TUAN RUMAH
Untuk anda, Tu(h)an rumah, Ada yang sakit hari ini, baik secara fisik, maupun nurani, Tuan. Mereka berdarah, tersayat, lebam, memar, luka demi berjuang. Berjuang akan hak mereka yang tidak bathil. Banyak yang berkorban hari ini, Tuan. Demi pengakuan, demi kesejahteraan, demi keadilan, bahkan demi makanan. Hendak kah anda lihat, Tuan? Lihat mereka kelaparan, lihat mereka kesusahan, lihat mereka terbutakan oleh kehendak Tuan. Tidak hendak kah anda peduli, Tuan? Pada kami semua yang dituntut tunduk, yang dituntut patuh, yang dituntut bertekuk lutut hingga ajal menjemput. Jadi di mana demokrasi, Tuan? Di tengah tanah merah, Tuan banjiri kami dengan darah yang bersimbah, pada setiap jalan, pada setiap malam. Di mana ideologi itu sekarang, Tuan? Di mana “Bhinekka Tunggal Ika” milik semua orang? Di mana, Tuan? Tolong jangan disimpan dalam diam, hingga kami lupa semboyan itu ada. Kami sadar, kami ada, kami berlipat ganda. Ini hanya awal mula. Hari ini, saya masih berdiri. Bertahan di ujung belati, sendiri. Membela mati demi ibu pertiwi. Bersuara lantang untuk saudara dan saudari. Berharap Tuan mendengar suara kami. Merendah menancap akar ke bumi, meninggi mencakar awan di langit. Sekali lagi, saya di sini, saya tidak pernah mati. Perhatikan baik-baik, Tuan. Di hari akhir nanti akan ada yang menyanggupi. Semua kehendak Tuan yang ternyata hanya basa-basi. Yang selalu bandingkan anda dengan kami yang tidak berpendidikan tinggi. Yang selalu tidak peduli bila ada yang terjatuh, tersungkur, tersisi. Satu per satu dari kami hilang anda buat mati. Tiga dari kami hendak nya anda waspadai. Karena akan tiba saatnya. Di mana saya adalah anda dan anda adalah saya. Saat saya melawan anda, Tu(h)an.













