"Energy" by JAE.T
seen from United States
seen from Russia

seen from Italy
seen from China
seen from China

seen from Sweden

seen from Sweden
seen from China
seen from China
seen from France
seen from Sweden
seen from United States
seen from Poland
seen from China

seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from France
seen from United States
"Energy" by JAE.T
Inicios
Ven conmigo, trae tus recuerdos,
desnuda, - no tu cuerpo-, tu alma,
trae contigo tus miedos
prometo no contarlos,
prometo cuidarlos.
Llegaste queriéndome tuya,
ahora, déjame querer tus pedazos,
prometo amarte completo,
acabaré con tus miedos,
besaré tus lunares,
marcaré tu cuerpo.
Reinventemos el amor,
lo que sea que nos funcione,
solo quédate completamente en mi vida,
ámame despacio, a ratos,
hasta que algún día, inexplicablemente,
tu miedo sea no tenernos.
- Jaet.
(Lah Made Track.)
Al final, yo era una más de esas que le volvían loco.
Ada Hadits Bahwa Nanti Akan Ada Golongan Yang Tidak Percaya Pada Taqdir
tahun. Seperti dengan cangkok jantung tambah 5 tahun. Arti “laayasta’khiruun,“ tidak bisa diakhirkan, itu adalah setelah habis Sunnatullahnya seperti dalam cangkok jantung kemampuannya tambah umur hanya 5 tahun itu.
Apakah Ini Tidak Mengakibatkan Mentuhankan Sunnatullah?
Kenapa mentuhankan Sunnatullah? Namanya juga sudah Sunnatullah.
Karena Tidak Langsung Menisbatkan Kepada Tuhan.
Ya, itu artinya saudara berada di Jabbariyah, bukan di Sunnatullah.
Apakah Yang Tidak di Sunnatullah ini Menghalangi Kemajuan IPTEK?
Jelas sekali menghalangi. Sebab tidak di Sunnatullah.
Bukankah Masih Diwajibkan Ikhtiar bagi Ahli Sunnah?
Boleh, ikhtiar itu wajib, tapi apa bisa berhasil. Pastikah hasilnya? Tidak pasti, masih menggantungkan kehendak Tuhan itu tadi.
Itu untuk Tawakkal
Ya, Tawakkal sajalah kalau saudara yakin pada Sunnatullah maka akan sampai pada yang ditentukan Sunnatullah. Sunnatullah ini sudah ada di zaman Umar bin Khatthab, juga di zaman Nabi Muhammad saw. Dia berperang, kerja, makan, tidur. Umpama semua kehendak Tuhan, apakah perlu perang?
Tetapi Nabi Muhammad Selalu Mengembalikan Apa-apa kepada Tuhan.
Memang. Tapi langsung atau lewat Sunnatulullah. Di Qur’an, Sunnatullah itu disebutkan tidak akan berubah. Itulah hukum alam yang dijumpai sejak IPTEK zaman Yunani, situasi Islam, dan kemudian zaman modern, itulah yang memajukan IPTEK. Yang tidak percaya Sunnatullah, tidak akan dicari Sunnatullah itu, ya tak ada kemajuan IPTEK. Coba, apakah Ahli Sunnah ada kemajuan?
Al-Ghazali Dikenal Maju?
Maju tetapi dalam filsafat. Bukan sainss/ ilmu pengetahuan. Dalam sains ia tidak maju. Al-Ghazali tidak percaya Sunnatullah.
Apakah Al-Ghazali Yang Mematikan Faham Sunnatullah?
Bukan. Bukan Al-Ghazali yang mematikan. Tapi pengaruh tulisan-tulisan dia yang menjadikan orang takut falsafah dan tak percaya Sunnatullah lagi. Faham Sunnatullah itu berkembang abad 8-12. Abad ke-13 mulai berkembang faham tak percaya pada Sunnatullah. Faham Sunnatullah itu dipelopori filosof-filosof Mu’tazilah seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd. Penghalang kemajuan tertumpu pada ummat Islam yang tak percaya pada Sunnatullah. Maka usaha datang dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, Sayyid Ahmad Khan (India) abad 19.
