semesta, kali ini permainan macam apa yang kau ingin aku mainkan? bukankah baru kemarin aku menitipkan bisik pada angin: biarkan aku duduk manis di deretan bangku penonton, di belakang tak perlu menunggu terisi penuh ketika kau memulai pertunjukkanmu yang spektakuler seperti dulu, seperti biasanya dan aku akan terkagum-kagum menikmati jalan cerita yang kau suguhkan
tapi hey, semesta lagi-lagi kau membuatku hanyut tiba-tiba sedetik yang hilang pertahananku runtuh semua kamu menarikku, lagi bergelut dengan keimpulsifan dan improvisasi romantismu aku rindu bangku penontonku, semesta
tahukah kamu lelahnya menjadi pemain?
----------------------------------------------------------------
si empunya wajah mulai lupa akan topeng yang biasa ia kenakan mungkin ia lelah, mungkin ia tidak peduli mungkin ia hanya ingin berhenti mengerti
bahwa sekian detik yang ingin ia lalui cepat-cepat ia hanya ingin tersenyum dan mencoba mengerti
----------------------------------------------------------------
duhai, pemilik lakon yang tengah bermuram durja salahkah aku, sang penonton yang menahan tawa atas kesedihanmu, kegagalanmu seolah menantang karma yang sedari tadi menunggu di pojokan sana, mengawasiku dengan ketat aku turut berduka, juwita atas arjuna yang tampaknya mulai enggan tapi ketahuilah aku masih menjadi penonton setia meski berkali-kali arjunamu memikat bukankah aku sudah memohon pada semesta berikan aku drama terbaik di dunia biarkan aku melihat tawa isak tangis sang juwita dan arjuna yang tak terikat, lepas tanpa harus bangun dari bangkuku tanpa harus ikut terhanyut
biarkan aku memohonkan doa untukmu, yang kuingin tetap menjadi lakon setia untuk arjuna, yang sama-sama memberi kita cerita untuk dinikmati dengan cara berbeda semoga semesta menjadi panggung yang mengasyikkan dan berakhir bahagia untuk juwita dan arjuna dan untukku yang menyaksikan dengan tanpa suara
------------------------------------------------------------------










