Ibu Ku Tak Pernah Menangis
Menangis adalah salah satu cara bagi wanita untuk meluapkan segala emosinya. Bagi seorang laki-laki, menangis adalah hal yang tabu, laki-laki sulit untuk bercucuran dengan air mata, namun setetes air mata saja tergoda, maka itulah air mata sesungguhnya.
Semasa hidupku, aku tak pernah melihat ibuku menangis. Sering timbul pertanyaan kenapa ibuku begitu tegar menjalani hari-harinya, padahal hidupnya biasa saja dan malah jauh dari kata sederhana.
Seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya, seperti ringan langkahnya, seperti mudah segala urusannya. Sempat aku bertanya, “Mah, ko mamah tidak pernah menangis?”. Jawaban yang indah dari lisan seorang ibu “Apa yang harus ditangisi nak, mamah itu adalah wanita paling bahagia di dunia ini, memiliki suami soleh, memiliki anak-anak yang soleh solehah, jadi apa yang harus ditangisi?. Yang ada mamah hanya bisa bersyukur.” Jawaban yang sejuk menusuk dari lisan sang ibu.
“Kecuali kamu tumbuh menjadi anak yang nakal, maksiatnya rajin, solat selalu ditinggalkan, dan tak pernah merasa dekat dengan Allah subhanahuwataala, disitulah mamah akan menangis sejadi-jadinya.”
Jawaban lembut yang menampar hatiku. Seketika cermin mulai terlihat dalam bola mataku.
“Apakah aku sudah menjadi yang mamah harapkan?”. Hatiku tersirat tanya.
Hari terakhir abangku dirumah, ia harus kembali ke rantauannya yaitu Timur Tengah.
Aku sedih memang, semuanya pasti sedih, karena masih rindu akan kehadiran abangku. Maklum dia hanya 2 tahun sekali pulangnya.
Rasa sedihku masih bisa aku sembunyikan dalam perpisahan itu, begitupun dengan bapak, mamah, kaka ku yang ke dua dan si bungsuku.
Canda masih terus mengalir dalam istana cinta itu. Dibelakang rumah terdapat gubuk tempat kami bercengkrama. Sering kali angin menjadi teman bergurau keluarga. Ya begitulah istana yang sederhana.
Dalam pamitnya, aku bersama keluarga kecilku menyempatkan untuk bersolawat dan berdoa, agar abangku bisa selamat sampai arab sana. Memang ini doa lah bekal yang paling berharga, dengan doa semua akan terasa sempurna.
Aku ditugaskan untuk mengantarkan abang pertamaku ke bandara, sebab abangku yang ke 2 sedang sakit. Waktu itu kakinya bengkak karena terjatuh dari motor.
Ditengah perjalanan, tak sengaja aku lupa mencium ibuku, karena mencium ibu sebelum berangkat itu adalah ritual paling sakral dah harus, khawatir itu akan menjadi pamit terakhirku.
Karena lupa, akhirnya aku memutuskan untuk berbalik arah kerumah kembali, dan mencari ibuku.
Aku panggil Ibuku dari kejauhan, tidak ada sapaan. Biasanya ibu ku selalu menjawab ketika aku panggil.
Setelah dekat dengan pintu rumah aku panggil untuk yang kedua kalinya, tidak menjawab juga. Aku heran, kemana Ibuku, Aku tanya abang ku yang ke 2, katanya ibu ada didalam rumah.
“Di dalam rumah, mungkin dikamarinya”. Celotehan abangku yang paling tampan.
Karena aku malas untuk membuka sepatu, aku panggil saja dari luar rumah. Lumayan lama aku menunggu, sampai-sampai aku tertinggal jauh oleh abang pertamaku. --Abang pertamaku berangkat duluan naik motor dibonceng si bungsu--
Terdengar suara langkah kaki mendekat kebelakang rumah, dan ternyata itu ibuku. Dengan mata memerah, wajah penuh dengan air mata, dan ia tak bisa berbicara karena sesak pasti rasanya.
Ternyata ibu ku tidak bisa menahan air mata dan kesedihannya setelah abang pertamaku merantau kembali, hijrah mencari nafkah ke luar negeri.
Karena takut terlihat lemah oleh anak-anaknya, ibu memutuskan untuk masuk kamar dan merahasiakan tangisnya dengan pelan. Agar hanya ia dan Allah yang tahu.
Itulah pertama kali aku melihat ibuku menangis, hidupku didunia sudah 22 tahun lamanya, namun baru kali ini aku melihat ibuku menangis.
Dari peristiwa itulah aku selalu berkaca-kaca. Ternyata Ibu ku yang terlihat kuat selama ini, bukan ia tak pernah menangis. Tetapi, ia selalu menangis dalam rahasia, karena tidak ingin anak-anaknya ikut bersedih, ia tidak tega beban dirinya menjadi beban anaknya.
Pantaslah Rasullullah sallallahu alaihi wasallam memerientahkan umatnya untuk berbakti kepada seorang ibu.
Karena tidak ada keikhlasan yang terbesar didunia ini, melainkan ke ikhlasan seorang Ibu kepada anaknya.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.