Di IAIN sudah kita kembangkan Sunnatullah ini selama 15 tahun (sejak 1977). IAIN sudah berubah. Faham Sunnatullah ini masuk di falsafat dan teologi, bukan hanya di Fak. Ushuluddin tetapi di seluruh fakultas di 14 IAIN . Hanya yang berkembang betul di Jakarta, kemudian di Yogya. Pengembangan itu sudah banyak tenaganya. Mahasiswa yang dikirim ke luar negeri banyak, dan yang sudah berkecimpung di sini banyak. Seperti Nurcholish Majid, Din Syamsuddin , Komaruddin (Hidayat), dan akan datang Azyumardi (Azra) .
Ini Bisa Dikatakan Era Mu’tazilah?
Ya, sudah masuklah, tapi saya tidak suka disebut Mu’tazilah, tapi rasional. Mu’tazilah itu orang Barat menyebutnya Rasionalis, sedang Ahli Sunnah dan Jabbariyah itu tradisionalis.
Bagaimana Anda Mengartikan: Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah?
Ya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Sunnatullah.
Itu Berarti Penafsiran.
Ya penafsiran.
Kalau Ahli Sunnah kan Letter Lijk, Bukan Penafsiran.
Ya, letter lijk. Tapi jangan terus menyalahkan salah satu bahwa Mu’tazilah memakai penafsiran. Karena Ahli Sunnah juga pakai penafsiran. Contohnya, dalam hukum, orang yang berbuat baik masuk surga, orang yang berbuat jahat masuk neraka. Tetapi Ahli Sunnah mengatakan, bisa saja Allah memasukkan yang berbuat baik ke neraka, dan yang berbuat jahat masuk surga, dengan penafsiran, kalau Allah menghendaki. Itukan penafsiran. Jadi sama-sama menafsirkan.
Kalau Mukjizat Menurut Anda Apa?
Mukjizat itu Sunnahtullah yang belum diketahui. Kalau sudah diketahui, orang takkan heran lagi. Seperti Haji Lele (dukun/ tabib di Jakarta, red) bisa mengobati AIDS, misalnya.
Apakah faham ini tidak menuju sekularisasi?
Kalau Sunnatullah itu jelas bukan sekularisasi, beda dengan hukum alam yang tidak disandarkan pada Tuhan. Kata Baiquni (ahli atom), kalau ilmu itu sudah dikembalikan ke Sunnatullah, berarti sudah Islamisasi ilmu. Sunnatullah itu bukan sekedar hukum alam tapi hukum alam ciptaan Tuhan.
Anda menempuh “kemajuan “ dengan membahas taqdir. Padahal Abu Zahrah ulama terkemuka di Timur Tengah mengatakan, para filosof mengungkit-ungkit qadha dan qadar (takdir) itu tidak banyak gunanya bahkan membingungkan masyarakat.
Untuk masyarakat awam memang, bingung. Tapi Abu Zahrah yang dosen saya di Mesir itu dia juga berfilsafat. Bagaimana ulama tidak berfilsafat.
Ada Hadits Bahwa Nanti Akan Ada Golongan Yang Tidak Percaya Pada Taqdir.
Itu saya belum menemukan, semua itu tadi memang “Masyiatullah” (kehendak Allah). Hanya yang Jabbariah mengartikan kehendak mutlak Tuhan, sedang qadariyah kehendak Tuhan melalui Sunnatullah.
Demikianlah hasil wawancara penulis dengan Prof Dr Harun Nasution. Berikut ini tanggapan-tanggapan yang penulis kumpulkan cuplikannya.
