Malam Pertama di Eropa, Menebus Penasaran ke Red Light District Amsterdam
“Good girl go to heaven, bad girl go to Amsterdam."
Kurang lebih itulah istilah yang diucapkan oleh teman saya, Evert, seorang warga negara Belanda yang kebetulan tinggal di Bandung dan menjadi teman kursus Bahasa Belanda saya saat zaman kuliah. Memiliki seorang ayah berkewarganegaraan Belanda dan ibu berkewarganegaraan Indonesia, Evert memang lahir di Negeri Kincir Angin. Namun karena suatu sebab, Evert pun harus pindah ke Indonesia dan tinggal bersama ibunya di Bandung. Selain identitasnya sebagai warga negara Belanda, ingatan akan Negeri Kincir Angin juga kerap dituturkannya dalam banyak versi. Salah satunya adalah tentang Red Light District Amsterdam, tempat yang disebutnya menyenangkan karena deretan coffee shop dan space cakenya yang bisa membuat orang 'fly' dalam waktu singkat.
Untuk informasi, coffee shop di Amsterdam merujuk pada toko penjual ganja, mariyuana hingga kue berbahan ganja. Kok boleh? Maklum, Belanda merupakan salah satu negara berpikiran maju yang melegalkan ganja untuk dikonsumsi. Hanya saja dengan batas tertentu dan untuk konsumsi di tempat, lain halnya jika dibawa ke luar Belanda, khususnya Amsterdam. Selain coffee shop dan space cake, Evert juga selalu menceritakan salah satu toko sepatu langganannya di Red Light District Amsterdam yang bernama Patta. Sebagai pecinta barang branded, anak yang satu ini memang punya hobi belanja sepatu sampai luar negeri. Bahkan bisa dibilang, semua barang yang melekat di badannya bisa jadi jauh lebih berharga dari orangnya sendiri. Ok, saya stop cerita tentang Evert sampai di sini sebelum dilempar sepatu Yezzy dan Visvimnya yang bernilai jutaan itu.
Namun selain menjadi 'surga' ganja dan barang branded, Red Light District Amsterdam juga dikenal sebagai 'de Wallen' atau area khusus prostitusi di Belanda. Mungkin juga adalah yang terbesar di Eropa. Tanpa kenal kata munafik, Belanda terang-terangan melegalkan praktik prostitusi di Red Light Amsterdam. Sebuah rahasia umum yang diketahui oleh para pelancong sex di seluruh dunia. Tanpa saya sadari, cerita Evert akan Red Light District Amsterdam malah menjadi salah satu bucket list sekaligus motivasi utama untuk mengunjungi Belanda. Terdengar receh, dan pastinya tidak bisa disandingkan akan pejalan lain yang umumnya mencari benang merah akan sejarah panjang penjajahan Belanda di Indonesia selama lebih dari 300 tahun. Tidak, motivasi seperti itu terlalu serius buat saya.
Hingga akhirnya, nasib membawa saya untuk liburan ke Negeri Kincir Angin pada bulan Mei 2013 lalu. Entah karena bosan melihat saya di rumah usai lulus kuliah atau ingin memberi hadiah kelulusan, mendadak kedua orangtua menyuruh saya untuk mengambil paket wisata ke Eropa. Seorang diri!
"Sana ke Eropa, lihat dunia kayak gimana," ucap si mama.
"Hah? Sendirian banget?" ujar saya sambil setengah tidak percaya.
"Iya, nanti kalau sudah ngerti di sana kan bisa ajak kita di rumah jalan-jalan ke Eropa," lanjut si mama (Sebuah janji yang akhirnya saya tunaikan beberapa tahun setelahnya).
Sambil setengah bingung, saya pun cuma bisa bilang iya. Itu saja.
