5. Ulang Tahun dan Kematian
Ini adalah hari dimana Allah membuktikan kekuasaannya, membuktikan betapa kita sendiri ternyata tidak mampu menggenggam apa yang sudah kita punya jika Allah bukan nyatakan lagi itu sebagai ‘titipan’ atas nama kita. Allah juga bisa biarkan kita menjalani hidup sebagaimana biasa dengan nikmat yang kita sadari ataupun tidak—jika Allah memang berkehendak seperti itu.
Hari Senin kemaren, salah satu sahabat saya @amileasukaoreo berulang tahun. Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur yang panjang pada Ami, masih Allah beri kesempatan kami bersilaturahmi sekalipun dalam jauh, masih Allah berikan kesehatan dan kekuatan serta kebaikan pada Ami yang Insya Allah juga semakin cantik wajah dan akhlaknya di umur yang sekarang ini.
Di satu sisi lain, di hari yang sama seorang sahabat, Zoppya Nurul Akhlak, teman satu jurusan sekaligus satu kelembagaan di fakultas, qadarullah meninggal dunia pada siang hari di RS. Dharmais Jakarta. Hari ini dikuburkan setelah diurus jenazahnya kemarin dari Jakarta. Beliau divonis kanker beberapa bulan yang lalu dan sudah menjalani ikhtiar pengobatan ke beberapa rumah sakit, termasuk ke Melaka. Dari keluarganya juga sempat melakukan funding untuk donasi pengobatan Oppy di salah satu platform donasi. Alhamdulillah saling share informasi dan donasi, ditanggapi begitu positif oleh teman seangkatan dan teman oppy di tempat lain. Akan tetapi Allah berkata lain. Keadaan Oppy semakin menurun sebelum akhirnya beliau berpulang ke rahmatullah di hari itu.
Sahabat saya yang lain, Atika, yang juga sedang di Jakarta mendampingi sampai detik terakhir Oppy. Mendengar cerita dari Tika, saya yang di Bogor juga sedih sekali karena saya masih di kampus dan tidak akan terkejar ke Jakarta untuk melihat Oppy karena jenazah Oppy langsung dibawa ke Padang.
Hari itu, betapa Allah tunjukkan dua keadaan yang bertolak belakang untuk kami jadikan muhassabah. Pagi harinya saya masih dengan happy mencari foto Ami (yang terjelek tentu saja) untuk dijadikan status update, tapi filenya ada di memori handphone lama jadi mau nunggu pulang ke mess dulu. Sambil menunggu waktu pulang, bada zuhur tiba-tiba berita duka berpulangnya Oppy sudah ramai di grup LPII. Saya langsung terdiam.
Kemudian berusaha mencerna berita ini, langsung tarik pikiran yang panjang tentang kejadian hari ini.
Betapa umur seseorang memang tidak ada yang tahu sampai mana batasnya. Tidak ada yang tahu di ulang tahun mana, kita masih bisa berjuang di dunia. Kita tidak tahu di hari kematian siapa justru umur kita ‘bertambah’, sedang diberi kesempatan untuk bisa merasakan nafas yang lebih panjang. Kita tidak pernah tahu pada keadaan seperti apa, pada konstribusi sejauh mana, pada manfaat sebanyak apa—atau bahkan pada saat dosa ghibah yang mana lagi—kita akan dimatikan nantinya. Sampai saat ini dua kejadian ini masih terngiang-ngiang di kepala saya.
Kalau kata Ami yang sedang berulang tahun pada hari itu kebetulan juga mengetahui kabar duka ini, “Hari ini, ada yang terlahir, mengulang tanggal lahir, bahkan ada yang meninggal, mengingat tanggal ini sebagai tanggal seseorang telah dilahirkan dan dipulangkan. Sungguh hidup dan mati itu singkat, seolah hanya berjarak antara adzan dan sholat”
Teruntuk Ami, selamat ulang tahun dan bermuhassabah diri. Semoga Allah selalu melindungi Ami dan memberikan kesempatan bagi Ami agar menjadi kebaikan dan kebahagiaan serta kebermanfaatan bagi orang-orang sekitar Ami, begitu pula sebaliknya mereka kepada Ami.
Teruntuk Oppy, perjuangan Oppy di dunia sudah selesai. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi takut. Semoga sakit yang Oppy rasa menjadi pengugur dosa dan pahala tersendiri bagi Oppy, serta semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Oppy di sisi-Nya. Al-fatihah.