Semua Orang Berubah dan Kita Harus Terbiasa
*) Judul ini saya copy-paste dari Podcast Subjective by Iqbal Hariadi (bisa kamu dengar di Spotify). Bukan apa-apa, hanya saja tulisan ini memang kena trigger dari sana dan aku merasa ini topik yang cukup menarik-- jadi aku ingin bahas juga di sini :)
Dulu aku pernah dengar anggapan begini, “semakin dewasa, circle pertemanan akan semakin mengecil”. Setelah melewati beberapa titik jatuh bangun yang mendewasakan, aku sepakat dengan Iqbal bahwa semua orang berubah dan kita harus terbiasa.
Di usia seperempat abad ini aku merasa perubahan orang-orang di sekitar dalam konteks pertemanan berubahnya drastis banget. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, yang dulunya seminggu sekali bahkan tiap hari ketemu sekarang berasa punya kehidupan di belahan bumi yang berbeda. Kalau mau ‘say hi’ aja harus mikir-mikir, kira-kira dia sibuk nggak ya, keganggu nggak ya (ah, atau aku yang terlalu pemikir ya?).
Bagiku di kondisi seperti sekarang nggak semua orang nyaman dengan basa-basi semacam “lagi sibuk apa”, “sekarang kerja di mana”, “udah sampai mana skripsinya”, “jadi lanjut S2?”. Bahkan, sekadar tanya kabar aja kadang bisa ngebuka luka-luka yang mungkin sedang dalam penyembuhan.
Apalagi aku sempat mengalami fase di mana menghindari komunikasi lewat gawai, bahkan hampir setahun diet media sosial, bikin ‘close friends’, bisukan banyak kontak dan bikin privasi di WhatsApp.
Kondisi semacam ini (pandemi) memang membuat semua orang banyak belajar, beradaptasi, berjuang, mencoba hal baru, mengambil kesempatan langka dan banyak perubahan lainnya. Bahkan, aku akui aku pun banyak berubah at least hampir 2 tahun ini. Nggak bisa dimungkiri jika banyak hal yang terjadi dan mengubah beberapa sudut pandangku terhadap sesuatu.
Aku percaya bahwa setiap orang juga mengalami perubahan. Kalau kata Iqbal, semua orang itu selalu bergerak seperti grafik yang punya sumbu X dan Y. Geraknya selalu maju, tapi yang namanya grafik itu punya titik naik dan turun. Sayangnya, kita nggak tahu grafik seseorang itu sedang berada di titik yang mana. Kita hanya tahu seseorang berubah, tapi nggak tahu sedang berada pada titik yang seperti apa.
So, kita harus menghargai setiap perubahan seseorang, karena yang namanya orang hidup itu pasti berubah. Justru kalau kita nggak berubah itu yang harus dipertanyakan. Jangan-jangan selama ini nggak ada progres apa pun yang jalan, jangan-jangan nggak bisa belajar, nggak bisa adaptasi dan sebagainya.
Everything change, but it’s ok! Because this is life.
Pernah nggak sih, kamu ngalamin hal pas kamu ngobrol langsung atau chat sama teman yang dulu akrab tapi tiba-tiba merasa “kok dia berubah ya, lah kok serius banget bercandanya, eh kok awkard sih, wah udah beda nih pola pikirnya”. Akhirnya jadi mikir beberapa teman emang udah nggak sefrekuensi lagi, bahkan ada yang dulu cuma kedipin mata langsung konek dan ketawa bareng, sekarang jadi aneh kalu kedipin mata dikira genit atau kelilipan~
Aku sempat berpikir bahwa lingkar pertemananku sekarang udah kecil banget, meski aku punya banyak teman. Ibaratnya begini, jika dulu aku punya 10 orang teman yang biasa nongkrong bareng, sekarang mungkin hanya beberapa aja yang masih nyambung buat ngobrol. Tapi nggak tahu juga ya, kalau ketemu langsung, karena udah setahun lebih nggak ketemu teman, huhu~ Apalagi nggak ada yang keep in touch lewat chat (yaampun ngenes), kecuali ada hal penting, atau sekadar komen story. Nah, ini juga salah satu perubahan dalam pertemanan.