Maklum, belum pernah sekali pun saya traveling ke luar negeri sebelumnya. Memberanikan diri, saya pun memilih paket wisata ke Eropa yang ditawarkan oleh salah satu travel agent terkemuka di Indonesia. Itinerarynya berisi perjalanan belasan hari wisata ke Eropa, di mana Belanda menjadi negara pertama yang jadi titik awal perjalanan di Eropa. Walau panik dan nervous, nyatanya rasa penasaran akan benua biru jauh mengalahkan segala rasa cemas itu. Bayangan akan Red Light District di Belanda pun jadi kian nyata.
Hingga akhirnya hari keberangkatan pun tiba
Cemas, parno, takut, excited, sampai harap-harap cemas mewarnai keberangkatan saya di Bandara Soekarno Hatta. Setelah mempersiapkan diri dengan sejumlah pakaian hangat dan uang tunai (Iya, waktu itu bawa uang Euro karena belum punya kartu kredit), saya pun bertemu dengan rombongan lain beserta pemandu dari travel agent yang sudah ditentukan. Banyak dari anggota rombongan yang liburan bareng keluarga atau kekasih dan kerabat. Ya, cuma saya doang yang liburan sendiri. Gak sedikit dari mereka yang heran, ngapain saya liburan sendiri. Gak usah mereka, saya sendiri juga heran. Terlepas dari perbedaan latar belakang anggota rombongan, bersama mereka saya pasrahkan nyawa ini di Eropa selama belasan hari ke depan.
"Yak, semuanya baris di sini," ujar pemandu dari travel agent yang bernama Hendi.
Sebelum mulai melewati imigrasi, saya dan anggota rombongan lain di-briefing lebih dulu sebelum masuk ke area imigrasi. Buat orang lain ini mungkin hal biasa, tapi tidak untuk saya saat itu. Namun puji Tuhan, semua perkara teknis berhasil dilalui tanpa kekurangan apapun hingga akhirnya saya tiba di Bandara Schiphol. BELANDA, I AM COMING! (Sambil teriak)
*Mak, Belanda mak! Isinya bule semua!
Tiba di Belanda
Tinggi, itulah kesan pertama saya akan Belanda setibanya di Bandara Schiphol. Bukan, bukan pohon atau bangunannya, tapi tinggi orang Belanda yang kayak jerapah dan pastinya jauh di atas tinggi normal orang Asia. Sesekali, ada petugas imigrasi yang nyeletuk menyapa saya dalam bahasa Indoensia.
"Apa kabar?" Lah, ini orang Londo kenapa bisa bahasa. Curiga dia makannya tempe.
"I know some bahasa, my girl come from Indonesia," terjawab sudah kenapa dia bisa bahasa.
Agaknya, wanita Indonesia punya nilai lebih di mata orang Belanda. Tidak heran, tak sedikit juga orang Indonesia yang tinggal dan menetap di Belanda. Entah karena keturunan atau memang sengaja mencari pasangan WNA dan menetap di Belanda. Tiga dari teman kursus Belanda saya pun berhasil menambatkan hatinya ke orang Belanda. Kalau saya? Boro-boro. Kursus bahasa Belanda dua tahun saja cuma ingat kalimat ‘Hoe gaat het met je’ (Apa kabar Anda?). Ujian saja sering nyaris di bawah SKBM.
*Bau-bau keju
Keluar dari Bandara Schiphol, saya dan rombongan pun diangkut naik bus wisata sewaan dan langsung diajak berwisata ke Desa Nelayan di Volendam tanpa transit lebih dulu ke hotel. Maksudnya tentu biar sekalian capek, abaikan saja mata yang sudah tinggal 0,5 watt dan badan yang lengket. Setelah diterpa udara dingin Belanda di Volendam, saya dan rombongan pun diajak berfoto di depan kincir angin sebelum melanjutkan perjalanan naik perahu menyusuri kanal di pusat Amsterdam. Menyenangkan sih, tapi Red Light District Amsterdam tetap jadi tujuan awal saya.
*Circa 2013
Usai itinerary hari pertama di Amsterdam, saya dan rombongan pun akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat di hotel yang kebetulan berlokasi di Amsterdam coret alias pinggiran. Tepatnya di Amstelveen yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Amsterdam. Seusai mandi, saya pun melanjutkan misi utama untuk mampir ke Red Light District Amsterdam.