Tanggapan Ketua Umum “PERSIS” Tentang Rukun Iman
Tidak beriman kepada qadha dan qadar (taqdir) Allah dalam Islam mengakibatkan cacatnya keimanan. Karena qadha dan qadar itu jelas ada dalam hadits. Sedangkan hadits Nabi Muhammad saw itu sendiri adalah wahyu Allah yang sifatnya ghairu matluw (tidak dibacakan oleh malaikat Jibril). Wahyu yang dibacakan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur’an. Kedua-duanya menjadi sumber pokok dalam Islam. KH A. Latief Mukhtar MA, ketua Umum PERSIS (Persatuan Islam), alumni Institut Studi lslam/Ma’had Dirosah Islamiyah Mesir—dulu tempat belajar Prof. Dr. Harun Nasution pula—mengemukakan hal tersebut menanggapi pendapat Harun Nasution tentang Rukun Iman ada lima atau enam (Pelita, 16/7 1992). Pendapat Harun Nasution itu ditanggapi secara berturut-turut oleh KH. Ali Yafie (17/7 1992), Prof. Dr. Peunoh Dali (18/7 1992), KH Masyhuri Syahid MA (21/7 1992), Prof. Dr. HM. Rasyidi (22/71992). Cacatnya keimanan lantaran tidak mengimani qadha dan qadar Allah, ungkap A Latief Mukhtar yang bermukim di Bandung ini, karena ditegaskan dalam Al-Qur’an: “... yu’minuuna biba’dhil kitaab wayakfuruuna biba’dhihi ...” [Mengimani sebagian (isi) kitab dan mengingkari sebagiannya...] “Ketidak percayaan pada qadha dan qadar itu karena Mu’tazilah titik tolaknya pada rasio/ akal. Sedangkan qadha dan qadar itu ada di hadits yang sebenarnya juga wahyu. Maka secara Qur’ani pengingkaran ini berarti cacat keimananya,” ucap KH. A. Latief Mukhtar MA.
Over acting
Contoh rasional yang over acting, menurut almarhum Said Hilabi mantan ketua umum Al-Irsyad, alumni Mu’allimin Al-Irsyad Pekalongan 1939, adalah ungkapan Harun Nasution tentang menunda kematian bahwa mati tidak bisa dielakkan tetapi bisa ditunda, misalnya dengan cangkok jantung tambah umur 5 tahun. Asal mampu mengerti kadar/ ketentuan-ketentuan untuk hidup 120 tahun misalnya, kata Hilabi, dan mampu mensuplay dengan kebutuhan seluruhnya maka bisa bertahan hidup. “Tetapi masih ada satu lagi, ada masalah yang tidak bisa dikontrol. Misalnya kita naik pesawat lalu jatuh, mati. Memang ada hukum kausalita, sebab akibat. Tetapi ada juga yang tidak bisa dikontrol,” ucap Hilabi.
Qadha dan Qadar
Dalam hadits Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan hadits Jibril, dari Umar bin Khatthab diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“.....Beritahulah aku tentang iman. Rasul menjawab: “Anda beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan anda beriman dengan qadar (ketentuan) baik dan buruk.... “ (HR. Muslim).
Hadits itu, menurut Masyhuri Syahid alumni Al-Azhar Mesir, dipergunakan oleh jumhur (mayoritas) ahli hadits termasuk Imam Syafi’i. Landasan yang disepakati jumhur ahli hadits, kalau hadits itu sesuai dengan jiwa Al-Qur’an, tidak mustaqil (terlepas sama sekali) dengan jiwa Al-Qur’an, maka diterima atau dipakai. “Dalam hal qadha dan qadar ini jelas ada dalam Al-Qur’an, kemudian ada haditsnya, jadi dipakai,” ujar Masyhuri Syahid menegaskan rukun iman itu jelas ada enam bukan lima, sambil menambahkan, yang tidak terpakai itu hadits Mudhu’ (palsu) yang tidak sesuai Al-Qur’an dan tak kuat periwayatnya.
Dimunculkannya kembali ketidakpercayaan kepada hadits yang sangat terkenal itu, menurut Masyhuri Syahid, bisa dikhawatirkan ada usaha-usaha menjauhkan agama dengan mempreteli aqidah ummat Islam. Kalau langsung menjauhkan agama dan ummatnya pasti sulit, maka ditempuh jalan lewat mempreteli aqidahnya. “Memang syi’ah tidak senang bahkan apriori terhadap Umar bin Khatthab, sedang Mu’tazilah tidak begitu mengindahkan hadits. Jadi latar belakang ini juga perlu dikenal, sebab qadha dan qadar tersebut ada di hadits, dan itu dari Umar,” ulasnya.
