Jeruk Bali
Beberapa dari kalian mungkin tidak mengenal Durian, buah berduri tajam serta memiliki bau menusuk. Jika kalian tidak berhati-hati maka kalian bisa tersakiti oleh durinya, beberapa dari kalian juga pasti ada yang tidak menyukai bau Durian. Itu wajar, karena memang kita diciptakan berbeda-beda. Tapi, pernahkah kalian bertanya-tanya kenapa Durian diciptakan seperti itu? Apakah itu adalah bentuk dari pertahanan diri Durian? Silahkan kalian simpulkan sendiri.
Durian lahir ke dunia dengan kulit berduri tajam serta bau menusuk, kedua hal itu membuat Durian sulit diterima oleh buah lain di lingkungannya. Durian merasa dirinya berbeda dari buah lainnya, kulit halus, bau segar, bahkan Nangka durinya tidak setajam Durian, serta aromanya yang menggoda membuat Nangka masih bisa diterima oleh lingkungan tempat Durian hidup. Keinginan Durian untuk bisa bersosialisasi dengan buah lain membuatnya terpaksa harus menanggalkan duri-duri di tubuhnya, meskipun sakit. Tanpa duri di tubuhnya, Durian akhirnya bisa bermain, berkumpul, dan bersosialisasi dengan buah lainnya. Meskipun Durian sadar itu bukanlah dia yang sebenarnya, tapi itu sudah cukup baginya. Meski begitu, Durian tidak mau berada terlalu dekat dengan yang lain, karena Durian tidak ingin baunya yang menusuk tercium oleh buah lain. Durian tahu betul, tidak semua buah bisa menerima bau Durian. Hal itu membuat Durian merasa sendirian meskipun dia sudah bisa berbaur dengan lingkungannya.
Namun suatu hari, Durian mendapati sebuah Jeruk sedang duduk sendirian. Durian merasa aneh dengan hal itu, menurutnya tidak seharusnya sebuah Jeruk berada sendirian di tempat ini. Jeruk, buah yang berkulit oranye, halus, serta memiliki aroma manis, "Mengapa ia disini sendirian bukannya bermain bersama yang lain?" Begitu pikir Durian.
Durian pun mendekatinya dan bertanya pada Jeruk "Kenapa engkau disini sendirian Jeruk? Tidakkah engkau ingin bermain dengan yang lain?"
"Aku sedang sedih" jawab Jeruk.
"Apa yang membuatmu bersedih? Apakah keindahan kulitmu serta kelembutannya tidak cukup untuk membuatmu bahagia?" Durian semakin penasaran.
Jeruk pun akhirnya menjelaskan apa yang membuatnya sedih "Aku telah disakiti oleh Kedondong. Aku pikir kulitnya yang halus bisa membahagiakanku, namun ternyata semakin dalam aku mengenalnya aku semakin tidak mengerti dia. Dia begitu halus diluar namun rumit didalam, sulit bagiku untuk mengerti dirinya, sehingga dia sering menyakitiku karenanya".
Durian terdiam mendengar hal itu, pikirannya menjadi kacau setelah mendengar cerita Jeruk. Selama ini Durian berpikir, kulit halus serta aroma yang manis bisa membawa kebahagiaan di kehidupan para buah. Untuk sesaat mereka berdua terdiam, hingga Jeruk menyadari sesuatu.
"Bagaimana denganmu? Aku tidak pernah melihat buah seperti dirimu sebelumnya, buah apakah engkau?" Tanya Jeruk penasaran
"Aku buah Durian"
"Durian? Tapi kau tidak memiliki duri" Jeruk kembali bertanya
"Aku tahu duriku bisa menyakiti buah lain, jadi kutanggalkan semua duriku agar aku bisa berbaur dengan yang lain" jawab Durian
Durian kemudian menceritakan perjalanan hidup nya kepada Jeruk, begitu juga dengan Jeruk. Mereka berdua berbagi pengalaman hidup, Durian dengan dirinya yang dibentuk oleh masa lalu serta tuntutan lingkungan, Jeruk dengan berbagai masalah di hidupnya. Pembicaraan itu membuat Durian merasa ingin memberikan kebahagiaan di hidup Jeruk. Dengan wujud sesempurna itu, Durian merasa Jeruk layak merasakan kebahagiaan. Durian tidak ingin Jeruk berubah menjadi sesuatu yang lain karena tuntutan lingkungan seperti dirinya.
Durian pun meminta ijin pada Jeruk untuk mendekati nya, "Bolehkah aku mendekatimu? Aku memiliki aroma yang mungkin akan mengganggumu, jika kau tidak suka kau bisa mengatakannya nanti dan aku akan menjauh".