Cuma namanya orang pertama liburan ke Eropa, ada banyak pikiran negatif yang menghantui saya tentang Red Light District Amsterdam. Mulai dari faktor keamanan dan lainnya, maklum, namanya juga daerah prostitusi. Tidak yakin, akhirnya saya mengetuk pintu kamar guide saya dan beberapa rekan rombongan. Namun nihil, tidak ada jawaban. Agaknya semua begitu lelah dan langsung terlelap ketika tiba di hotel. Jadi lanjut atau gak? Ya lanjut dong.
Memberanikan diri, saya pergi ke bagian resepsionis hotel untuk memesan taksi. Sambil malu-malu kucing tapi mau, saya pun menyebut Red Light District sebagai tujuan saja. Setelah itu, sang penjaga hotel langsung memesankan driver seakan sudah makanan sehari-hari. Kemudian, saya pun diminta menunggu sang driver taksi di lobi hotel. Saat itu sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Suasana di lobi begitu hening dan tenang sampai..
"ANYONE HERE TO RED LIGHT DISTRICT?" teriak seorang driver taksi di lobi hotel.
Buset! Gak pakai toa sekalian itu ngomongnya? Orang mau ke daerah prostitusi, dia malah teriak-teriak di lobi. Untung saja kondisi lobi saat itu sedang sepi. Minimal gak malu-malu banget. Sambil membawa kamera beserta tripod, saya pun menghampiri driver taksi itu dan bergegas menuju Red Light District. Setengah ragu, saya pun bertanya soal keamanan Red Light District pada sang supir taksi malam yang tentunya sudah paham betul.
"Is it safe in Red Light District?" tanya saja.
"Yeah, it is safe. Very safe!" ujar si driver meyakinkan saya.
Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk tiba di Red Light District dari hotel, mungkin tidak sampai 30 menit. Setibanya di Central Amsterdam, sang supir pun menurunkan saya di salah satu sudut jalan di tepi kanal. Dari titik tersebut, saya pun diberitahu pak supit untuk berjalan lurus melewati salah satu sudut gang yang sedikit remang. Setelah itu..
"RED LIGHT DISTRICT AMSTERDAM!"
Akhirnya saya tiba juga di tempat prostitusi legal terbesar di Eropa! Sebanarnya ini sama sekali bukan prestasi sih, tapi bisa dibilang luar biasa untuk saya pribadi. Meninggalkan rombongan di hotel saat malam pertama di benua orang bermodal nekat, akhirnya saya bisa sampai. Ada sedikit rasa bangga (yang gak bisa dibanggain juga sih).
*Kanal Amsterdam dan lampu di kiri-kanannya
Panorama kanal cantik Red Light District Amsterdam yang dihiasi oleh lampu jalan serta bangunan klasik di sisi kiri dan kanannya, seakan membius saya sejenak. Kesan pelacuran yang muram seperti di daerah Mangga Besar Jakarta sama sekali tidak tampak di sini, kalah oleh kecantikan kanal Belanda yang termahsyur. Heran rasanya, melihat kawasan prostitusi secantik ini. Itulah hebatnya Red Light District Amsterdam yang bisa menyembunyikan sisi gelap prostitusi di balik indahnya kanal dan kerlap-kerlip cahaya lampu di malam hari.
Tanpa saya sadari, kaki saya sudah melangkah menyusuri jalanan di tepi kanal yang dihiasi oleh sederet etalase kaca berisi para wanita penghibur. Warna lampu kaca mereka yang didominasi oleh warna merah pun seakan menegaskan kehadiran para wanita penghibur yang ada di sana. Mayoritas hanya mengenakan pakaian dalam saja, mengundang kaum adam untuk mendekat ke etalase kaca layaknya serangga mendekati cahaya.
