Tadinya aku tidak mau menulis cerita ini. Takut nanti terkesan seperti mengungkit kisah lama atau menyesali nasib yang dulu. Tidak habis-habis nya menyimpan kisah yang menyakitkan hati dan hanya memelihara dendam dihati.
Tidak baik memang... Kemudian aku berfikir lagi kenapa tidak diceritakan saja hanya niat berbagi dengan pembaca tentang apa yang aku alami selama berumahtangga sebagai istri kedua yang sah dimata hukum negara dan agama dengan seseorang dimasalalu.
Aku selama menjadi istri seseorang , tidak pernah terlalu banyak menuntut apapun. Karena aku tau tidak ada gunanya menuntut hak2 sebagai istri. Percuma.... Tidak akan pernah bisa aku dapatkan.
Aku hanya berusaha menerima apa yang diberikan dengan ikhlas. Bersyukur dengan apa yang ada, Dalam keadaan yang sangat tertekan baik dari segi mental ataupun fisik semua aku terima. Dan aku jalani dengan pasrah...
Suatu ketika hari itu , Suamiku sedang tugas pekerjaan diluar kota. Aku memulai hari seperti biasanya dengan rutinitas pagi seorang ibu dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Yang pertama putraku berumur 3thn, putra kedua 2thn, dan putra ketigaku masih berumur 3bulan. Aku tidak diizinkan suami untuk mempunyai pembantu rumahtangga dengan alasan yang menyakitkan hati ku.
“Saya tidak mau membuat kamu hidup enak disini hanya makan tidur, sedangkan saya yang mencari.Buat apa pakai pembantu sedangkan kamu tidak ada pekerjaan. Hanya makan tidur. Tidak ada gunanya menyenangkan istri karena kalau kamu saya senangkan nanti kamu akan cari laki2 lain.”
Istighfar saja yang bisa keluar dari mulut saya waKTU itu mendengar alasan suami saya. Sedangkan dengan rumah sebesar itu kamar 5 dan kamar mandi 3 bertingkat pula terbayang kan bagaimana repotnya saya dalam membersihkan rumah setiap harinya. Belum lagi suami saya jarang dirumah kadang sampai 2 minggu tidak pulang. Hanya aku bersama ketiga putraku saja yang selalu ada dirumah. Kalaupun suami ada dirumah juga tidak pernah membantu sedikitpun pekerjaan rumahtangga. Hanya tidur, dan main game di depan komputer. Begitu setiap hari kalau suamiku ada dirumah. Dan itu hanya 2 atau 3 hari. Setelah itu suami akan kerja lagi keluar kota.
Dengan tuntutan suami yang rumah harus kinclong stiap hari, makan tidak boleh di restoran, intinya saya harus masak setiap hari. Dengan ancaman kalau saya tidak masak saya bisa cari istri lain lagi yang mau masakin saya... wahhhhmengerikan sekali doktrin yang saya dapatkan dr suami saya.
Dengan anak2 suamiku tidak begitu perhatian, tapi saya yang begitu care dengan anak, aku tidak mau kelihatan anak2ku seperti anak2 orang susah. Aku merawat sendiri anak2ku dengan kedua tangan ku... Aku memasakkan bubur nasi untuik mereka setiap hari. Aku tidak mau memberikan makan ke anak2 dengan bubur instan. Karena memang tidak sehat.
Okee.... Back to story ya...
Setelah rutinitas pagi semuanya selesai, mulai dari bebenah rumah, masak, Mandiin anak2.... Selesai semua...
Satu persatu aku suapkan anak2ku berbaris ketiganya.... Yang bayi kebetulan tidak rewel. Dan memang Alhamdulillah Sampai saya melahirkan anak 4 orang saya tidak pernah kesulitan dalam mengasuh ,mereka. Anak2ku tidak pernah rewel, tidak sama dengan anak2 yang lain yang harus digendong. Kalau aku sedang sibuk beberes rumah kedua putraku , paling sibuk dengan permainan mereka tanpa mengganggu ku sampai aku selesai. Setelah selesai makan siang, akupun minta izin ke anak2ku ,” Umi mau mandi dulu ya nak....”
