24.11.17 - AFTERNOON TALK #4
“Aku nanti mau jadi guru.” “Aku nanti mau jadi dosen.” “Kalo aku sih mau jadi psikolog yang buka praktik sendiri di rumah.” “Aku seneng sama kegiatan yang sifatnya dinamis, banyak bergerak, ketemu sama orang banyak. Kayaknya aku mau jadi trainer aja.”
Setiap orang mempunyai tujuan dalam hidupnya, baik yang sifatnya jangka panjang ataupun jangka pendek. Masing-masing dari mereka belajar untuk mengenali setiap tujuan yang akan mereka capai. Jika dalam hal ini yang dimaksud adalah profesi, maka setiap orang senantiasa mencari tahu sebenarnya profesi yang mereka inginkan itu seperti apa.
Apa sih yang akan aku lakukan ketika aku berprofesi sebagai guru? Kalau aku jadi dosen, kira-kira pekerjaannya ngapain aja ya? Kalau aku jadi psikolog, kira-kira akan di ranah apa dan bagaimana cara mengerjakan pekerjaan tersebut? Eh, kalau trainer emangnya ngapain ya?
Kegiatan Afternoon Talk yang ke-4 (24/11/2017) kemarin mengundang salah satu dosen kita yang luar biasa. Luar biasa luas pengalamannya, luar biasa menyenangkan orangnya, dan tentunya luar biasa pula ilmu yang dimilikinya. Tim Laboratorium berkesempatan untuk mengundang Beliau untuk menjadi guest star dalam kegiatan kemarin dan tentunya Beliau membagikan ilmu yang tidak ternilai harganya.
M. Zein Permana, M. Si.
Seorang dosen Fakultas Psikologi UNJANI yang bergerak di ranah sosial dan sekaligus juga seorang trainer mumpuni. Pengalamannya menjadi trainer sudah tidak diragukan. Beliau sudah melanglang buana ke berbagai daerah untuk memberikan pelatihan dan juga mengikuti berbagai pelatihan. Salah satu dosen yang menjadi favorit mahasiswa ini bercerita tentang profesinya sebagai trainer dan tentunya membagikan dua prinsip hidup yang berharga untuk kita semua.
Jadi, apa sih Trainer?
Trainer itu adalah seseorang yang membantu orang lain menjadi mampu untuk melakukan sesuatu. Trainer itu berbekal ‘keterampilan’ yang bisa diaplikasikan kemudian mereka yang berprofesi sebagai trainer membagikan keterampilan tersebut pada orang yang belum mampu sehingga nantinya setelah mereka dilatih dalam suatu program pelatihan, orang-orang tersebut menjadi mampu. Profesi sebagai trainer bukan hanya sekedar membagikan pengetahuan atau knowledge, tapi seorang trainer dapat membagikan applicable skill kepada orang lain.
Sangat kentara bedanya trainer dengan seorang guru.
Guru memberikan pengajaran di kelas kepada murid-muridnya dan materi yang disampaikan kepada murid hanya sebatas knowledge. Sehingga proses pembelajaran akhirnya akan membuat seseorang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu. Berbeda dengan trainer, mereka bukan hanya memberikan knowledge, tapi juga skill. Sehingga para proses pelatihan, yang akan dilatihkan kepada peserta tidak sebatas teoritis saja namun mengarah pada terbentuknya keterampilan pada diri peserta. Misalnya, A bisa main gitar dan B tidak bisa. Ketika A mengajari B bermain gitar sampai dia bisa, maka A dapat disebut sebagai seorang trainer. Sehingga nantinya setelah A mengajari B bermain gitar, maka B akan jadi seseorang yang bisa bermain gitar sama seperti A.
Jadi profesi trainer itu sederhana. Seorang trainer hanya mengajari seseorang berdasarkan pengetahuan, kemudian ia melatih seseorang supaya orang tersebut mempunyai kemampuan yang trainer miliki.
Faktanya adalah profesi trainer saat ini banyak dibutuhkan, terutama di perusahaan. Anggaran yang disiapkan untuk profesi trainer cukup besar namun belum termanfaatkan seluruhnya.