*Ramai orang lalu lalang tengah malam
*Ini dia yang bikin orang sensi jadi geleng-geleng
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 00:00 tengah malam. Tiada kesan sepi di Red Light District Amsterdam saat itu. Sesekali, tampak transaksi belakang kaca antara calon pelanggan dan wanita penghibur. Namun jangan sembarangan, ada sejumlah pria berbadan besar yang menjaga sejumlah rumah bordil. Dilihat dari atributnya, para pria itu sudah pasti merupakan bodyguard sewaan dari empunya rumah bordil. Jika tindakan seseorang dianggap mengganggu, sudah tentu para bodyguard akan bertindak.
Melihat hal itu, saya yang saat itu memegang kamera beserta gagang tripodnya langsung waspada. Amit-amit pakai banget kalau sampai mendapat masalah di Red Light District Amsterdam karena urusan foto. Mendadak, saya pun langsung paham akan sulitnya profesi paparazi. Soalnya, apa yang saya lakukan di Red Light District ini sudah 11/12 sama profesi paparazi. Bedanya, saya cuma mau memotret pemandangan sama suasana sekitar buat kepentingan pribadi. Sama sekali gak dapat upah atau honor! Tapi resikonya sama.
Lirik kiri lirik kanan, kamera dengan lensa tele pun saya arahkan ke salah satu sisi rumah bordil. Belum dijepret, seluruh wanita penghibur yang tadinya ada di balik kaca langsung menghilang di balik tirai. Salah saya juga sih. Para wanita penghibur di sini sepertinya sudah sangat terlatih untuk 'menghilang' ketika menyadari ada kamera yang membidik mereka. Melihat hal itu, saya pun mengurungkan niat untuk memotret para wanita penghibur. Karena biar bagaimana pun juga, para wanita penghibur yang ada di Red Light District Amsterdam adalah sama seperti wanita pada umumnya yang ingin dihargai. Namun entah bagaimana, mereka bisa mengambil jalan mencari nafkah dengan cara seperti itu. Ada yang memilih karena pilihan, tak sedikit juga yang menjadi korban perdagangan manusia hingga faktor ekonomi. Masing-masing tentu punya alasan, hanya permintaan atau demand yang tak kunjung surut seakan membuat praktik ini terus hadir.
* Banyak juga museum bertema dewasa di sini
*Ngopi di sini juga enak kayaknya.
Pada akhirnya, saya hanya mengarahkan mata kamera ke kanal indah di Red Light District Amsterdam. Tentunya itu sudah lebih dari cukup. Toh tujuan awal saya untuk datang dan melihat Red Light District Amsterdam dengan mata sendiri sudah tercapai. Saya gak cukup iseng sih buat masuk ke salah satu rumah bordil seorang diri. Perjalanan di Eropa masih panjang bro! Dan ini baru hari pertama. Puas jeprat-jepret pemandangan, waktu dan udara malam yang kian dingin akhirnya memaksa saya untuk kembali ke hotel.
Perlahan, kerlap-kerlip lampu Red Light District mulai memudar di kejauhan. Sambil tetap membawa kamera yang menempel di tripod layaknya fotografer kawakan, kaki ini pun berlalu ke jalan besar untuk mencari taksi. Namun, sejumlah pengerjaan jalan memaksa saya untuk berjalan di tepian trotoar. Nyerempet jalan raya dikit gitu deh. Belum berapa lama, tiba-tiba sebuah mobil patroli melintas dan berhenti tepat di samping saya.
"Mampus! Baru main ke Red Light District kali pertama langsung dicegat polisi londo!" pikiran langsung morat marit gak karuan.
"Apa jangan-jangan gak boleh ya motret di Red Light District?" pikir saya sambil melihat kamera di tangan yang tnetunya bisa jadi barang bukti polisi.
Setelah berhenti, salah satu polisi di mobil itu menurunkan kaca jendelanya. Tanpa turun dari mobil, ia memperingatkan saya.
"Sir, you walk on the road. Please move aside to pedestrian way," kata si polisi.
"Hah? Oh, yes sir! Please forgive me!" ujar saya sambil cengengesan gengges setengah ketakutan.