"Tidak apa-apa, mendekatlah, aku sudah mencium aromamu dari kejauhan dan aku menyukainya". Durian terkejut, baru kali ini ada yang menyukai bau menusuk dari tubuhnya.
Durian merasa dirinya diterima sebagai Durian yang sebenarnya, perasaan itu membuat Durian sangat nyaman berada disisi Jeruk, begitu pula Jeruk, terlihat sangat nyaman berada disisi Durian. Sejak saat itu mereka berdua semakin dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Saling berbagi cerita, saling memberikan semangat, semuanya mereka lalui bersama. Namun tanpa Durian sadari, perasaan itu juga membuat duri-duri ditubuh Durian perlahan muncul kembali. Hingga suatu hari, "Ah!" Terdengar teriakan dari mulut Jeruk ketika Jeruk hendak memeluk Durian. Melihat hal itu, Durian baru sadar kalau duri-duri nya sudah kembali tumbuh seperti semula.
"Maafkan aku Jeruk, aku tidak bermaksud menyakitimu" Durian terlihat panik.
"Tidak apa-apa, aku tidak terluka, aku hanya terkejut saja, aku rasa aku belum terbiasa dengan duri mu ini" Jeruk mencoba menenangkan Durian.
"Maafkan aku, aku terlalu nyaman bersamamu hingga aku tak sadar duri ku tumbuh kembali, tunggu sebentar, aku akan menanggalkan duri ini lagi" Durian terlihat sedikit murung
Belum sempat Durian menanggalkan duri nya, Jeruk berkata, "Tidak apa-apa Durian, kau tidak perlu menanggalkannya" lalu menambahkan, "Kau adalah Durian, sudah seharusnya kau memiliki duri, itulah yang membuat dirimu berbeda daripada buah lain. Kau tidak perlu khawatir duri mu akan menyakitiku, duri mu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan sakit yang pernah kurasakan dulu. Biar aku saja, aku akan menebalkan kulitku agar aku tidak merasakan sakit tertusuk oleh duri mu"
"Tapi jika engkau menebalkan kulitmu, aroma tubuhmu tidak akan tercium olehku atau oleh buah lain" Tanya Durian sedih.
"Kau salah, jika aku menebalkan kulitku, maka hanya kau saja yang bisa mencium aroma tubuhku" Jawab Jeruk.
"Bagaimana bisa?"
"Ketika aku menebalkan kulitku, buah lain memang tidak bisa lagi mencium aroma tubuhku. Tapi ketika aku memelukmu, duri mu yang tajam akan menusuk kedalam kulitku namun aku tidak akan merasakan sakit, kemudian menciptakan pori-pori yang memberikan jalan untuk keluarnya aroma dari dalam tubuhku yang hanya bisa dicium olehmu. Tubuhku ini hanya milikmu, jadi aku ingin, hanya kau yang bisa menikmati wangi tubuhku"
Durian terharu mendengar ucapan Jeruk, tanpa dia sadari air mata bahagia menetes dari matanya, Durian sangat bersyukur dipertemukan dengan Jeruk. Tapi, apakah Jeruk merasakan hal yang sama?
Durian pun bertanya, "Jeruk, kenapa kau mau melakukan sejauh itu demi aku?"
"Aku tidak melakukannya demi dirimu, aku merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan dirimu yang diluar penuh duri, bahkan bau mu bisa tercium dari jarak yang jauh, namun jauh didalam tubuhmu kau sebenarnya buah yang manis. Dan rasa syukur itulah yang mendorongku untuk melakukannya. Aku bahagia semenjak bertemu denganmu dan aku tidak ingin kehilangan kebahagiaan ini" Jawab Jeruk.
Durian tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa, memiliki hubungan dengan buah yang tidak tersakiti olehnya meskipun dia menjadi dirinya sendiri sepenuhnya itu sangat berharga. Mereka pun memutuskan untuk hidup bersama selamanya. Durian tetap menjadi dirinya sendiri, dan Jeruk meskipun berubah namun tidak kehilangan jati diri nya sebagai Jeruk.
"Durian sejatinya adalah Durian dengan duri dan bau nya yang khas, dan Jeruk menyukainya. Begitu pula Jeruk, sejatinya adalah Jeruk dengan kulit dan aroma yang khas. Meski kini dia telah berubah menjadi Jeruk Bali, dia tetap tidak kehilangan identitasnya sebagai Jeruk, sehingga Durian tetap menyayanginya. Seperti itulah hubungan yang sering diimpikan oleh manusia."
Satria Amerta Dewa Jaya
Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama buah mohon untuk dimaklumi.
