Namun pada pertemuan kali ini, Pak Zein belum ingin membahas terlalu banyak tentang trainer. Profesi hanyalah sebuah label yang disematkan orang lain pada seseorang. Seseorang bisa mendapatkan begitu banyak label, seiring dengan orang lain melihatnya mengerjakan sesuatu apa. Katakanlah seorang laki-laki dewasa yang ia mengajar di sebuah kampus, kemudian ketika jam mengajarnya sudah selesai ia melatih basket di sekolah menengah atas, malamnya ia biasa memberikan kuliah tujuh menit selepas shalat Maghrib di masjid. Tentunya pria ini akan banyak mendapatkan label dari orang lain. Di kampus ia disebut sebagai dosen, di sekolah ia disebut sebagai pelatih, dan di lingkungan rumahnya disebut sebagai Ustadz. Banyak, bukan? Profesi hanya sebuah label yang disematkan kepada seseorang dan dengan label tersebut seseorang itu mendapatkan uang.
Jauh sebelum kita memutuskan ingin dilabeli seperti apa oleh orang lain, ada baiknya kita tahu apa yang dapat kita lakukan saat ini juga. Pak Zein akhirnya memberitahu bahwa ada 2 prinsip yang harus kita anut dalam hidup.
Prinsip pertama: Apapun, yang penting kita harus berhasil dan indikator keberhasilan itu kita yang tentukan sendiri.
Dalam melakukan segala sesuatu hal, baik hal-hal yang sifatnya sepele atau beresiko yang harus dicapai adalah sebuah keberhasilan. Contoh kecilnya adalah kalau kita ingin bangun jam 5.00 pagi dan ternyata kita bangun jam 05.15 artinya kita tidak berhasil. Sering kali kita tidak menyadari bahwa ketika kita tidak melakukan sesuatu sesuai dengan jadwal artinya kita sudah melakukan kegagalan. Kegagalan apa? Gagal untuk menepati janji yang kita buat untuk diri sendiri. Bukannya menyesal dan mengevaluasi, bahkan seringnya kita menjadikan hal-hal yang keluar dari jadwal menjadi sebuah pemakluman. Berpikir bahwa, “Ah, cuman telat 15 menit ini.” Atau “Ah, santai lah da masih lama atuh mau jadi dosennya juga harus kuliah S2 dulu.”
Alasan-alasan seperti itulah ternyata membuat diri kita tidak akan lepas dari yang namanya kegagalan. Those excuses make us forgive ourselves again and again without evaluation. Ketika kita menyanggah diri kita sendiri dengan melakukan pembenaran dan hal tersebut diterima, maka pembenaran tersebut akan menimbulkan rasa nyaman dan aman. Sehingga pada kesempatan berikutnya, karena tidak ingin merasa bersalah pada diri sendiri akhirnya kita mengungkapkan alasan yang sama, berulang kali bahkan sampai tidak terhitung jumlahnya. Bisakah kalian mengingat sudah berapa kali kalian melanggar janji yang dibuat untuk diri sendiri?
Hal lain lagi adalah ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang perilakunya kita anggap lebih buruk dari diri kita. Misalnya, kita ingin bangun jam 05.00 pagi, tapi ternyata bangun jam 05.15. Di sisi lain, ada teman kita yang ingin juga bangun jam 05.00 pagi namun ternyata ia bangun jam 06.00 pagi. Lantas kita membandingkan, “Tuh masih ada dia yang bangunnya lebih siang.” Begitu kan diri kita? Ketika sudah gagal lalu membandingkan diri dengan yang gagalnya jauh lebih parah. Muncul energi negatif dalam hidup yang akan membuat hari-hari kita terasa kelabu. Bayangkan setiap hari kita bertemu dengan orang yang sama-sama malas, sama-sama seperti zombie, sama-sama punya energi negatif. Akan jadi seperti apa hari-hari yang dijalani?