Aku pernah baca buku karya Azhar Nurun Ala, tapi lupa judulnya. Kata Azhar begini, “seseorang berubah karena buku yang mereka baca dan orang-orang yang ia temui”. Aku sih sepakat ya sama Azhar, bahkan sekarang video viral beberapa detik yang ditonton pun bisa mengubah sudut pandang seseorang pada suatu hal. Apalagi buku dan orang-orang yang ditemui, mungkin juga bisa kasih pengalaman bermakna sampai bisa mengubah sudut pandang, prinsip dan perilaku seseorang.
Apalagi pertemanan yang udah setahun atau lebih nggak ketemu, pasti ada hal-hal yang berubah. Ini sih yang sempat membuatku insecure, pas banyak teman-teman sekolah udah punya kerjaan yang mapan, punya pasangan, bahkan berkeluarga, dan membuat mereka berubah-- at least nggak bisa bebas nongkrong seperti dulu, obrolan pun udah nggak nyambung lagi.
Kalau kata Iqbal, setiap orang punya musimnya sendiri-sendiri. Ada musim di mana kita bekerja keras buat karier jadi butuh banyak network, menjalin relasi dan sebagainya. Ada pula musim di mana kita cari pasangan, yang otomatis juga bisa mengubah satu-dua hal dalam pola pikir. Kemudian musim ketika memutuskan berkeluarga dan punya anak yang bikin prioritas jadi berubah. Setiap musim berubah, pasti orang akan berubah pula, entah itu pola pikir, sudut pandang dan prioritas dalam hubungan sosial.
So, kita harus menerima kalau ada teman yang udah nggak sefrekuensi lagi, karena mungkin musimnya yang beda.
Hal inilah yang membuat circle pertemanan orang dewasa mengecil, seolah-olah terseleksi oleh alam dengan sendirinya. Semakin hari, ngajak teman ngumpul di akhir pekan nggak segampang zaman masih kuliah atau masa-masa sekolah dulu. Kalau pun bisa ngumpul, pasti janjiannya jauh-jauh hari pas semuanya bisa atau dadakan sekalian (yang bisa dateng seolah-olah sebagai suatu kebetulan).
Setiap kita akan bertumbuh di musim yang berbeda-beda. Bahkan, meski musimnya sama, kadang badai yang dilalui juga bisa beda. Setiap orang bertumbuh, tapi belum tentu arah tumbuhnya akan sama. Makanya ada yang namanya teman hidup-- mereka adalah dua orang terpilih yang semua perubahannya harus (bisa) saling menyesuaikan dan menerima satu sama lain supaya arah bertumbuhnya bisa sama.
Pernah dengar nggak soal nasihat jodoh yang bilang begini, kalau jodohmu belum datang atau selalu merasa kurang sreg, maka fokus aja perbaiki diri (bagian dari usaha). Saat diri kita berubah dengan baik, maka akan ketemu dengan orang (jodoh) yang sefrekuensi, at least punya arah bertumbuh yang sama dan pas dengan perubahan-perubahan yang kita alami.
Well, aku pikir menerima setiap perubahan dari orang-orang di sekitar adalah salah satu cara berdamai dengan keadaan alias menerima realita bahwa hidup itu bergerak.
Kalau ada satu dua hal dari orang yang dulu akrab dan sekarang udah berasa beda, maka nggak usah minder, nge-judge, overthinking, merasa kehilangan teman dan sebagainya. Simpel aja dengan berpikir bahwa, everyone has their own season. People come, people change and people go, but it’s OK!
Dwiraa | Banjarnegara, 20 Oktober 2021













