Aku menyesal, penuh dengan penyesalan dan rasa kesal pada diriku sendiri, juga untuk lingkunganku.
Betapa bodohnya diriku ini. Bahkan pisuhan yang selalu aku benamkan untuk tidak aku ucapkan, aku ucapkan dengan keras kepada diriku yang bodoh ini. Apa yang sudah aku lakukan? Bodohnya diriku. Sebuah penyesalan.
“Aku menyesal berjumpa dengan Anda.” Anak ini anak bermasalah, dan benar, anak ini memang pembuat masalah. “Anda terlalu jatuh pada bawa perasaan.”
Ini anak bermasalah, tapi salah satu kawanku bilang butuh anak itu untuk menambahi tenaga kerja. Aku hanya malas mengiyakan. Dipertemuan pertama petang hari itu, anak itu hanya terbaca auranya, bermasalah. Anak itu datang, berbincang dengan kawanku. Kata salah satu anak event yang aku jalani, anak itu bisa ngurusi web. Aku tanya beberapa hal terkait web. “oh, ini anak jadinya bisa apa?” Semua hal yang aku tanyakan hanya dijawab tidak tahu arah. Aku malas menanggapi, formalitas saja. Kawanku bilang, dah dipake dulu saja siapa tau bisa yang lain. Kawanku bilang, anak itu bisa sedikit membantu menggambar. Padahal disaat itu, cukup aku dan kawanku saja sudah aku rasa cukup. Desakan panglima-panglima saja yang memerintah menambahi orang. Aku terpaksa saja berbuat baik, demi event itu.
Mungkin aku terlalu buat baik, tapi bukankah aku juga berbuat baik dengan orang-orang lain. Bila hasil karya agak bagus, aku jawab lumayan bagus. Bila orang-orang sekitar belum makan, aku tanya sudah makan belom. Apakah salah bila aku perbuat baik? Ya, aku jelas salah, karena aku berurusan dengan anak bermasalah yang tidak pernah memandang salah dan benar. Apakah anak itu mengira tingkah laku itu untuk anak itu? Itu untuk orang-orang yang stres mikir event besar nan kurang dana.
Aku menyesal berbicara dengan anak itu. Anak itu berbicara dengan egonya. Sedang aku, ya salahku lagi, menanggapi obrolannya. Obrolan tentang agama dan filsafat hidup. Obrolan yang aku pikir itu menimbulkan polemik. Karena pemikiran anak itu hanya berdasarkan pengalaman dan ego yang besar. Sekuler, bertentangan pada hukum agama. Islam, Kristen, Katolik, Buddha Hindu hidup dan mati. Ini anak terjerumus rumusan konspirasi. Ya sudahlah, cuma kuisi waktuku supaya kerjaan-kerjaan itu lekas kelar. Penghilang stres, menanggapi statement bodohnya, aku hanya tertawa. Tapi salahku juga menanggapi. Aku meyesal. Lebih baik aku diam tanpa merespon.
Apa yang aku lakukan di depan anak itu berlaku pula untuk orang-orang lain, sebagai pencair suasana. Hahahihi pada guyonan receh nan bodoh. Aku sudah terlalu stres dengan pesenan desain orang-orang yang meminta kualitas dan kuantitas bagus. Kuhabiskan malam dengan temanku hanya untuk membuat sebuah gambar bergerak beberapa detik. Siang malam kami berdua kerjakan. Aku suntuk, aku stres. Aku dan kawanku cairkan suasana bukan buat tampak lucu di depan anak itu, itu buat cairkan suasana karena suntuk lihat wajah-wajah orang-orang yang stres di sekitarku. Kok ya dikira buat anak itu, aku sangat menyesal.
Aku ucap salam sapa kepada semua orang yang berpapasan. Apa yang aku lakukan adalah basa-basi. Aku malas betul. Kebetulan saja anak itu lewat, dan sekadar aku sapa. Formalitas, basa-basi. Kenapa aku begitu bodoh?
Sebuah rasa sesalku. Atas apa yang aku lakukan. Aku sangat menyesal. Aku kesal dengan betapa bodohnya diriku. Bodohku menanggapi sedih anak itu. Anak itu menelpon di malam hari. Sudah kukatakan buat menelpon orang lain, salah satu temenku saja. Entah anak itu berbicara apa. Aku malas dengerin. Badan sudah capek mikir desain-desain bergelimpangan. Untung saja aku tinggal tidur, kalau tidak, jelas aku tambah menyesal. Aku merasa begok, mengapa aku harus berterima kasih ketika anak itu memberikan susu kemasan. Etisnya memang harus berterimakasih, tapi aku justru menyesal bilang terima kasih. Mengapa aku bodoh sekali, anak itu bermasalah.
Apakah sebuah kebaikan dan tingkah etis akan selalu Anda bawa ke perasaan? Sungguh aku menyesal. Benar kata sahabat perempuanku, ini anak itu bermasalah. Aku menyesal dan aku kesal dengan diriku. Bila aku bisa mengulang waktu, hanya satu kata “Just Prek”.
“Aku menyesal berjumpa dengan Anda.”
Filosofi Jemuah Kliwon. Hidup kok cuma bisa murung. Hidup kok sedih aja. Payah. Aku berbuat baik bukan buat Anda. Aku berbuat baik untuk orang-orang di sekitarku. Salam Kasih untuk UmatMu di bumi.