Are you actually the ace ghoul man or did you just make this blog for the bit?
Respect either way.
I really am the ace Canadian ghoulman. Message me on reddit if you want to verify, it's CptHnryAvry.
seen from China
seen from Lithuania

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from China

seen from Poland
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from China

seen from India
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from China
Are you actually the ace ghoul man or did you just make this blog for the bit?
Respect either way.
I really am the ace Canadian ghoulman. Message me on reddit if you want to verify, it's CptHnryAvry.
It’s a me, Icy
Hey guys!
Since I’ve actually gotten two comments/emails on this (y’all are so sweet looking out for me!) because I have previously stated I have no Tumblr, yes, this is me. I repurposed an old art blog (icypantherartshop formerly) that I had in an attempt to have a Tumblr.
I’ll be honest. I’m not really sure what I’m doing nor do I understand Tumblr all that much (a friend was kind enough to explain what the likes vs reblog thing xD) but I’ll primarily be using this to post chapter updates and even little snippets of fics I’m working on that you might enjoy or random updates related in some way to writing. Occasionally artwork either I draw or amazing readers do (and if it’s on Tumblr it shall be a great attempt at reblogging for me!)
Hope this helps clear it up and thank you again for looking out for me! Plagiarism is rampant (*levels death glare at wattpad that she has long ago given up on trying to moderate*) and it warms my heart that you guys want to make sure this indeed me.
I’ll put a note about this in Color’s update this weekend for further proof. Sound good? Take care everyone. Happy reading (and reviewing! ♥)!
Alarm kebaikan
Sejak aku memutuskan untuk mulai memasuki ruangan itu. Saat itulah aku harus bersiap untuk mendengar banyak ‘alarm’, suara alarm yang akan terdengar begitu berisik ditelingaku. Sesekali mungkin aku tak mau mendengarnya. Namun, karena terlalu banyak alarm yang berbunyi dengan suara yang sama di sana, mau tidak mau aku harus terbangun dan menuruti inginnya untuk tidak tidur lagi. Ya, dialah pengingat agar aku segera terbangun dari tidurku.
Ada sesuatu yang mendorongku untuk memasuki ruangan penuh alarm berisik itu. Dorongan yang diberikan hanya kepada sebagian manusia dengan setengah sadarnya merasa ingin terbangun dari tidur panjangnya. Seseorang yang setengah sadar merasa bahwa tidur terlalu lama tidaklah baik bagi dirinya. Tidur terlalu lama akan melumpuhkan jantungnya, melemahkan tubuhnya, dan membuat kepalanya terasa berat dan tidak mau bangun lagi, kemuadian mati dalam tidurnya.
Ah, sungguh aku begitu beruntung kerena telah diberikan dorongan untuk memasuki ruangan penuh alarm meski dengan setengah sadarku. Berharap aku tidak akan menjadi seseorang yang ‘lumpuh’ sebelah jantungnya karena terlalu banyak tidur. Pertama kali memasukinya aku masih setengah sadar, dan terganggu dengan alarm berisik yang kupikir akan memekakkan telingaku.
Alarm 1: “hei, nona, bukan begitu caranya.”
Aku: “Kenapa?”
Alarm 2: “Hei, tauruhlah itu ditempat yang benar.”
Aku: “Euukkh, cerewet.”
Alarm 3: “Lakukan itu dengan benar, atau kau akan terluka.”
Aku: “Kenapa tidak kau biarkan saja aku melakukannya semauku, hah?”
Alarm 4: “Taruh benda itu ditempat yang benar, atau kau akan terjatuh karena ulahmu sendiri.”
Aku: “Issshhh, di tempat ini aku tidak bebas, terlalu banyak aturan.”
Diruangan ini banyak sekali alarm yang memberiku banyak aturan, sesekali aku ingin membangkang dan tak mempedulikan aturan yang mereka teriakan kepadaku. Namun benar saja aku kena batunya, aku terpeleset karena sembarangan menaruh kulit pisang. Kupikir si alarm akan tertawa mencemooh ketika aku terjatuh. Tapi pada kenyataanya tidak, raut wajahnya pilu melihatku. Kemudian dia menghampiri dan berusaha membantuku untuk berdiri, membalut lukaku kemudian berkata. “Bukankah sudah kubilang kau akan terjatuh jika kau tidak patuh.” Aku malu, namun tak berani mengakuinya. Aku pergi meninggalkannya. Meski aku selalu membangkang, alarm-alarm itu tak penah meninggalkanku dan setiap hari dia tetap memberitahuku aturan-aturan membosankan itu.
Karena kesal aku bertanya pada salah satu alarm di dekatku.
Aku: “Kenapa kau peduli? Bukankah ketika aku terjatuh, yang sakit adalah aku. Bukan kau.”
Alarm: “Karena kau telah memasuki ruangan ini, dan mengenal kami. Kau telah menjadi bagian dari kami. Kami memang tidak merasakan sakit yang kau rasakan ketika kau terjatuh. Hanya saja, hati kami sakit melihat keluarga kami terluka karena telah salah langkah, kami peduli karena kami melihatnya. Melihat saudara kami terjatuh tepat di depan mata kami. Di ruangan ini semua harus menuju satu tujuan yang sama, tujuan bahagia yang akan diraih dengan menuruti aturan-aturan yang sejatinya ada untuk dirinya sendiri. Aturan yang akan menyelamatkan dirinya menghadapi ujian besar di depan sana. Bukankah kau sudah tahu sejak dulu, bahwa setelah kehidupan di dunia ini masih ada lagi kehidupan yang kebih kekal. Disanalah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia? Inilah ruangan yang telah kau masuki, diruangan inilah kami saling mengingatkan kebaikan. Saling memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Setiap dari kami memiliki alarm, dan kami akan siap menjadi alarm bagi yang lainnya. Begitulah cara kami saling mengingatkan tentang kebaikan. Kami menamakan diri kami alarm kebaikan. Dan karena kau telah masuk di ruangan ini, bersiaplah akan banyak alarm yang berbunyi untukmu, terlebih ketika kau tidur terlalu lama.”
Aku: “Issssshhhhh, kau ini banyak sekali bicara.”
Raut mukakau memang terlihat tidak senang. Itu bukan karena aku tidak terima dengan yang dikatakannya, tapi hanya karena aku gengsi untuk mengakuinya, mengakui bahwa aku sudah mulai menikmati aturan yang ada. Aku sadar keputusan awal yang kuambil dengan setengah sadar adalah keputusan yang benar. Kini telingaku sudah siap dengan alarm kebaikan yang akan sering kudengar setiap harinya.
Alarm: “Oh, dan satu lagi.” Alarm menghampiriku
Aku: “Apa lagi?”
Alarm: “Alarm akan berhenti berdering ketika kau telah mematuhi semua aturannya, alarm akan berhenti berbunyi ketika kau bangun tepat waktu.”
Aku: "Ya, baiklah, terserah kau saja."
Dia berlalu, dan aku semakin bersukur berada di dekatnya.