 baru untuk anak saya. Suami selalu saya layani bagaikan raja dirumah saya, karena tekad dan prinsip saya yang ingin sekali menjadi istri yang baik dan soleha. Saya tidak ingin ada cacat sedikitpun dalam pelayanan saya sebagai seorang istri. Hampir setiap malam saya selalu tidur sekitar jam 2 pagi. Karena saya harus pastikan seluruh pekerjaan rumah sudah saya selesaikan. Karena jika bangun paginya saya bisa main sebentar bermalas2an dengan anak. Hanya itu waktu yang saya rasa bebas bermain dengan anak saya, karena biasanya suami saya pasti masih tidur pulas. Apapun itu bila suami telah bangun kegiatan saya dan anak berhenti seketika. Suasana kaku pun tercipta diantara saya, anak dan suami. Perhatian saya langsung fokus ke suami. Kasian anak saya yang hanya bisa ikut kemana saya pergi tanpa ada tawa ceria saling bercanda antara ibu dan anak. Semua hening. 16 September 2016