Aku selalu memberitahu mereka apa yang mau aku lakukan, supaya mereka tidak mencari2 kemana aku pergi dan tidak perlu menangis atau khawatir uminya dimana. Dan mereka yakin aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. Sebelum aku mandi seperti biasa aku membuat es milo monster satu gelas besar karena cuaca memang sangat terik sekali. jadi pas abis mandi minum segelas es milo kayaknya seger banget kan....
Tidak lama kemudian aku telah selesai mandi waktunya bersantai dengan anak2. Ditemani segelas es milo... Aku menemani mereka nonton film kartun, dan main dengan mereka bertiga. Oh ya anak2ku yg pertama dan kedua belum bisa berbicara, agak lambat memang ya? Wajar mereka jarang mendengar aku berbicara. Kadang aku sudah capek sekali dengan kegiatan rutinitas rumah tangga. Tidak ada teman untuk berkomunikasi juga membuat aku jarang bicara dirumah. Padahal aku orang yang paling cerewet dulunya sebelum menikah, aku type perempuan yang out spoken. Tapi tidak setelah menikah. Sampai waktunya tidur siang aku mengantar kedua putraku alung dan angah ke kamar mereka untuk tidur siang. Ciuman dan pelukan seorang ibu hanya pengantar mereka ke tempat tidur yang bisa aku lakukan. Kemudian aku kekamar ku menyusui putra ketiga sampai si kecil tertidur.
Sesaat masih kudengar suara tawa alung dan angah di kamar sebelah , aku menganggap bercanda sebelum mereka tertidur. Buat ku itu sudah biasa. Aku melanjutkan kegiatanku sama seperti ibu2 yang lain mungkin. Menjahit dan menambal baju2 anak2ku yang sudah mulai sobek disana sini. Karena kehidupanku dan anak2 sangat2 dibatasi oleh suamiku. Kami Jarang sekali beli baju, kalau tidak pulanh kekampung halamanku suamiku tidak akan pernah membelikan aku dan anak2 baju. Sukur aku tidak pernah malu menerima semua sumbangan baju2 bekas dari tetangga atau dari adik2 kandungku sendiri. Karena Aku sendiri juga tidak pernah dipegangkan uang untuk membeli kebutuhan pakaian anak2 oleh suamiku. Sering aku minta ke dinas sosial terdekat kalau ada pembagian baju bekas aku sering kesana untuk menerima baju2 harian yang masih layak dipakai oleh anak2ku. Dan untuk aku pribadi , aku sering dapat baju gratis dari adekku di kampung halaman ku tentunya.
Tak lama aku serius dengan tumpukan jahitanku dikamar, aku mendengar suara jeritan abangah dari kamar sebelah. Aku kaget setengah mati. Langsung aku tinggal jahitan dan berlari ke kamar anak2. Segera kubuka pintu kamar anak2 dan kulihat abangah tergeletak dilantai menangis dengan tangan kanan nya yang telah bengkok.Jantung ini rasanya mau jatuh, melihat anakku dalam kondisi seperti itu. Kebetulan Background pendidikan ku sangat membantu. Aku lulusan perawat dan Fisioterapis. Kejadian seperti ini tidak membuat aku panik, walaupun badanku ini lemas tungkai rasanya tak berpijak melihat keadaan anak sendiri seperti itu. Terbayang bagaimana rasa sakit itu kalau bisa di alihkan ke aku. Biar aku yang menanggung kesakitannya. Jangan anakku.
Tapi itu tidak mungkin. Pemeriksaan sederhana aku lakukan sendiri ke abangah. Dan hasil pemeriksaanku hasilnya confirm Fracture Radius Ulna Dextra.