Mengingkari Sifat Tuhan
Menurut KH Ali Yafie, ulama yang pernah duduk di MUI, faham Mu’tazilah yang paling menonjol adalah mengingkari sifat-sifat Tuhan. Seperti, Tuhan Maha Kuasa, itu menurut Mu’tazilah tidak bisa disifatkan begitu. “Mu’tazilah menamakan prinsip Tauhid adalah mengingkari sifat Tuhan,” ujarnya.
Demikian pula, lanjut Ali Yafie, dalam prinsip ‘adl (keadilan), Mu’tazilah mengingkari qadha dan qadar. Karena dalam qadha dan qadar bagi mereka seakan-akan seperti ada kekurangan keadilan Tuhan. Jadi segala perbuatan tidak dinisbatkan kepada Tuhan. Akibatnya menjadi faham qadariyah, tidak mempercayai taqdir Allah swt. “Ini campur baur dengan filsafat, dan faham inilah yang menentang mayoritas ummat Islam,” tegasnya.
Menumbuhkan Taqlid Mu’tazilah
Memilah-milah ummat Islam dengan mengatakan Mu’tazilah pro-sains (ilmu pengetahuan) dan Ahli Sunnah tidak, berakibat menumbuhkan sikap saling membanggakan golongan. Pemikiran semacam itu latah, ketinggalan zaman, menimbulkan cekcok, dan tidak perlu. “Kenapa tidak mengembangkan pemikiran Islam dan sains dari sumbernya, dengan kembali kepada sumber Islam lalu mengikuti manhaj fikril Islami (pola pemikiran Islami)?” sanggah Prof Dr Peunoh Dali (almarhum) alumni Al-Azhar Mesir jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh..
Menurut Peunoh Dali, fanatik kepada Mu’tazilah seperti apa yang dimaui Pak Harun itu justru mempersempit dan memperkecil potensi akal. “Jangan taqlid butalah!” tandasnya. Peunoh mentamsilkan, kalau dulu orang memaki-maki taqlid mazhab, kini malah timbul taqlid Mu’tazilah. Ini alasan baru, bila memakai faham Mu’tazilah akan cocok dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) itu. Faham Mu’tazilah, jelas Peunoh, menurut buku Al-Mu’tazilah karangan Ustadz Az-Zuhdi dari Suriah, tidak dapat maju dimana-mana. Cara berfikir Mu’tazilah seperti Islam, tetapi tidak lurus Islam benar. Washil bin Atha’, pendiri aliran Mu’tazilah itu, antek Yahudi. “Masa, umur 19 tahun sudah bisa ngomong segala macam dan mendirikan aliran, itu karena yang ngomong segala macam dan mendirikan aliran, itu karena yang ngomong adalah orang lain yaitu Yahudi,” tutur Peunoh mengutip buku itu.
Harun Nasution Kadang Ucapannya Melewati Batas
Prof. Dr. HM Rasyidi (almarhum) kawan senior Prof. Dr. Harun Nasution—waktu di Mesir dan Canada 1958-1963-- menanggapi pendapat Harun Nasution. Prof. HM Rasyidi mengatakan bahwa ucapan Harun Nasution kadang-kadang melewati batas. Tanggapan itu disampaikan kepada Pelita, Selasa (21/7 1992) setelah surat kabar ini memberitakan pendapat Harun Nasution tentang Rukun Iman hanya lima (Kamis 16/7). Pendapat itu ditanggapi KH. Ali Yafie (Jum’at 17), Prof.Dr.H. Peunoh Dali (Sabtu 18/7), dan KH. Masyhuri Syahid MA (Selasa 21/7 1992). Tanggapan Prof. Dr. HM. Rasyidi seutuhnya seperti berikut ini.
