“Dari aku SD kelas 1 s/d SMA, aku memiliki alergi. Sewaktu SD setiap 3 bulan sekali check up ke dokter, badanku dalam kondisi sehat. Dan dokter seperti biasa beri aku obat anti alergi dan pesan dokter selalu sama: jangan stress kalau ujian ya, dan dijaga makananya. SMP, SMA aku coba sembuhkan dengan alami makan sehat dan minum jamu kunir & brotowali untuk detox, tidak lagi bergantung obat. Sampai sekarang alhamdulillah sudah lepas obat, dan tetap jaga pola makan sehat”
“Pernah saat kerja di Bandung, 2 bulan aku sakit batuk tak sembuh-sembuh. Saat konsul ke Klinik, disaranin aku banyak istirahat. Sampai waktu itu bertepatan survey ke Bali. Dan di Bali aku sering main ke pantai tiap pagi sebelum kerja dan sore selepas survey lapangan. Seketika batuk sembuh disana di hari pertama kerja tanpa obat. Ingat sekali ini satu kamar dengan temanku Rima dan Mela, 5 tahun lalu sebelum ada covid ya”
"Aku sedang ingin fokus dengan sekolah saja, namun di satu sisi pekerjaan tak bisa ditunda. Rasa sensitif dan overthinking memuncak. Aku merasa bingung, melihat diriku tidak seperti biasanya. Jadilah keputusan yang kuambil saat itu dalam menyelesaikan tugas kelompok di kelas dan tugas pekerjaan jadi kurang matang.”
Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? Atau pernah mengalami hal lain yang menyulut emosi?
Sedikit mereview sesi kelas reparenting malam ini, bersama mbak Aleima Sharuna, psikoterapis TAT (Teknik Akupresur Tapas).
Emosi bukan sekadar perasaan, tetapi terkait erat dengan bagian tubuh.
Emosi adalah energi yang bergerak di dalam tubuh. Maka dari itu, saat kita merasa bahagia, sedih, takut, stres, atau bersemangat, selalu ada reaksi atau sensasi yang muncul di dalam tubuh. Mengenali rasa dan sensasi yang ada dalam tubuh dapat menguatkan koneksi antara tubuh dan Emosi.
Setelah mengenali dan terkoneksi dengan tubuh serta emosi, tentu kita dapat bertanya dalam diri mengenai kebutuhan yang sesungguhnya kita butuhkan. Dan mungkin saja, kebutuhan tersebut juga terkait dengan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi sejak masa kita bertumbuh. Menurut Psikolog David Hamilton, penulis buku How Your Mind can Heal Your Body.
Bagaimana dengan aku jika saat ini merasakan emosi dalam diri, adakah sensasi dalam tubuh yang dirasakan?
Atau sedang mengalami penyakit yg muncul tiba-tiba tanpa ada sebab yg terdeteksi oleh dokter?
Kembali ke cerita alergi ku ketika dokter cuma bilang 1 "jangan stress ya mba" waktu itu aku bingung apa hubungannya gatal dengan stress.
"Karena gatal itu bahasa lainnya irritation. Jadi pertanyaan apa, saat itu apa yang 'irritate' you, alias yg buat mba kesal?" 😇
Jujur saya minum obat alergi waktu kecil sudah jenuh. Bapak Ibuk waktu itu bantu kelola stress aku dengan sering diajak bermain setiap minggu, namun tak cari tahu apa penyebab strees. Tuntutan prestasi di kelas? Hmm bisa jadi. Namun ini memang harus aku perjuangkan untuk dapatkan SMP, SMA favorit yang hanya bisa didapatkan dengan nilai bagus, berbeda dengan sistem sekarang.
Pertanyaan selanjutnya dari mba Aleima :
"Ada kah kesal berkala yang sedang mba rasakan?" *just curious. Kalau boleh tanya 🙏
Jawabanya "ada", namun persisnya aku tak tahu apa. Dan disitulah aku dibawa mba Aleima untuk mencari jawaban masalahnya, divalidasi untuk diterima dan diselesaikan.
Belajar mengenal diri sendiri, ada banyak kejadian masa lalu yang belum aku lepaskan dan ikhlaskan, dan hal-hal yang di luar kontrol aku itu suka bikin aku kesal.
Kebiasaanku kecil aku dan teman-temanku suka main di kebon belakang rumah, sayangnya sekarang sudah tak ada karena jadi bangunan. Saat dewasa kini, aku suka ajak temenku berburu kebon di puncak dataran tinggi yang bisa kutemui. Ini di daerah Karanganyar-Tawangmangu 2.5 jam dari Solo :)
Teringat cerita dari mba Ria yang pernah ikut sesi meditasi online di Golden Space Indonesia & pernah ikut kelasnya Mba Aleima juga yang tentang Miracle Breath. Jadi mbak Ria coba gabungkan sendiri 5 detik inhale & 5 detik exhale selama beberapa menit. Lalu cek dirinya dari kepala sampai kaki, di mana yg ada rasa sakitnya. Trus 5 detik inhale - tahan nafas sambil kumpulin emosi-emosi negatif ke perut - exhale dengan cepat - inhale emosi-emosi positif (rasa damai, bahagia, tenang, dll) - terus diulangi beberapa kali sampai lega. Mba Ria juga jelaskan ketika memakai cara butterfly breath sampai ia tenang. Walaupun belum rutin meditasi tiap hari, hanya di saat ia merasa udah sakit banget hatinya.
Sampailah di sesi akhir, ditutup sharing dari mba Aleima :
"Kalau saya boleh sharing sedikit. Dulu saya sering marah. Dan juga seluruh pundak saya sakit. Tapi saat terapi, ada pertanyaan yang mengena.
Saat saya marah, siapa yang sebetulnya sedang marah? Bagian diri saya yang mana? Apakah sebetulnya yang marah adalah Jiwa Kecil saya yang butuh perhatian? Atau butuh perlindungan?
Atau mungkin yang marah adalah bagian diri yang justru ingin melindungi saya?
Akhirnya saya mulai mengenali, apa yang memicu saya. Dan gali lebih dalam. Mengapa hal ini memicu saya. Serta menuliskan kapan saja hal seperti ini terjadi dalam hidup. Saat melakukan hal ini, semua terasa lebih jelas. Serta seluruh emosi dapat terekspresikan.
Jika mau, bisa melakukan journaling, serta bernafas 4 inhale & 8 exhale saat emosi melanda. Jangan ditahan, dikeluarkan semua melalui tulisan. Dari sana kita bisa bertanya, siapa yang mengeluarkan semua emosi ini? Bagian diri saya yang mana?"
Terimakasih untuk mbak Aleima sudah berbagi pengetahuan dan cara yang bisa aku lakukan apabila ada efek yang kurasakan pada fisik maupun keadaan saat emosi, ternyata ada ya koneksi antara emosi dengan tubuh kita.
Teknik Pernafasan 4-7-8 untuk Self Healing ini dibahas mendalam oleh Dokter Reza Gunawan Praktisi Kesehatan Holistik, di acara Q&A Metrotv "I'm not Oke and That's Oke" Di episode 6/6. Acara ini sudah kusimak 2 tahun lalu. Langkah penting untuk kita mencari bantuan dan melakukan terapi, dijelaskan lengkap oleh beliau.
Mbak Aleima Sharuna, menemukan teknik self healing ketika belajar Teknik Akupresur Tapas (TAT) melalui gurunya Reza Gunawan pada tahun 2010. Semoga tips journaling dan 4x inhale 8x exhale yang diberikan mba Aleima, penulis Reparenting Journey bisa dicoba dan bermanfaat untuk teman-teman.