Kita adalah diri kita sendiri. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Indikator berhasilku dan indikator berhasilmu berbeda. Akan lebih baik kita membandingkan diri dengan orang yang berhasil menepati janjinya, sehingga hal tersebut bisa menjadi bahan evaluasi diri supaya pada kesempatan berikutnya kita tidak gagal menepati janji. Mulai untuk meraih keberhasilan dari hal-hal yang sepele mulai saat ini, jangan mau dilabeli ‘zombie’ yang tidak bisa menciptakan apapun dan penuh dengan kegagalan. Kenyataannya, tanpa sadar kita bergaul dengan orang-orang yang merasa dirinya gagal dari awal. Label ‘zombie’ ini ternyata diamini oleh banyak orang sehingga banyak dari kita sendiri yang menganggap bahwa diri kita ikut gagal. Contoh sederhana adalah tentang rasa bangga terhadap almamater. Tidak sedikit yang menganggap dirinya gagal karena tidak berhasil masuk ke kampus impian. Hey, it’s okay! Semua mahasiswa di universitas seluruh Indonesia ini sama. Kuliah dimulai dari semester satu, dijejali dengan mata kuliah dasar umum dulu, kemudian naik ke semester dua, sampai akhirnya ke semester delapan. Apa yang membedakan? Kualitas lulusnya. Jadi, mulai sekarang yuk kita buat tempat yang kita tempati sekarang menjadi bangga karena ada kita di dalamnya.
Mari mulai melakukan usaha-usaha yang akan menunjang langkah kita menuju keberhasilan. Ketika kita ingin bangun jam 05.00, maka tentunya kita harus tidur lebih awal, jangan lupa set alarm dan letakkan alarmnya di tempat yang terjangkau. Sudah bagus usahanya? Bagus sekali. Tapi kenyataannya? Kita masih bangun jam 05.15. Karena kita terlambat 15 menit dari waktu yang telah ditentukan, artinya kita gagal. Orang itu, yang janji pada dirinya bangun jam 05.00 dengan semua usaha yang ia lakukan, ternyata gagal. Lalu bagaimana? Kalau begitu, di kesempatan berikutnya tidak boleh gagal. Bagaimanapun caranya, besok harus bisa bangun jam 05.00 dan usaha yang dilakukan tidak boleh gagal. Ya terus bagaimana caranya? Apapun caranya terserah padamu asalkan tidak gagal. HARUS BERHASIL!
Namun pertimbangkan juga cara-cara yang akan dilakukan. Perhitungkan, apakah kemungkinan gagalnya besar atau kecil. Jika kemungkinan gagalnya besar, artinya harus cari cara yang lain. Jangan mengulangi cara yang sama karena sudah terbukti bahwa cara tersebut mengarah pada kegagalan. Einstein mengatakan bahwa yang disebut dengan kegilaan/madness adalah ketika seseorang melakukan cara-cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda. Jadi kalau cara A untuk mencapai hasil B itu gagal, maka pada kesempatan berikutnya jangan ulangi cara A. Ubah caranya menjadi A-1 untuk mendapatkan hasil B. Kalaupun kita tidak suka caranya, anggaplah itu menjadi sebuah latihan menghabiskan jatah gagal supaya kita berhasil. Bukankah ada satu kalimat yang sering sekali disebut-sebut bahwa: Bisa karena biasa dan biasa karena dipaksa. Break the limit! Melek, kejar, lakukan, yang penting berhasil.
Intinya, APAPUN YANG PENTING BERHASIL.
Prinsip kedua: Habiskan jatah gagal sekarang juga.
Karakteristik keberhasilan adalah ketika kegagalan sudah habis. Hidup tidak mungkin gagal terus-menerus, kan? Setelah kegagalan, pasti akan ada keberhasilan. Bagaimana supaya berhasil? Apapun caranya yang penting berhasil. Jadikan cara-cara yang sedang ditempuh sekarang menjadi sebuah latihan untuk menghabiskan jatah gagal. Seperti yang telah diungkapkan, kalau cara A tidak berhasil maka pindah ke cara A-1. Kalau cara A-1 tidak berhasil, pindah ke cara A-2. Pokoknya, bagaimanapun caranya yang penting kita berhasil dan jatah gagalnya habis. NO MORE FAILURE.
Namun, mencari cara untuk menghabiskan jatah gagal juga perlu perhitungan. Kalkulasikan seberapa besar kemungkinan kita akan gagal. Kalau kemungkinannya besar, tinggalkan dan putar otak cari cara lain. Kalau banyak jalan menuju Roma, maka akan ada banyak cara menuju berhasil. Tidak mungkin ada orang yang seumur hidupnya gagal, kecuali orang yang tidak pernah mencoba. Orang yang hanya diam, tidak melakukan apapun, tidak tahu langkahnya sedang ada di mana, maka ia tidak akan tahu apakah ia sedang menghabiskan jatah gagal atau membuka peluang untuk gagal kembali pada kesempatan berikutnya. Jangan sampai kita takut gagal, takut mencoba, tapi ingin sukses. Kita semua tahu bahwa sukses itu perjuangan. Sukses itu adalah berjuang mencari cara agar tidak gagal supaya mencapai keberhasilan.
