Hari jelang keberangkatanmu, hari jelang hari-hari tanpamu.
05:47
Jam dinding di kamar tidur kita, jam tanpa suara —tik, detik, yang kita beli karena katamu ketukan jarum jam yang nyaring membuatmu susah tidur (padahal hitungan jari saja engkau sulit tidur, selebihnya pulas tertidur sesaat setelah rebah disampingku); mati suri di hari Sabtu pagi, awal bulan kesembilan.
Andai, waktu benar-benar bisa tertahan. Ah, bukan. Andai, waktu kebersamaan kita bisa tertahan, seperti waktu tertanda pada jam dinding mati di kamar tidur kita ini. Sabtu pagi berselimut hawa malas, yang semestinya bisa menambah ekstra waktu kembali tidur, tapi hanya tercenung sambil menatap jam dinding yang berhenti berputar. Menyadari bahwa bangun pagi ada kamu di sisiku hanya tinggal sebentar lagi.
Rasanya tak ingin ku ganti batu baterai jam dinding di kamar tidur ini. Aku tidak ingin mengetahui waktu. Jelang keberangkatanmu, rasa-rasanya masa bodoh saja dengan waktu yang terasa amat cepat berlalu.
Begini rupanya cara tuan jam dinding mencemooh diriku yang sedang cemas dengan bergulirnya sisa waktu bersama. Mengejek kami yang belum juga mengepak dan mengemas barang bawaan, padahal saat keberangkatan kian dekat, lebih dekat ketimbang jarak dan waktu tempuh kami nantinya, lebih dekat ketimbang selisih waktu kami nantinya.
Jam dinding semprul, dengan 05:47, sengaja meledekku, ya?!










