Aku meluangkan waktu pekan ini untuk membaca buku seorang muslim bernama Jeffrey Lang yang dulunya ateis. Ada kalimat menarik di buku tersebut:
Dengan cepat saya belajar bahwa tak seorangpun mampu memahami kesendirian sebagaimana seorang ateis. Ketika orang biasa merasa terkucil, melalui kedalaman jiwa, dia bisa memanggil Yang Satu, yang memahami dirinya dan memberikan sebuah jawaban.
Seorang ateis tidak mungkin mengizinkan dirinya mendapatkan kemewahan itu, karena dia harus menekan keinginan itu dan mengingatkan dirinya sendiri betapa absurd gagasan tersebut. Dia mungkin menjadi tuhan jagat rayanya sendiri, namun jagat itu hanyalah jagat kecil, karena batas-batasnya ditentukan oleh persepsinya sendiri dan juga terus-menerus mengecil. Saya sampai pada kesadaran pahit bahwa jagat raya saya sudah menjadi sebuah penjara.
"Sungguh tak mudah menjadi Tuhan, pada akhirnya," begitu kata beliau.
This actually makes sense, because being God is the greatest responsibility, one that no human being could ever comprehend. I'm so glad that Allah can take on that immense responsibility for the universe.
Saat itu, saya sangat ingin membebaskan diri. Saya ingin diterima oleh semua orang dan sangatlah penting bagi saya persepsi orang tentang saya, bahkan saat saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya tak peduli. Kita semua memiliki kebutuhan untuk menjustifikasi keberadaan diri kita, dan jika tak seorang pun menghargai kehidupan saya, lalu apa artinya? Kalau hidup saya tak memiliki makna, mengapa pula saya harus hidup?
Berharga di mata Tuhan adalah identitas.
Temuan ini juga selaras dengan apa yang aku temukan di instagram beberapa waktu lalu di akun (at)esslythe:
Aduh makasihh Tuhann aku gak perlu jadi Tuhan. Bisa banyak hal tapi gak perlu harus bisa juga gapapa. Hidup udah enak punya Tuhan, gak perlu dibikin stress karena pingin jadi Tuhan; pingin segala beres pingin segala sempurna pingin segala mulus. Gak perlu punya jawaban atas segala sesuatu dan semua orang.
Seringkali stress-nya kita karena tanpa sadar kita pingin jadi Tuhan, berperan jadi Tuhan. Tanpa sadar kita mikir dalam hati, "kalo ga ada gue, nanti gimana?" Astagaa, pasti bisa kok. Ada Tuhan. Ngikut apa kata Tuhan aja.
Guys, the pressure is off. We dont need to be God. We just need to live and show people how awesome our God is; betapa hidup enjoyable dan full of hope karena punya Tuhan segimanapun pressure dan stress hidup mengintip.
He is the God, He will always be, and He is in charge of everything. We dont need to. Kalemm ajaah. Oh Thank God. Terima kasih Tuhannnnn.
Tidak ada tambahan elaborasi apapun, hanya ditulis, dikutip, dan diunggah kembali untuk mengawetkan nasihat-nasihat spiritual.
— Dikutip dari buku Jeffrey Lang dan postingan (at)esslythe di Instagram