Prof. Harun Nasution menimbulkan persoalan tentang Rukun Iman, dan mengatakan bahwa Rukun Iman dalam Islam lima yaitu Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab suci, rasul-rasul-Nya, dan akhirat; sedang yang keenam yaitu percaya kepada qadha dan qadar ia mengkritiknya.
Prof. Harun Nasution adalah teman saya pribadi ketika saya mencari pengalaman di Canada, di Universitas Mc. Gill di kota Montreal kira-kira pada tahun 1958-1963, dengan menjadi asosiasi Profesor di sana. Ia sebagai seorang teman saya yang berada di Paris, saya berusaha dengan mencarikan bantuan baginya untuk meneruskan belajar di McGill. Beliau menerima tawaran itu dan menyelesaikan program MA dan Ph.D setelah saya berada di Washington Islamic Center, sampai kembali ke Jakarta pada tahun 1963. Nampak pembawaan pribadi kita berdua berlainan, sehingga penilaian tentang apa yang kami dengarkan dan saksikan juga berlainan.
Pada berita 16 Juli 1992/ 15 Muharam 1413 H Dr. Harun Nasution menunjukkan dirinya sebagai orang yang sangat terpengaruh oleh cara orang mempelajari Islam di Barat sehingga memberi kesan bahwa semua cara mempelajari Islam di sana baik, dan semua yang di negeri-negeri Timur Tengah mengecewakan, tanpa melihat perbedaan waktu yang berabad-abad.
Dr. Harun Nasution dalam berita berjudul: “Rukun Iman Lima atau Enam” mengatakan, “bahwa yang biasa dianut sebagai rukun keenam (Iman kepada qadha dan qadar) itu tidak benar, karena bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Dalam faham taqdir yang bahasa Arabnya Jabbariyah dan bahasa Baratnya Fatalisme, segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Api membakar menurut kehendak Tuhan, adalah faham taqdir, yang berarti bahwa Tuhanlah yang membakar. Padahal api adalah penyebab daya membakar.”
Dengan mengikuti uraian Prof. Harun Nasution yang sangat bersemangat untuk menunjukkan bahwa “api” lah penyebab kebakaran dan bukan Tuhan, soalnya menjadi buntu. Tetapi marilah kita berfikir secara tenang sebagai orang yang beragama Islam.
Dalam firman Allah:
“Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadiid: 22-23).
Prof. Harun Nasution kadang-kadang sampai melewati batas seperti ucapannya: Hukum alam yang dipegang, semua ikhtiar berhasil.
Kesan saya tentang sahabat saya Dr. Harun Nasution seperti kesan saya waktu membaca surat Al-Baqarah:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat,“ lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)
Dosen IAIN Dikirim ke Barat
Bersamaan dengan pemberian tanggapan itu Pelita menanyakan kepada Pak Rasyidi tentang pengiriman dosen-dosen IAIN untuk belajar ke Barat (Eropa dan Amerika) dengan alasan untuk belajar metodologi berfikir. Prof. Rasyidi menjawab: Pengiriman dosen IAIN ke Barat itu boleh, tetapi hendaknya yang benar-benar bisa berfikir. Maksudnya, dosen yang dikirim ke Barat itu, ukurannya berdasarkan ibadahnya itu ia tidak hilang ketika mendapatkan pelajaran atau pengaruh dari Barat.
Prof. Rasyidi mencontohkan, dirinya pernah ditarik-tarik ke arah yang tidak karuan oleh seorang yang mendapatkan doktor dari Amerika, ketika diskusi tentang Syi’ah dengan Jalaluddin Rachmat dari Bandung di Pesantren Darun Najah Jakarta beberapa waktu lalu dan doktor itu menjadi moderator. Itu menunjukkan bahwa pemahaman dia sendiri masih kabur tentang Islam ini. Model penyandang gelar tetapi sebenarnya masih kabur pemahaman atau keilmuannya seperti itu, menurut HM. Rasyidi, akan mudah dipermainkan orang. Meskipun demikian, Prof. Rasyidi mengakui, kalau Nurcholish Madjid memang betul-betul belajar. Dan sekalipun ia sesekali berfikiran nyeleneh tetapi masih ada rasa malunya. Itu masih agak mending kalau dibanding dengan figur lain (Prof. Rasyidi menyebut nama seseorang yang dikenal nyeleneh pula) sudah bodoh, ngomongnya tak karuan lagi, ulasnya.
