[Story #3]
"Na Jaemin"
Pemuda itu berbalik, tangannya kemudian terangkat menyapa gadis berkacamata dibelakangnya.
"Tumben pulang" gadis itu berjalan mendekat, dengan langkah lambat dan kerlingan heran di wajah.
"Lagi libur.. Kau tumben tidak kuliah" tanya Jaemin.
Gadis itu mendesis miris setelah berhenti selangkah di depan pria berambut pink itu. Semakin diperhatikan, Na Jaemin semakin tampan, tapi juga semakin aneh.
"Tidak ada kuliah di hari minggu" jawabnya sarkas.
Jaemin mengerjap, lalu tertawa ringan. Dia lupa kalau ini hari minggu. Hari libur semua orang, bukan cuma dia.
"Lama tidak jumpa, Choi Ara"
Gadis menggumam sebagai balasan, kemudian berlalu pergi. Iya, berlalu tanpa kalimat pamit.
Jaemin tertawa kecil menggaruk kening sambil menatap kepergian temannya itu.
Lingkungan rumahnya tak berubah banyak, selalu sepi. Tapi yang paling Jaemin syukuri adalah gadis itu, si Choi Ara, tetangga sebelah rumahnya dari lahir. Sejak dulu Ara memang anak yang judes, selalu tajam dan tak pedulian.
Na Jaemin menjadi idol pun sikapnya tetap sama. Kadang dia malah tak suka melihat Jaemin tampil di TV, muncul di artikel, atau di sosial media. Lalu Choi Ara akan mengirim komentar pedas pada Na Jaemin di Line.
Ya, mereka berteman, teman sejak kecil tapi tidak akrab. Notabenenya Choi Ara kurang suka bergaul dengan anak seperti Jaemin, karena Jaemin itu ceria, anaknya ramai, cerewet dan ramah. Tipe yang tak cocok jadi teman si anak judes. Tapi mereka itu tetap teman, atau lebih tepatnya tetangga.
"Kamu mau kemana?"
Ara berhenti melangkah, "kenapa ikut aku?" Dia menoleh, menatap Jaemin penuh selidik.
"Yaa yaa, hentikan wajah itu. Kamu kira aku ingin menculikmu?"
Ara menggeleng datar, "kau mungkin akan mati duluan sebelum berhasil menculikku"
Jaemin mendengus, "kau mau kemana sih? Kan sudah aku tanya dari tadi"
"Mini market depan. Beli yakult"
"Gara-gara kau suka minum itu, aku jadi ikutan tau"
"Lah salahku??" Decaknya, "lagian kenapa ikut sih? Pulang saja sana! Apa kau lupa jalan ke rumah ya?"
Jaemin tak menggubris gadis itu, dia berjalan duluan. Ara diam-diam memperhatikan pemuda itu dari belakang.
Sosok Na Jaemin berbeda sekali dengan dulu. Tubuhnya proposional, lebih mirip orang dewasa ketimbang anak seumurannya. Ara ingat dulu Jaemin lebih kecil darinya, tapi sekarang Na Jaemin lebih besar darinya.
Pundaknya lebar, dia tinggi besar walaupun badannya malah kurus. Jaemin semakin putih, semakin tampan, senyumnya semakin lebar dan dia suka sekali tertawa sekarang.
Dulu dia tidak begitu kok. Dia lebih suka adu debat dengan Ara, sekarang dia lebih suka tertawa menanggapi komentar sinis Ara bukan membalasnya seperti dulu.
"Banyak tetangga baru ya?" Tanya Jaemin. Mini market masih jauh di depan, keduanya harus menyebrang jalan dulu baru sampai.
"Banyak. Tapi tidak ada yang tau kau tinggal di lingkungan kita"
"Kok begitu?"
"Ya kami tidak ada yang pernah bilang. Lagian kamu jarang pulang, untuk apa menjelaskan keberadaan orang yg tidak ada"
"Hey, aku kan tinggal di dorm, bukan berarti aku mati dong"
"Untung saja kau pulang. Kalau tidak, aku sudah lupa mukamu"
"Aku cukup sering muncul di TV kalau kamu lupa. Ah iyaaa, seringan baca buku sih dari nonton tv"
"Biar tidak putus sekolah.. Kayak seseorang"
"Sindir teruusssss. Suka sekali ya sindir aku?"
"Ck! Kepedeanmu itu loh, makin menjadi"
Keduanya menyebrang jalan saat lampu menyebrang menyala hijau.
Mereka tetap berjalan santai memasuki mini market. Keduanya menuju kulkas belakang, mengambil beberapa pak yakult lalu menuju ke kasir.
"Loh, Jaemin ya?" Tebak seorang pria penjaga kasir, Sulong namanya.
"Hallo hyung. Lama nih nggak ketemu"
Sulong dan Jaemin saling menanyakan kabar sebelum akhirnya menjumlah total belanja kedua anak itu.
"Kamu bayarin lah! Masa aku yang bayar"
"Kan punyaku ini. Untuk apa bayar punya kamu??"
"Eh kamu artis kere ya? Ini Sulong oppa gabung totalan belanja kita, sana bayar"
Jaemin mendecak, lalu merogoh uang dalam saku celananya kemudian membayar belanjaan keduanya.
"Besok-besok gantian bayarin"
"Udah kere, pelit lagi.. Serius kamu artis nih?? Anak NCT? Ayah ibu kamu kaya loh.. Kamu kalau jadi idol tidak dibayar mending tinggal dirumah aja bantu orangtua"
Jaemin mengecapkan lidah, menatap Ara sinis. Sekarang malas membalas, lagi tak mau berdebat.
Meskipun tetap saja, keduanya pulang kembali ke rumah sambil adu mulut saling tidak mau kalah. Kebiasaan dulu yang tidak hilang, dan sepertinya selamanya akan selalu begitu. Jaemin bersyukur, setidaknya, diantara semua hal dalam hidupnya yang berubah, Choi Ara tidak berubah.
Tetap jadi tetangga, teman, dan si Ara yang menyebalkan.












