Semarang Punya Cafe Buku & Hostel Budget Rp 30 Ribuan!
Ketika jalan kaki, tidak jarang saya menemukan 'Hidden Gem' secara kebetulan. Kali ini, saya menemukannya di salah satu sudut Kota Lama Semarang. Adalah John Dijkstra, sebuah cafe buku atau library cafe yang juga memiliki hostel. Lokasinya memang tersembunyi, berada di deretan belakang Spiegel Bar & Resto yang lebih gemerlap. Keberadaannya bisa dengan mudah terlewatkan, untung saja tempat ini memiliki papan penanda bertuliskan Library Cafe John Dijkstra di bagian depannya.
Dituntun oleh kecintaan akan buku dan kopi, saya pun melangkahkan kaki menuju bagian depan cafe. Kebetulan saya datang di hari Minggu, tapi ternyata malah tidak tampak kesibukan. Pintu depan cafe pun malah tertutup rapat, kontras dengan tempat lain di Kota Lama Semarang yang malah ramai oleh pengunjung.
"Mungkin hari ini sedang libur," pikirku saat itu.
Usai melihat pintu yang tertutup rapat, saya pun mengalihkan pandangan ke tembok sisi kanan cafe. Terpampang tulisan besar John Djkstra Library and Community Cafe di terali, dengan salah satu pintunya yang terbuka.
"Sepertinya ini adalah pintu masuknya, ada tangga ke atas," pikirku menebak-nebak.
Didorong oleh rasa penasaran, saya pun memberanikan diri untuk menapaki setiap anak tangga spiral yang mengarah ke atas. Jujur saja, mungkin tangga tersebut merupakan salah satu akses masuk cafe paling menantang bagi saya. Walau berat badan saya hanya menginjak angka 60-an, nyatanya bunyi derit tangga yang terinjak sedikit membuat saya parno. Bagaimana jika salah satu anak tangga ini roboh karena tidak mampu menahan berat badan saya? Ah, kuabaikan saja pikiran itu.
Setelah mencapai ujung tangga, pandangan saya pun dialihkan oleh kehadiran beberapa meja dan kursi, lengkap dengan meja kasir di bagian ujung. Logo John Dijkstra pun kembali tampak terukir di tembok samping tangga. Seperti dituntun, saya pun berjalan mendekati meja kasir.
"Permisi," ujarku sedikit kencang.
Tidak berapa lama, saya pun mendapati seorang wanita berperawakan Jawa dengan pakaian tanktop kuning dan celana jeans biru yang keluar dari dalam ruangan cafe. Wanita itu adalah mbak Dinda, salah satu pengurus cafe. Dengan ramah ia menyapa saya sambil menyodorkan buku menu dengan pilihan minuman dan kudapan standar cafe pada umumnya. Berhubung tidak begitu lapar, saya pun hanya memesan kopi hitam sebagai teman bertamu. Tidak berapa lama setelah memesan, saya pun masuk ke dalam bagian cafe untuk melihat sekeliling sambil menunggu kopi jadi. Tidak tampak orang selain mbak Dinda yang tengah menyiapkan kopi, hanya sebuah ruangan besar berbentuk kotak dengan deretan rak buku di sisi kiri, lengkap dengan panggung di bagian tengah ruangan dan beberapa hiasan. Tampak juga sebuah tangga dengan tulisan hostel di bawahnya.
Sekitar lima menit, mbak Dinda pun kembali menghampiri dengan secangkir kopi di tangannya. Ditaruhnya lah kopi itu di salah satu meja bagian teras cafe menghadap jalanan. Posisi yang tentunya paling sejuk dan nikmat untuk menyantap kopi. Sedikit kusesap kopi itu, lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan mbak Dinda. Jujur, ada banyak pertanyaan di pikiran saya tentang asal-usul nama cafe buku yang merangkap hostel tersebut. Dengan ramah, mbak Dinda pun menjelaskan sedikit latar belakang tentang nama cafe tersebut yang sangat khas kolonial.