Atau patah tulang lengan bawah kanan. Aku bingung dirumah hanya ada kami berempat, aku, alung 3thn, abangah 2thn, dan si kecil 3 bulan yang masih menyusu denganku. Spontan aku memberikan penjelasan sederhana pada putra sulungku aku harus pergi meninggalkan kedua putra ku ini dirumah. karena aku tidak mau membawa anak2 kerumah sakit. Tidak mungkin karena semua nya masih kecil2, sedangkan abangah harus aku perhatikan. AKhirnya putra sulungku mengangguk mengerti apa yang harus Ia lakukan dirumah bila sikecil minta susu. Aku selalu stock ASI di rumah sekitar untuk 3 kali minum bila kasus emergency. Aku jelaskan ke alung,” bila adek nangis kasih ini ya nak.”
Alungpun mengangguk. Kebetulan tetangga belakang rumahku ada, aku titip anak2 dengan mereka dan juga kunci rumah. Tapi mereka bisa kerumahku sore harinya karena kebetulan yang dirumah hanya ada nenek mereka yang penderita stroke, semua anak2nya masih dikantor. Si nenek berjanji bila anak2nya pulang dia akan suruh anak2nya kerumahku.
Segera aku beberes menyiapkan apa saja yang perlu dibawa ke rumah sakit, Karena aku yakin abangah pasti akan di opname. Segera kuraih kunci BMW suami dan gassss meluncur ke rumah sakit. Biasa aku hanya sanggup membawa ke rumahsakit pemerintah, karena gratis aku tidak ada uang sepeserpun waktu itu. Yang penting anakku bisa ditangani dengan ahlinya. Akur dengan pelayanan rumah sakit pemerintah aku menunggu giliran. Mulai dari pemeriksaan dokter, X-Ray sampai menunggu kamar rawat inap. Abangah hanya sesekali menangis menunjuk ke tangannya. Aku tau itu sangat sakit. Hancur sekali rasanya melihat anak manengis kesakitan. Dari jam 2 siang aku berangkat ke rumah sakit . akhirnya jam 4 sore aku menelpon suami yang berada di luar kota. Maksud hati supaya suami bisa pulang dan bergantian denganku. Karena aku memikirkan anakku yang dua lagi dirumah... Begitu juga yang kecil masih ASI.
Tapi ketika aku menelpon suami , bukan support yang aku dapatkan hanya kemarahan dan tidak habis2nya aku dimaki sebagai perempuan yang tidak tau diri, tidak bertanggung jawab, tidak becus mengurus anak, otakku tidak dipakai dan lain sebagainya kata2 umpatan yang dilontarkan kepadaku. Aku terdiam mendengarkan suami sampai puas memaki ku. Sampai tiba giliranku berbicara, didahului permintaan maaf sebagai ibu yang tidak bertanggungjawab,” aku minta maaf atas apa yang terjadi. Sekarang aku minta tolong kamu bisa pulang sekarang kan? Karena aku tidak bisa di rumah sakit terus , anak2 dirumah tidak ada yg jaga. Dan sikecil Butuh ASI.”
Suamiku berkata kalau aku selalu menyusahkan dia. Aku diam saja. Yang terpenting sekarang ini aku minta tolong demi anak2 kamu pulang karena aku tidak mungkin membagi dua badanku sendiri bisa berada di dua tempat. Apapun yang dikatakan suamiku kutelan mentah2 tanpa ada argumentasi dariku ataupun pembelaan. Aku hanya menceritakan kejadian cerita persis seperti yang telah kutulis diawal. “Intinya sudah terjadi, bisa tidak kita berdua sebagai orangtua berfikir solusinya bagaimana, bukan malah ribut memaki tidak akan menyelesaikan masalah.” Dan saya minta maaf atas kelalaian saya sebagai umi anak2. Dari jam 4 sore saya menelpon suami sampai jam 8 malam suami saya tidak juga datang. Saya sudah ditelpon tetangga karena sikecil mulai nangis kelaparan susu. Mereka bingung, stock ASI saya sudah habis, akhirnya saya minta tolong mereka berikan saja anak saya air putih. Saya pasrahkan saja saat itu ke Allah SWT apa yang akan terjadi. Airmata saya tidak berhenti mengalir. Saya tidak tau mau minta tolong ke siapa saat itu. Abangah menangis sesekali saya peluk memberi kenyamanan sesaat buat abangah. Sakit sekali rasanya hati saya saat itu seperti disayat2. Dipelukan saya , anak saya menangis kesakitan, dan dirumah anak saya juga menangis menahan lapar, dan saya juga tidak bisa apa2. Sedangkan suami saya tidak mau mengerti sedikitpun.