Setuju, ya?
Tapi yang jadi permasalahan adalah kalau kita sudah pernah gagal, bagaimana caranya supaya kita tidak terus-menerus terngiang akan kegagalan tersebut? Tidak terus-menerus serasa dihantui oleh kegagalan?
Kita semua mengenal kata ‘maaf.’ Tidak terhitung berapa ribu maaf yang sudah kita berikan pada orang lain atas kesalahan-kesalahan mereka. Namun sayangnya, terkadang kita lupa untuk memaafkan diri sendiri. Memaafkan masa lalu, menerimanya dengan lapang dada, bersyukur dengan keadaan saat ini, dan mencari cara untuk tidak mengulangi hal yang sama di masa depan. Jika kegagalan di masa lalu bagimu adalah sebuah kesalahan, maka yang harus kamu lakukan hari ini adalah memaafkannya. Jika kamu pernah gagal di masa lalumu, percayalah bahwa langkahmu hari ini adalah sebuah bentuk keberhasilan. Jika bentuk kegagalanmu di masa lalu adalah sebuah penolakan, maka keberhasilanmu sekarang adalah bahwa kamu diterima dengan baik.
Tapi memaafkan itu sulit, loh! It feels so desperate to remember about my failure.
Hey, kamu punya teman. Ingat, setiap orang pernah gagal. Berbagi bersama teman bisa menjadi begitu melegakan, bisa jadi begitu menyadarkan bahwa hari ini adalah waktunya untuk menertawakan kegagalan di masa lalu. Hari ini saatnya berkata bahwa, “We ever been failed, but tomorrow we’ll be success.” Teman bisa jadi support system yang paling baik untuk memaafkan diri sendiri, apalagi teman yang bisa diajak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Setidaknya, ketika gagal kamu dan temanmu bisa sama-sama menertawakan kegagalan itu. Setidaknya, ketika gagal kamu akan mendapatkan satu pelajaran yang berharga yang mudah-mudahan bisa membawamu untuk menerima dan memaafkan masa lalu.
Tapi memaafkan kegagalan bukan berarti terus-menerus dilakukan tanpa ada evaluasi, ya! Itu namanya bukan memaafkan, tapi mentoleransi. Kembali lagi, jika terus-menerus melakukan toleransi maka diri kita akan sangat sulit untuk keluar dari zona nyaman dan aman untuk mencari cara menghabiskan jatah gagal dan mencapai keberhasilan.
Jadi, jelas ya teman-teman? Ada dua prinsip yang penting.
1. Apapun, yang penting berhasil.
2. Habiskan jatah gagal sekarang juga.
Hidup ini penuh kesempatan dan kita sama-sama tahu bahwa kesempatan hanya datang satu kali. Manfaatkan setiap kesempatan yang datang untuk memaafkan diri sendiri, mencari cara untuk menghabiskan jatah gagal, dan melakukan apapun (tentunya dengan cara yang positif) untuk mencapai keberhasilan. Let’s stop being a zombie! Mari kita mulai melangkah untuk menuju kesuksesan dimulai dari hal-hal yang sepele, seperti belajar untuk menepati janji pada diri sendiri.
Catatan Afternoon Talk #4 berakhir sampai di sini. Sebelumnya mohon maaf apabila catatan ini datang begitu terlambat dari waktu kegiatan dilaksanakan. Semoga apa yang dicatat bisa menjadi manfaat untuk teman-teman semuanya.
Jangan lupa ikuti kegiatan Afternoon Talk #5 yang akan hadir InsyaAllah pada hari Jumat, 08 Desember 2017 dengan bintang tamu yang kembali luar biasa, banyak pengalamannya, dan tentunya akan berbagi ilmu bersama kita semua. Oh ya, nantikan terus catatan terbaru tentang Afternoon Talk di secangkirkopisore.tumblr.com, ya!
Untuk malam ini cukup sekian.
Selamat menutup hari, selamat beristirahat.
Selamat malam, sampai jumpa pada catatan berikutnya!
Sincerely, susanokw.