Tanpa mikir panjang, saya pun segera menyeberang dan berjalan di trotoar. Edan ya, sampai polisi bisa memberhentikan orang gara-gara jalan di lokasi yang bukan di tempatnya. Kalau di Jakarta mah, lain lagi cerita dari polisinya. Setelah olahraga jantung, saya pun berlalu menuju deretan taksi yang agaknya lagi mangkal di salah satu sisi jalan utama. Ibarat pintu otomatis di mal, saya pun segera membuka pintu taksi dan mendapat drivernya yang berkulit hitam keturunan Afrika. Bukannya mau suudzon atau gimana, tapi stereotipe awal saya tentang orang kulit hitam di Eropa bisa dibilang kurang baik. Sebelumnya, pemandu saya sudah mewanti-wanti untuk menjauhi orang kulit hitam karena diketahui sering melakukan scam atau penipuan pada wisatawan. Namun ibarat beras sudah jadi bubur ayam lengkap dengan cakwe dan tauco, ini pintu taksi sudah keburu saya buka. Mau ditutup lagi gak enak, tapi mau masuk juga parno duluan. Lalu saya harus apaaa? Apaaa?!!
*Calon taksi yang akhirnya saya naiki. Itu yang warna putih lampunya nyala
Pasrah, akhirnya saya masuk juga ke dalam taksi. Sedikit waswas, saya pun memberikan kartu alamat hotel ke sang driver. Tanpa banyak omong, ia pun segera menjalankan taksinya dan bergegas menuju hotel. Entah takut atau malas berinteraksi, suasana taksi saat itu begitu sepi. Hanya ada remang-remang lampu jalan yang silih berganti terlewat oleh mata. Memberanikan diri, saya pun memulai obrolan dengan si driver.
"Mr, where are you come from?" ujar saya dengan bahasa Inggris super standar.
Tanpa menoleh, sejumlah kata pun keluar dari mulut sang driver. "I was born in Suriname, but I work on Netherland as taxi driver."
Mengetahui sang driver berasal dari Suriname, otak saya pun langsung mengingat pelajaran sejarah zaman SD. Faktanya, tak sedikit juga orang Jawa yang dibawa ke Suriname oleh Belanda dahulu kala. Basa-basi, saya langsung menimpali kalau tak sedikit orang Indonesia yang dibawa ke Suriname oleh Belanda zaman dulu. Tapi iya udah gitu saja, tidak ada lagi kalimat balasan yang terlonta dari mulut sang driver hingga akhirnya tiba di hotel. Sedikit hutang budi, saya pun merogoh uang 5 Euro dan memberikannya ke si driver sebagai ucapan terima kasih (FYI, harga taksi dari Central Amsterdam ke Amstelveen itu 30 Euro. Perih kalau diconvert ke rupiah). Masih malam pertama, stok uang Euro masih lumayan aman. Lain ceritanya beberapa hari ke depan.
Uang pun segera berpindah dari dompet saya ke si driver. Persis sebelum saya membuka pintu dan melangkah keluar, si driver malah menanyakan perihal berapa lama saya liburan di Amsterdam dan mau ke mana saja.
"I only transit here!" saya bilang saja gitu. Telat nanyanya, bukan dari tadi.
Sambil setengah menguap, saya pun segera masuk ke dalam hotel dan melangkah menuju kamar hotel yang nyaman lagi hangat. Berhubung saya traveling sendirian, pihak travel agent memesankan 1 kamar khusus untuk saya. Ya udah, jadilah saya guling-gulingan di atas kasur dari Barat Utara ke Selatan (Dikata perjalanan mencari kitab suci apa).
Esok paginya, saya dan anggota rombongan lain kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya dengan naik bus. Di tengah perjalanan, tiba-tiba salah satu anggota tim bercerita kalau semalam ada yang mengetuk pintu kamarnya. Pemandu saya, Hendi, mengatakan kalau itu bisa jadi adalah scam. Seandainya saja mereka tahu, kalau saya yang mengetuk pintu kamar mereka semalam. Saya pun cuma bisa ikut tertawa sambil menyimpan rapat rahasia malam itu.