Akhirnya saya memutuskan untuk menelpon suami saya sekali lagi bertanya apakah dia sudah dalam perjalanan pulang atau belum. Karena seharusnya jarak tempuh hanya 45 menit dari kota tempat dia bekerja ke kota saya tinggal.
Tapi dari jam 4 sore saya mengabarkan sampai jam 10 malam saya menelpon suami belum juga sampai. Sedangkan saya harus pulang. Dan tau nya ketika saya menelpon suami masih berada dikota itu belum berangkat. Otomatis airmata saya keluar deras , mendengar suami saya masih berada disana tanpa melakukan apapun , sedangkan saya butuh dia menggantikan saya di rumah sakit. Apa yang ada dalam pikirannya sebenarnya keadaan emergency seperti ini dia masih tidak mau membantu saya. Entah apa kata2 magic yang keluar dari mulut saya, karena saya mulai putus asa dengan sikap kerasnya suami saya. akhirnya suami saya akur dia pulang walau dengan marah2. Sampai jam 11 malam saya tunggu di kamar rawat inap abangah karena masih menunggu dokter orthopedi masih ada operasi. Saya tidak bisa menahan kekhawatiran di hati saya tentang anak2 saya dirumah. Sedangkan saya tau abangah sudah aman di rumahsakit hanya menunggu tindakan dokter orthopedi malam ini jam 4 pagi sesuai info dari perawat yang aku dapat. Aku menemui perawat disana meminta izin pulang sebentar karena anakku dirumah masih butuh ASI. Dan mereka hanya berdua dirumah, Tetanggaku sudah pulang sambil sesekali melihat kerumahku begitu info yg aku dapat dr tetangga.
Tetap perawat tidak mengizinku untuk pulang sebentar saja menyusukan anakku yang kecil. Disitu badanku bener2 lemas tersandar di dinding koridor rumahsakit, aku jatuh terduduk lunglai sambil menangisi nasib ku dan anak2 yang rasanya tidak adil sekali.Tapi cepat aku mengobati rasa sakit itu sendiri, segera aku temui kembali perawat tersebut, dan mulai meminta izin kembali untuk pulang sebentar. Tetap tidak diizinkan dengan alasan mereka tidak ada yang menjaga anakku yang masih 2 tahun saat itu umurnya.
Spontan saat terjepit seperti ini emosiku mulai naik, aku dipaksa untuk berkeras. Disitu aku mulai membahas tentang hukum dan etika kerja keperawatan dan juga tugas2 perawat sebenarnya. Aku mulai mengancam perawat bila terjadi sesuatu denngan anak2ku dirumah maka kalian akan aku tuntut karena memaksa ku untuk tinggal disini dan melarangku memberikan ASI ke anak ku yang kecil dirumah. Karena aku sudah menjelaskan kondisiku sekarang ini pada mereka. Dan aku mengingatkan ke mereka sesama perawat bahwa bila pasien sudah masuk ke sal atau ruangan mereka bekerja itu adalah tugas mereka seratus persen dan tanggungjawab mereka sepenuhnya terhadap keaddaan pasien.
Apalagi Ruangan pediatric. Separoh emosi terdengar suaraku mulai meninggi di porter Nurse ruangan anak pada malam itu. Setelah perdebatan yang sengit antara aku dan perawat aku diizinkan pulang sebentar dan mereka mau tidak mau harus menjaga anakku disana pada malam itu karena aku ingatkan itu sudah tugas mereka. Kalau tidak mau direpotkan pasien jangan pernah menjadi perawat!!!! Aku mengancam mereka akan menuntut mereka di jalur hukum bila terjadi apa2 terhadap anak2ku baik yg di rumah sakit atau dirumah. Dan pembicaraan itu aku rekam di telpon genggam ku. Aku balik kembali kekamar anakku abangah, memberitau bahwa aku harus pergi sebentar, memberikan kekuatan pada nya abangah harus berani, “ umi harus pulang sebentar menyusukan adek, nanti umi balik lagi. Aku taruh semua susu, atau cemilan berada di dekattnya supaya abangah dapat mengambil sendiri. Aku menahan sekuat tenaga supaya airmata ini tidak jatuh saat aku mencium dan memeluk abangah. Aku tidak mau dia merasakan kesedihanku sekarang, abangah harus kuat. Kutinggalkan abangah segera di ruangan itu sendiri, tanpa pengawasan aku hanya berdoa semoga Allah melindungi anak2ku. AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN....
