Menyapa kembali perjalanan Aku dan Diriku,
untuk pengasuhan yang lebih baik.
Mendengar kata “pengasuhan yang lebih baik”, aku kira ini tentang cara Orang Tua mengasuh anak-anak saja. Ternyata diri kita juga butuh untuk menyapa jiwa kecil (inner child) kita, ‘mengasuh kembali’ jiwa kecil kita dan ini dikenal dengan istilah Reparenting Journey.
“Untuk menjadi Orang Tua yang baik, kita sebagai individu harus memahami dan mengenali diri kita sendiri dengan baik dan juga menyembuhkan luka yang kita miliki di masa lalu, agar beban-beban tersebut tidak menjadi sesuatu yang kita turunkan kepada anak-anak kita.”
(Sharuna A, 2021)
Pesan pembuka dari mbak Aleima di kelas workshop “School of Parenting” yang saya ikuti ini, secara reflek mengajak alam bawah sadar ku memanggil diriku yang sekarang, dan mengajak Aku kembali menyapa jiwa kecil ku, menemui jiwa muda ku di masa lalu, dan memeluknya.
Seperti apa Jiwa yang muncul dalam diri, sungguh tergantung dari apa yang kita alami saat proses bertumbuh. Dapat kita lihat bahwa pengalaman menyenangkan yang membekas pada masa lalu seseorang akan membentuk jiwa kecil yang sehat. Sedangkan pengalaman pahit yang membekas hanya menjadi dendam, oleh si jiwa kecil yang terluka dibawa hingga dewasa.
Meski kita tumbuh dewasa, Jiwa Kecil merupakan bagian diri kita yang tak pernah hilang. Bagian diri saat lahir sampai dengan perbatasan remaja, yang penuh dengan spontanitas, imajinasi, kreativitas, namun juga memiliki sisi emosional.
Saat kita tumbuh, kita berusaha untuk dicintai.
Sehingga kita menjadi sebuah persona yang disetujui oleh persona Orang Tua kita.
Dimana kita akhirnya belum ada kesempatan untuk betul-betul mengetahui sebetulnya ‘siapa saya yang sesungguhnya’?
Jika tidak menjawab ekspetasi dari sekeliling kita, dan jika kita tidak sadar, itu akan kita terapkan kepada anak-anak kita bahwa mereka harus mengikuti aturan sang Orang Tua. Anak adalah cerminan Orang Tuanya.
Teringat tentang ‘Cermin’ Diri,
Bisakah kamu menemukan satu kata yang menggambarkan dirimu?
Apakah masih kesulitan menemukan satu kata itu?
Apakah kamu suka mengikuti arus tanpa tujuan? Berusaha menyenangkan semua orang (people pleaser) dan tidak tahu apa yang benar-benar kamu inginkan?
Tak perlu khawatir, aku pernah di fase itu. Dimana aku tidak menemukan satu kata yang menggambarkan diriku.
Saat lewati lika-liku perjalanan, sering ku terjebak sendirian.
Ku tumbuh dari kebaikan, bangkit dari kesalahan.
Berusaha pendamkan kenyataan bahwa aku takut tambah dewasa, takut aku kecewa, takut tak seindah yang kukira. Takut tak sekuat yang kukira.
Beruntungnya Aku, dahulu berkesempatan menjalani program Self Awareness dari Siaware di tahun 2016. Mas aku yang menyarankan ikut dan membiayai programnya. Saat itu aku baru saja lulus. Dan sampai sekarang ilmunya bermanfaat sekali, membantu aku sadar untuk menemukan jati diri. Panjangnya proses perjalanan, coba Aku refleksikan pengalaman kala itu dengan karya lagu ‘Cermin’ oleh Nadin. Mari kita pahami liriknya perlahan ya.. ini bermakna dalam sekali.
Dengan tanganku, ku bantu aku
Tumbuh membaru, dengan lukaku.
Ku sisir halus, rambut ku yang lusuh
Lama ku tatap, mataku yang keruh.
….
Sudah tugasku, menjadi sembuh
Ku sulam senyum, meleburkan yang pilu
Demi menjadi, aman tuk yang butuh
Itulah semangat yang aku tanamkan dalam diriku sampai saat ini. Untuk terus belajar dan setia dengan proses sembuh dan bertumbuh, demi menjadi ‘aman’ tuk yang butuh. Discovering My Self, Knowing My Self and Understanding My Self.
Sedikit cerita tentang Reparenting Journey ini, yang tanpa sengaja aku temukan. Berawal dari penelitian ku yang mengobservasi dan melakukan eksperimen dengan partisipan bayi dari usia 0-24 bulan. Hal ini mengharuskan aku mencari informasi dan ilmu-ilmu terkait tumbuh kembang bayi sejak lahir, juga akhirnya saya menyelami ilmu parenting. Tidak hanya pendekatan humanis antropometri namun psikologi pola asuh orangtua, yang memberi pengaruh besar terkait perkembangan motorik dan kognitif anak terutama di masa golden age. Pada akhirnya Aku sadari bahwa, menyelesaikan masalah ‘diri’ ternyata lebih sulit dibanding menyelesaikan masalah di lingkungan yang aku hadapi saat menjadi product designer as problem solver :)
When your life feels black and white, make sure that your dream in color
Aku ingin tutup tulisan ku ini dengan lebih bewarna. Jadi, pagi tadi Mas aku menyapa dengan mengirimku lukisan warna pelangi karya si kecil Nadit.
“Watercolor!” sontak ku dalam hati.
Nadit cantik yang sudah kelas 2 SD belajar di sekolah alam ‘Arunika Wardorlf’. Ia mengikuti extra lesson untuk memperbaiki postur tubuh saat duduk. Metodenya menarik garis menggunakan cat air. Didasarkan pada premis bahwa kesulitan belajar sering kali disebabkan oleh gangguan pada tahap perkembangan tujuh tahun pertama kehidupan. Hal ini dapat mengakibatkan orientasi spasial dan kesadaran tubuh yang buruk, tantangan pemrosesan sensorik, pola gerakan awal yang dipertahankan, dan masalah koordinasi. Penelitian mendukung hubungan antara kesulitan belajar dan perkembangan anak usia dini. Ini menunjukkan bahwa gerakan teratur dan aktivitas fisik dapat membantu mengembangkan jalur saraf di otak melalui neuroplastisitas.
Wah, Seru banget kan! luar biasa sekali manfaatnya. Aku jadi punya teman kecil bermain cat air, yang suka mengeksplor segala warna menakjubkan tak terduga. Begitu juga dengan tumbuh dewasa, mencoba warna-warni kisah dengan sadar atau tanpa sadar. Belajar untuk setia melukis kehidupan dengan warna yang indah. Terimakasih 2021. Tahun yang unik dan memberi banyak pelajaran pendewasaan. Perjalanan kedepan masih panjang. Terus jalani, dan nikmati dengan niat baik, Allah selalu bersamu Mi!
Aku ingin tutup tahun ini dengan lukisan indah. Nanti ku lanjut cerita selanjutnya.
(01/12/2021)
*Ohya in frame foto model bayik cantik di cover awal, namanya Kaina anak dari mbak Titha dan pak Andi, HRD di kantorku yang seorang sosiolog muda, yang suka mengurus banyak perajin, yang suka dengerin curhat muda-mudi ‘remaja’ kantor termasuk aku wkwk. Pak Andi juga sedang menekuni bisnis malam buka angkringan wedhangan. Semoga sukses selalu kedepannya Pak.