Mu’tazilah dan Sains
Tentang Mu’tazilah dikaitkan dengan sains (ilmu pengetahuan), HM. Rasyidi berkomentar, orang yang mengaitkan itu hanyalah Harun Nasution. “Bagi saya Mu’tazilah itu bikin bingung orang,” tegasnya. Sains, lanjutnya, waktu itu belum ada seperti halnya sekarang. Hanya, Mu’tazilah mengandalkan akal. Tetapi akal kadang-kadang juga tak sampai. Misalnya, pembicaraan berkisar Al-Qur’an itu qodim (dulu) atau hadits (baru). Mu’tazilah mengatakan hadits (baru). Sedang Ahlis Sunnah karena Al-Qur’an itu jelas-jelas kalam Allah maka mengatakan qodim. “Jadi hanya soal-soal yang begitu-begitu itu. Lantas Mu’tazilah diterjemahkan dengan rasional, itu sebenarnya juga nggak. Mu’tazilah ya Mu’tazilah,” ucap Rasyidi.
Prof. Dr. Harun Nasution yang dihubungi oleh Pelita Sabtu lalu (18/7 1992) menyatakan tidak bersedia memberikan komentar atas tanggapan dari sejumlah tokoh Islam yang menanggapi pernyataannya tentang jumlah rukun iman itu. “Sudah, sudah selesai. Saya sudah mengemukakan pendapat saya, ya sudah selesai...” Jawabnya dari balik gagang telepon. Dalam pembicaraan via telepon itu penulis mendengar lolongan beberapa anjing yang kemungkinan berada di dekat Pak Prof. Harun Nasution yang menjawab pertanyaan itu lewat telepon di dalam rumahnya.
Demikianlah pola pemikiran yang dicanangkan untuk IAIN, STAIN, dan perguruan tinggi Islam di Indonesia yang digagas oleh Harun Nasution dan diteruskan oleh para kadernya. Hasilnya kini bisa disimak, di antaranya di sini, betapa banyaknya dosen IAIN yang bersuara nyeleneh.#
ADA PEMURTADAN di IAIN Oleh : H. Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga: http://jaketbaseball.org/ http://jualjaketbaseball.com/ http://www.artizara.com/ http://tokoseragamonline.com/ http://pelaminan-minang.safirkonveksi.com/
Sin embargo.
El cielo se ha nublado desde aquél día en que rocé sus labios, desde aquél momento en el que me estrechó entre sus brazos. Quería correr a detener el tiempo, pero lógicamente implicaba moverme del lugar de comodidad. Recuerdo ese instante en el que su mano rozó mi piel, estaba más que segura de que era el lugar en donde quería estar.
Sin embargo, pretendo guardar el momento para mi; vivir anclada a su cuello hubiera sido una buena solución. Sin embargo, el tiempo, aquella efímera medida, acabó con el momento; ese pequeño instante en el que me sentí suya. La memoria, desde aquellos instantes, apela al sentimiento, a la sensación de esos días, a la charla que envolvía sin reparos esa unidad de medida. Desde aquél instante, supe que él sería la única persona que podría hacer feliz en este universo en donde el amor ya no es una opción. Desde ese instante, me di cuenta, que el tiempo se volvió un factor en contra; que el motivo de nuestro andar, no era el amor, y que a pesar de que este sentimiento ha sido el que me ha traído hasta aquí el día de hoy, todo se resume a algo que no ha podido ser.
Y, sin embargo, me sobran motivos para quererte. Y, sin embargo, ya no soy la misma desde aquel instante. Y, sin embargo, extraño sentir el latir de su corazón agitado. Y, sin embargo, el cielo de tornó nublado desde ese día, el sol no ha brillado, el tiempo llegó a su límite, aunque aún no se sí todo término en ese instante. Y, sin embargo, te quiero, te espero…