BISNIS vs TEKNOLOGI INFORMASI : Perspektif tentang EA
Pemenuhan kebutuhan dan tujuan bisnis merupakan acuan pelaksanaan semua aktivitas perusahaan baik yang bersifat strategis maupun operasional. Pencapaian visi dan misi perusahaan diejawantahkan dalam setiap kinerja setiap unsur organisasi perusahaan hingga menjadi Key Performance Indicator(KPI) di tingkat per individu. Tingkat pemenuhan KPI individu dalam suatu periode evaluasi merupakan tolok ukur pencapaian visi dan misi perusahaan yang ditungkan dalam blue print dan road map pengembangan bisnis korporat.
Dalam era perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, dapat menjadi salah satu trigger perubahan dan adaptasi arah perkembangan bisnis. Adaptasi bisnis terhadap perkembangan teknologi informasi dapat diimplementasikan dengan menentukan arah solusi teknologi informasi menyesuaikan keputusan arahan bisnis, yang dalam beberapa literatur disebut dengan business driven.
Pendekatan yang lain adalah arah perkembangan dan implementasi teknologi informasi menentukan arahan bisnis, yang disebut juga dengan IT driven. Kedua pendekatan tersebut sebaiknya tidak menjadi perdebatan yang berkelanjutan, mengingat keduanya dilahirkan guna mendukung pencapaian tujuan perusahaan yang sama. Strategi yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana menerapkan business driven maupun IT driven menjadi langkah-langkah konkrit dalam pencapaian tujuan perusahaan.
Pendekatan dari arahan bisnis dapat dimulai dengan menentukan pihak mana saja yang berkepentingan dan berinteraksi dalam suatu proses bisnis perusahaan, sehingga dapat disimpulkan terdapat dua entitas penting dalam arahan bisnis, yaitu stakeholderssebagai pihak yang berkepentingan dan berinteraksi dalam mengimplementasikan semua proses bisnis yang dibutuhkan oleh perusahaan. Sudut pandang proses bisnis dapat disebut dengan “HOW” space.
Pendekatan dari ranah teknologi informasi dimulai dengan kelebihan fungsionalitas solusi dan perkembangan teknologi informasi yang dapat digunakan dalam mendukung dan memberikan akselerasi pencapaian tujuan perusahaan. Solusi teknologi informasi yang dapat mempengaruhi arah pencapaian bisnis dapat dikelompokkan dalam sejumlah building blocks. Sudut pandang proses bisnis dapat disebut dengan “WHAT” space.
Keterkaitan antara peran proses bisnis dan fungsi yang disediakan oleh solusi teknologi informasi, menjadi alasan penting munculnya kajian tentang Enterprise Architecture (EA). EA berupaya memastikan koherensi antara “HOW” space dan “WHAT” space. Koherensi tersebut dilakukan dengan memetakan proses dan fungsi berdasarkan requirements dari stakeholders dan solusinya yang telah disediakan dalam building blocks sesuai kedalaman dan rantang waktu implementasi yang tersedia.
TOGAF sebagai kerangka kerja EA menawarkan solusi koherensi antara “HOW” space dan “WHAT” space. Selain koherensi vertikal tersebut, dibutuhkan juga koherensi secara horizontal yang memastikan bahwa setiap stakeholder melakukan/berpartisipasi pada suatu proses yang terkait satu sama lain dalam mencapai tujuan yang sama yaitu tercapainya tujuan perusahaan. Kepastian koherensi horizontal di “HOW” space menjadi dasar dalam membentuk building blocks yang juga terkait sesuai fungsinya.
Jika pada suatu manajemen rumah sakit mengenal proses pendaftaran pasien, rekam medis, penanganan medik, hingga rawat inap dan rawat jalan, maka setiap proses tersebut merupakan ranah “HOW” space. Proses-proses tersebut tentunya tidak akan terkelola dengan baik jika tidak terdapat Standard Operating Procedure (SOP), petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis yang menjadi pedoman bagi setiap pelaku pelayanan kesehatan. Alat bantu lain yang dibutuhkan dalam mendukung terlaksanakan kualitas pelayanan misalnya jaringan komputer, perangkat keras komputasi dan berbagai alat pendukung lainnya. Alat bantu, SOP, juklak dan juknis, merupakan beberapa contoh building block yang berada pada ranah “WHAT” space.
“HOW” space dalam TOGAF didesain dan direpositori dalam bentuk model referensi yang disebut dengan Architectural Continuum dan “WHAT” space didesain dan direpositori dalam bentuk Solution Continuum. Koherensi dalam Architectural Continuum dan Solution Continuum membentuk Enterprise Continuum. Pada contoh manajemen rumah sakit, Enterprise Continuum merupakan gabungan “HOW” space dan“WHAT” space yang bersinergi menghasilkan kinerja pelayanan kesehatan yang optimal.
Architectural dan Solution Continuum dapat disesuaikan dengan bidang usaha perusahaan. Dalam kajian EA yang lebih umum, dikenal sebagai Foundation Architectures yang pada TOGAF menggunakan Technical Reference Model (TRM). TRM memodelkan proses-proses yang berbeda sebagai pembangun Enterprise Continuum. TRM misalnya digunakan untuk memodelkan arsitektur untuk perusahaan manufakturing secara umum
Pada kajian yang lebih mendalam, TOGAF memperkenalkan Common Systems Architectures yang dapat menggunakan Integrated Information Infrastructure Reference Model (III-RM). Model referensi in mencoba memandang setiap proses dari ruang lingkup yang dikelola, sehingga memunculkan hubungan subset dan superset antar proses. III-RM misalnya digunakan untuk arsitektur perusahaan penyedia jasa yang merupakan pemusatan kajian manufakturing yang lebih pada penyediaan kebutuhan jasa.
Kajian yang lebih mendalam dilakukan dengan membangun Industry Architectures yang dapat dicontoh sebagai perusahaan penyedia jasa supply chain dan jika dibutuhkan lebih detail lagi, maka dapat dibangun Organization-Specific Architectures yang dapat dicontohkan sebagai perusahaan penyedia jasa finansial pada proses supply chain.
Enterprise Continuum dibangun dari rangkaian iterasi TOGAF Architecture Development Method (ADM) yang dalam iterasinya dapat membentuk model referensi yang semakin lengkap seiring dengan perkembangan iterasi pada ADM. Jika ADM merupakan metoda dalam mengembangan EA, maka bersama Enterprise Continuum, dapat terbentuk Architecture Model(AM) yang lengkap untuk suatu organisasi.
Kolaborasi ADM dengan Enterprise Continuum kemudian dapat dimodelkan dalam bentuk TOGAF Content Metamodel yang dalam bentuk sederhana adalah sebagai berikut:
Kedalaman implementasi EA dikelompokkan dalam bentuk klasifikasi model pada Architecture Landscapes yang terdiri dari:
Strategic Architecture,
Segment Architecture,
Capability Architecture.
Setiap landscapes merupakan cara pandang dalam menggunakan model referensi yang sesuai, sehingga dapat mencapai dan membentuk AM yang tepat dan komprehensif, termasuk dalam membentuk Metamodelnya.
=Zuliansyah=