Keluarnya aku dari ruangan Rumah sakit tangisku meledak sejadi2nya diantara ketidakberdayaan seorang perempuan didalam tekanan, tanpa ada support dari siapapun. Hanya aku harus kuat. Demi anak-anak aku harus kuat Tuhan..... Sesampainya di area parkir Aku melihat mobil suamiku Mitsubishi Strada Merah sedang mengambil parkir tidak jauh dari BMW SPORT suamiku yang aku parkir.
Kuhapus segera airmataku, dan aku bersiap untuk menerima kemarahan suamiku di area parkir. Sepertti biasa aku berjalan menghampiri suami, kucium tangannya layaknya seorang istri soleha menyambut kedatangan suami tercinta. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 1 pagi. Keributan terjadi diantara aku dan suami di area parkir. Kembali makian dari suami aku telan mentah2 hanya karena dia adalah suamiku. Ayah dari anak2ku. Dia meminta aku untuk tidur dirumah sakit, dengan alasan dia malas tidur dirumahsakit menemani anakku kedua, karena tidak nyaman di rumahsakit dia mau tidur dimana. Kemuadian aku bertanya, siapa yang menyusui si kecil? Aku atau kamu? “ Bisa kita berdua sebagai orangtua kerjasama yang baik sekarang ini demi anak2? Kalau kamu bisa menyusui si kecil biarlah aku tidur di rumah sakit. Tidak perlu kamu. AKhirnya dia berkata akan tidur dimobil, tidak diruangan anakku. Kaget aku mendengar itu, bagaimana mungkin kamu bisa tidur dimobil? Sedangkan abangah baru anak umur 2 tahun belum bisa bicara, bagaimana kalau dia mau kencing atau mau makan? sedangkan tangannya patah? Tolonglah saya , sekali temani abangah diruangannya karena dia masih terlalu kecil tidak tau apa2?
Suami saya menjawab,” Dia pandailah sendiri, toh anak itu juga manusia pasti bisa sendiri “ Suami tetap berkeras tidak mau ke ruangan, Akhirnya dengan mengumpulkan seluruh keberanian saya menghadapi seorang monster bergelar suami, saya berbicara dengan nada rendah dan tekanan yang pasti.
“ Baiklah, kalau kamu berkeras mau tidur dimobil, mari sama2 kita biarkan mereka bertiga berfikir bagaimana bertahan hidup karena MEREKA MANUSIA. SAYA AKAN TEMANI KAMU DISINI, BIARKAN MEREKA BERTIGA MATI PERLAHAN KALAU KAMU MASIH BERTAHAN DENGAN KERAS HATI KAMU TIDAK MAU MENEMANI ABANGAH YANG SEDANG SAKIT DI RUANGAN. DAN SAYA SANGAT MENGERTI BAHWA KAMU WAKTU BARU DILAHIRKAN KEDUNIA SUDAH LANGSUNG BISA BERLARI. KAMULAH MANUSIA YANG PALING HEBAT YANG SAYA PERNAH TEMUI WAHAI SUAMIKU. SETELAH ANAK KITA MATI MAKA KITA SELESAI.”
Saya tidak tau keberanian itu datang dari mana tiba2 saja kata2 tersebut keluar dari mulut saya. Dan saya keluar keluar dari mobil saya pergi menuju mobil BMW suami saya yang punya juga, menunggu samapai dia sendiri yang memutuskan apakah dia akan tetap dimobil atau pergi keruangan. 10 menit saya tunggu akhirnya dia keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan abangah dirawat. 5 menit kemudian saya masuk kembali keruangan mengintip suami saya memastikan apakah anak saya baik2 saja di ruangan. Saya mengintip dari kejauhan memastikan suami saya ada disamping anaknya.