"John Dijkstra itu merupakan seorang romo asal Belanda yang dulu kerja di tempat ini. Dulu kantornya di sini," terang mbak Dinda.
Diceritakan oleh mbak Dinda, John Dijkstra atau yang memiliki nama lengkap Johannes Baptista Dijkstra sangat dekat dengan para kaum miskin dan terpinggirkan. Selain terlibat dalam Gerakan Pancasila, ia juga kerap membantu Uskup Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata. SJ untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil. Semangat yang diadopsi oleh mbak Dinda bersama rekan-rekannya menjadi cafe buku dan hostel John Dijkstra. Dari segi umur, tempat ini baru saja dibuka kurang lebih setahun lalu atau sekitar Desember 2016.
Mbak Dinda sendiri tergabung dalam Komunitas BERLINE (Bersama Lindungi Ekosistem) yang sangat aktif dalam isu sosial lingkungan. Saat saya datang, ia harus menjaga cafe karena rekan-rekannya sedang memberi bantuan untuk korban bencana banjir dahsyat di Pacitan beberapa waktu lalu. Sedangkan di lantai satu bangunan, hadir Lembaga Pendampng Usaha Buruh Tani dan Nelayan (LPUBTN) yang juga menjadi wujud semangat mendiang Romo John Dijkstra.
Menariknya lagi, saya juga mendapati mural Romo John Dijkstra dengan kata-kata yang menjadi buah pemikirannya. Sebuah kalimat yang begitu sederhana, tapi penuh arti.
"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya," bunyi kalimat tersebut. Lengkap dengan tanggal lahir dan wafat beliau.
Selain menjadi cafe buku, John Dijkstra juga memiliki fungsi sebagai 'panggung' bagi para komunitas. Dijelaskan oleh Mbak Dinda, siapa pun diperbolehkan membuat acara di cafe tersebut secara cuma-cuma alias gratis. Sedangkan hostel di lantai atas cafe disewakan bagi siapa pun yang ingin menginap. Termasuk bagi para anggota komunitas yang ingin menyelenggarakan acara di sana.
*Salah satu pengurus Library Cafe John Dijkstra , mbak Dinda.
Saya pun diizinkan oleh mbak Dinda untuk melihat kamar hostel di bagian atas cafe. Kebetulan sedang tidak ada yang menginap. Setelah mencapai ujung tangga, saya mendapati sebuah pintu menuju bagian langit-langit cafe. Di dalamnya tampak ruangan luas berukuran persegi dengan alas karpet biru layaknya ruang kumpul. Di salah satu sudutnya tampak rak yang diselimuti dengan kain, serta beberapa kasur yang tampak tertumpuk. Tidak ada ranjang kasur, apalagi ranjang tingkat. Tentunya Anda tida bisa mengharap banyak soal privasi di sini, karena tidak ada tembok pemisah sama sekali. Namun bagi para traveler backpacker yang menginginkan kebersamaan dan interaksi satu sama lain, hostel ini tentu jadi salah satu pilihan terbaik. Untuk soal harga, biaya menginap per malam di hostel John Dijkstra adalah sekitar Rp 30 ribu. Tidak ada breakfast, tapi ada akses untuk WiFi.
*Suasana kamar hostel
Sayang, keterbatasan waktu pun kembali menjadi jurang pemisah. Usai menyesap habis kopi yang tersisa di cangkir, saya pun harus kembali berpamitan dengan mbak Dinda dan melanjutkan perjalanan kembali. Kalau ada kesempatan di lain hari ke Semarang, pastinya akan saya sempatkan untuk mampir kembali dan menginap di John Dijkstra.
Library Cafe John Dijkstra. Jalan Taman Srigunting No.10, Kota Lama Semarang. Patokan di belakang atau samping kiri Spiegel Bar & Resto.
Instagram: dijkstra.cafe CP Dinda: 0858 4879 3854











