Para Penafsir yang Tak Pernah Bertanya pada Bulan
Di malam keempat setelah bulan penuh, para lelaki kembali berkumpul di serambi yang menghadap langit. Mereka membuka kitab, bukan untuk mencari Tuhan, tapi untuk memastikan keinginannya sah. Ayat pun dibaca, setengah bibir, setengah nafsu. Yang dipilih adalah yang memihak keinginan, yang ditinggal adalah yang menguji keadilan.
“Dua, tiga, empat,” ulang mereka seperti mantra. Padahal langit tahu, mereka belum pernah berhasil setia pada satu perempuan pun. Setia dalam arti diam di saat ingin pergi. Setia dalam bentuk punggung yang tak berbalik saat tangis terdengar lirih.
Di antara mereka, ada satu perempuan. Ia duduk bersila, tidak berbicara, hanya mendengar. Ia bukan ustazah. Ia bukan feminis. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang pernah dijadikan nomor dua oleh seorang yang mengaku ingin masuk surga.
Perempuan itu, suatu hari, bertanya pada bulan, “Apakah Tuhan menciptakan cinta untuk dibagi rata seperti zakat?”
Dan bulan menjawab, “Aku pun hanya punya satu wajah, walau kulihat banyak malam.”
Tapi pertanyaan itu tak pernah diajukan para lelaki. Mereka sibuk mencari kutipan, bukan keadilan. Mereka ingin menikah karena ayat, bukan karena tanggung jawab.
Mereka lupa bahwa ayat itu turun saat dunia hancur, saat janda tak punya rumah, saat anak-anak memanggil udara sebagai ayah. Ayat itu turun bukan untuk merayakan hasrat, tapi menanggung luka.
Kini, ayat itu disematkan dalam proposal cinta yang mahal, dalam podcast tentang “kembali ke syariat,” dalam video pendek yang hanya hafal tiga kata: "asal bisa adil."
Tapi Tuhan, aku yakin, tak menurunkan wahyu hanya untuk dijadikan tameng birahi.




