Lega rasanya saya langsung kebut BMW sport tersebut pulang menuju rumah. Sampai dirumah jam 2.30 pagi. Saya buru2 ambil kunci kerumah tetangga dan tetangga saya bilang anak2 sudah tidur jam 1.30 tadi mereka lapar...
Saya hanya tertegun dan tak henti mengucapkan terimakasih atas pertolongan mereka. Dengan air mata yang tidak berhenti mengalir saya berlari kerumah segera menuju kekamar dan saya lihat kedua anak saya tertidur dengan mata yang bengkak menangis.
Segera saya dekap yang kecil saya bangunkan, saya susukan ssampai si kecil puas. Terlihat sekali si kecil kelaparan... Saya tersenyum bersyukur mereka tidak apa2. Airmata saya tetap tidak bisa berhenti, tidak tau lagi apa perasaan saya pada saat itu, sedih, bahagia, kesal, kecewa, atau apa saya tidak mengerti. Setelah sikecil puas menyusu, kanan berganti kiri, saya ganti baju sikecil supaya tidurnya nyaman. Segera saya buatkan susu alung dan saya bangunkan saya tau alung juga pasti lapar. Satu botol besar tidak sampai 5 menit habis kering susu tersebut. Saya ganti baju alung, paasangkan pampers segera tidur kembali. Saya segera mandi ganti baju saya teringat saya belum makan, segera saya buat milo panas segelas buat saya mengisi perut ini menahan rasa lapar. Saya harus tetap menjaga nutrisi tubuh saya semampunya saya karaena saya menyusui si kecil. Jam 4 pagi saya balik lagi kerumahsakit, suami minta dibawakan makanan kecil. Segera saya tancap kerumahsakit menemui suami saya, setiba di rumahsakit saya lihat di ruangan suami saya tidak ada, hanya saya lihat abangah tertidur sendiri tanpa ada satu orangpun yang menemani putraku. Rasa marah yang amat sangat meledak di hati saya terhadap suami pada saat itu... Berlari segera ke area parkir saya lihat suami saya tertidur dimobil. Saya hampiri dan bertanya kenapa masih tidur disini. Dengan meneteskan airmata saya memohon ke suami supaya mau tinggal semalam ini saja di ruangann anaknya. Karena saya tidak bisa berada di rumahsakit selamanya. Sudah seperti pengemis waktu itu saya memohon ke suami supaya dia mau masuk kembali ke ruangan.... Sampai akhirnya saya tarik suami keluar dari mobil setengah memaksa nya untuk kembali. Karena saya tidak mau terjadi apa2 dengan abangah anak kami. Saya tidak berani melampiaskan amarah saya ke suami, sangat sangat takut sekali. Mungkin karena malu meliahat saya menangis meraung di area parkir rumahsakit suami saya mendorong tubuh saya dan segera pergi keruangan. Tanpa berkata apapun... Tetap saya bersyukur mengucap Alhamdulilah Ya Allah... di sela isak tangis saya.
Saya segera kembali kerumah, istirahat sebentar sambil menyusui anak kami sikecil. Mata ini bengkak karena menangis, saya peluk alung erat sekali ....
Walaupun alung tidak mengerti apa saya rasaskan saat itu, tapi pelukan saya ke alung memberikan satu energi buat saya untuk tetap kuat dan bertahan disela semua kesulitan kehidupan yang saya alami.... Dan pelukan itu sangat nyamannnnn sekali buat saya, memberikan ketenangan di batin saya. Dengan seribu kekecewaan yang saya telah saya dapatkan dari suami saya.
Setidaknya hari ini saya dan anak-anak telah melalui semuanya dengan selamat walaupun tidak sesempurna kehidupan orang lain. Tapi kami masih bisa bertahan....
Terimakasih anak-anakku....
Tetap menjadi anak-anak umi yang kuat dan tangguh.
Tunggu cerita selanjutnya ya ....