Yang kita lakukan setiap hari; Berdoa
Tulisan pertama yang mengawali 2022 dengan #30haribercerita ini (yang seluruhnya insyaaAllah akan tertuang dalam ruang instagram: kita.sementara) sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada Allah yang telah memanjangkan usia diri hingga masih bernafas detik ini.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Bahagianya hati dan bersyukurnya diri, sebab terlahir sebagai seorang Muslim.
Seorang mualaf berkata, "Islam bukan sekedar agama. Islam adalah agama yang selalu mengingatkan hambanya kepada tuhannya."
Bagaimana tidak? Dalam Islam, setiap hari kita melakukan ibadah sebanyak lima kali. Dari sebelum matahari terbit, matahari bersinar, meredup, tenggelam, berganti malam, di penghujung malam, hingga mendekati terbit, kita terus beribadah. Bahwasannya benar bahwa hidup adalah menunggu dari satu waktu adzan ke waktu adzan berikutnya.
Bukan hanya itu, dalam Islam juga kita selalu berdoa—sebagai bentuk syukur, juga meminta perlindungan, serta mengagungkan kebesaran tuhan. Ketika hendak makan kita berdoa, selesai makan kita berdoa, hendak keluar rumah kita berdoa, berkendara kita berdoa, hendak masuk kamar mandi kita berdoa, keluar dari kamar mandi kita berdoa, hendak tidur kita berdoa, bangun tidur kita berdoa, mendengar hujan kita berdoa, mendengar petir pun kita berdoa. Tentu masih banyak dalam hal lainnya.
Bahkan saat bercermin pun kita berdoa, mengingat pencipta kita. Yang tadinya mungkin hinggap perasaan ujub atau berbangga diri dengan keindahan parasnya, berganti menjadi mengingat penciptanya lalu bersyukur. Begitu pula ketika sedang insecure dan merasa banyak kekurangan dalam fisik diri, kemudian berdoa mengingat tuhannya, lantas bersyukur sebab menyadari bahwa tuhannya telah menciptakannya dalam bentuk sebaik-baiknya.
"Oh mungkin kalau aku diberikan wajah secantik Maudy Ayunda, barangkali aku tidak dapat mengendalikan perasaan ujub yang singgah ke dalam hatiku."
"Oh mungkin aku tidak secantik dia karena Allah ingin melindungiku dari segala fitnah yang mungkin membahayakanku."
Diri ini sempat juga sering bertanya-tanya sendiri, "kira-kira ada yang mau menerimaku sebagai teman hidup tidak, ya?"
Lalu disadarkan kembali bahwa bagian itu bukan tugas kita, tetapi tugasNya. Berusaha memantaskan diri, mendekat dan berdoa kepadaNya untuk meminta teman hidup sebaik-baiknyalah yang menjadi tugas kita. Yang menakdirkan ada atau tidak ataupun siapa orangnya adalah Dia.